Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Fokus BATAN 5 Tahun, dari Bidang Pangan Sampai Kesehatan

Ahad 18 Oct 2020 07:07 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Dwi Murdaningsih

Petani memanen padi bibit unggul tanpa bahan kimia di lahan Kantor Balai Penyuluhan Pertanian di Kecamatan Samaturu, Kolaka, Sulawesi Tenggara, Kamis (1/10/2020). Bibit padi unggul varietas inpari sidenuk tersebut merupakan hasil riset dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) bekerja sama dengan Komisi VII DPR yang bertujuan untuk memperoleh bibit unggul padi tanpa menggunakan bahan kimia dengan hasil ubinan mencapai 7 ton per hektare.

Petani memanen padi bibit unggul tanpa bahan kimia di lahan Kantor Balai Penyuluhan Pertanian di Kecamatan Samaturu, Kolaka, Sulawesi Tenggara, Kamis (1/10/2020). Bibit padi unggul varietas inpari sidenuk tersebut merupakan hasