Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Buya Hamka dan Filsafat

Ahad 18 Oct 2020 10:14 WIB

Red: Muhammad Hafil

Buya Hamka dan Filsafat. Foto: Buya Hamka dan isterinya

Buya Hamka dan Filsafat. Foto: Buya Hamka dan isterinya

Foto: Google.com
Filsafat adalah aspek pemikiran yang unik dari pribadi Buya Hamka.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Akmal Syafril

Filsafat adalah aspek pemikiran yang unik dari pribadi Buya Hamka. Ulama besar yang bernama lengkap Haji Abdul Malik bin Abdulkalim Amrullah ini memiliki referensi yang sangat luas dalam topik seputar filsafat dan beliau tidak pernah canggung dalam mengulas pelbagai masalah dari sudut pandang filsafat.

Hamka dikenal memiliki etos belajar otodidak yang sangat tinggi. Selain mengkaji kitabkitab para ulama, ia pun kerap kali meneliti karya-karya para filsuf Barat, baik klasik mau pun modern. Pemikiran Socrates, Plato, Aris toteles, hingga Tao dari negeri Cina dijadikannya bahan perbandingan dalam membahas soal-soal ajaran Islam.

Dalam salah satu karyanya yang berjudul Pelajaran Agama Islam, Hamka membahas rukun iman secara apik, juga dengan menggunakan sudut pandang filsafat. Pada bagian mukadimah dalam buku itu, Buya Hamka men jelaskan bahwa setelah Nabi saw wafat, pe radaban Islam bertemu dengan berbagai pe mi kiran filsafat dari luar. Peradaban ilmu yang telah terbangun kemudian mendorong pa ra cendekiawan Muslim untuk menerjemah kan berbagai karya filsafat dari Yunani.

Ketika bertemu dengan filsafat Yunani itulah, adakalanya, muncul keraguan di antara umat Islam terhadap agamanya sendiri. Maka, Islam pun melahirkan pemikiran filsafatnya sendiri dan sebagian cendekiawan terlibat aktif dalam mempertahankan agama dari serangan filsafat dengan menggunakan filsafat pula.

Hamka menggarisbawahi bahwa kaum Mu’tazilah memiliki andil besar dalam melawan filsafat dengan filsafat ini. Namun, amat disayangkan bahwa niat suci tersebut dinodai juga oleh cara-cara yang keluar dari garis yang ditentukan oleh agama itu sendiri. Itulah sebabnya banyak pemikiran Mu’tazilah yang tak dapat diterima oleh jumhurulama hingga masa kini.

Pengayaan agama dengan filsafat ini tentunya bukan menjadi milik Mu’tazilah semata karena tokoh-tokoh lain seperti al-Asy’ari, al- Maturidi, dan Imam al-Ghazali pun memiliki andil yang tidak sedikit. Buya Hamka sendiri memiliki ketertarikan khusus pada al-Ghazali. Menurut Hamka, al-Ghazali adalah salah satu dari sedikit ulama yang mampu melawan filsafat dengan filsafat, sekaligus mengembalikan tasawuf ke dalam batasan-batasan yang dibenarkan oleh agama.

Catatan penting lainnya yang diberikan oleh Hamka di bagian pengantar dan muka dimah dari buku Pelajaran Agama Islamada lah me nge nai urgensi pengembangan pemi kir an itu sendiri. Menurutnya, umat Islam di masa lampau pernah mengalami masa-masa ‘kebekuan’ sehingga pemikirannya tidak ber kembang.

Sebaliknya, pada saat peradaban Islam mulai mengalami antiklimaks tersebut, peradaban Barat justru tengah giat-giatnya mengembangkan pemikiran yang ironisnya justru mengambil semangat kemajuan dan pencerahan yang diambilnya dari Islam.

Ke ma juan hanya bisa diraih jika umat Islam be rani melahirkan pemikiran-pemikiran yang revolusioner dengan tetap berpegang pada tuntunan agama sebagaimana yang dilakukan oleh al- Ghazali. Tentu saja, orang yang ber ilmu tinggi bisa menyempurnakan atau mengoreksi gagasan para ulama lain. Hanya de ngan tradisi keilmuan seperti inilah umat Is lam dapat kembali mencapai kedigdayaannya.

Menurut Buya Hamka, filsafat itu tidak terhindarkan kehadirannya karena adanya akal pikiran manusia itu sendiri. Karena manusia memiliki akal, pastilah ia memikirkan hakikat dari segala sesuatu yang bisa diobservasi nya. Karena kehadiran perasaan dalam hati manusia, niscaya ia pun dapat merasakan keindahan dari segala keteraturan di alam semesta ini, sebagaimana ungkapan Hamka: “Pandanglah dia di dalam kebebasan laut dan kebesaran bukit dan gunung. Keindahan matahari seketika terbit dan seketika terbenam dalam keindahan bentuk dan keindahan warna. Sehingga pun angin sepoi yang melambai pada serumpun bambu di pinggir hutan, sehingga menimbulkan bunyi kicut penggeseran di antara suatu batang dengan batang yang lain, pun mengandung ajaibnya keindahan. Alam yang luas itu kelihatan hening, tetapi dia senantiasa bekerja. Tiap dipandang tiap tampak suatu keganjilan.”

Keteraturan inilah yang menjadi bahan kajian bagi para ahli sains. Dari pintu mana pun kita masuk, menurut Hamka, baik dari ilmu logika, ilmu hitung, ilmu ukur maupun kimia, kita akan melihat bahwa alam semesta ini diperintah oleh suatu keteraturan. Ilmu manusia hanya mampu mengenali keteraturan tersebut dan memanfaatkannya, tanpa pernah mampu menciptakan aturanaturan baru. Oleh karena itu, bagi orang beriman, semakin maju ilmu pengetahuannya, semakin bertambah pula imannya.

Keteraturan adalah bukti bahwa segala sesuatu di alam ini tidaklah bebas. Jika setiap zat dibiarkan bebas sendiri, tentu akan kacaulah segala sesuatunya. Jika dikatakan bahwa segalanya terjadi karena kebetulan, sebab segalanya dapat bebas menentukan nasibnya sendiri, hal itu pun patut dipertanyakan. Sebab, kemerdekaan masingmasing zat itu hanya bisa dibuktikan jika kita dapat melihat perlainan jalannya. Namun, semakin diselidiki, semakin jelaslah bahwa aturan itu memang ada dan dengan sendirinya, Yang Maha Mengatur itu pastilah ada. Jika membuktikan keberadaan Tuhan itu begitu sulitnya, maka untuk menyatakan ketiadaannya, justru lebih sulit lagi.

Menurut Hamka, ujung dari filsafat itu ti daklah lain dari mengumpulkan berbagai pe mikiran tentang dua soal, yaitu ada dan tiada. Sejauh apa pun filsafat berkembang, tidaklah ia keluar dari dua persoalan tersebut. Adapun jika keduanya tidak lagi dibicarakan, bukan berarti soal tersebut sudah tidak ada lagi.

Inilah batas dari kemampuan akal manu sia. Akal manusia mendorongnya untuk me mikirkan hakikat dirinya, hakikat alam se mes ta, hakikat hidupnya, dan tentunya juga mempertanyakan siapa Penciptanya. Akan tetapi, sedalam dan sejauh apa pun akal membimbingnya, pada akhirnya berhenti pada suatu batas yang tak dapat dilalui lagi meskipun manusia tetap ingin melampaui nya. Untuk itu, manusia harus mengikuti jalan lain sebagaimana penjelasan Buya Hamka: “Di sinilah nyatanya kasih Tuhan Yang Ma hatinggi terhadap kepada hamba-Nya. Di sam paikannya perjalanan itu kepada ujungnya, tidak lagi terhenti di tengah jalan karena ti dak ada kesanggupan lagi. Diberi-Nya ma nusia itu pimpinan.

Diutusnya Rasul-rasul-Nya memberitahukan perkabaran itu. Diberi-Nya jembatan yang te guh dan kuat untuk memperhubungkan alam kenyataan dengan alam gaib. Diberi-Nya kenyataan siapa yang menjadikan dan menguasai alam ini. Diberi-Nya petunjuk bahwa di bela kang hidup yang sekarang ini, ada lagi hidup yang lebih kekal dan mulia.”

Dari tangan dingin Hamka, kita dapat mendudukkan filsafat pada tempatnya; bukan sebagai pihak yang superior di hadapan tuntunan agama, melainkan sebagai alat untuk memperdalam pemahaman kita terhadap agama. Tanpa bimbingan agama, niscaya filsafat itu hanya menghasilkan keragu-raguan, bahkan kesia-siaan. 

Akmal Syafril
Alumnus Program Kader Ulama DDII-Baznas

 

Baca Juga

*Tulisan ini pernah dimuat di Harian Republika pada 21 Juli 2011

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA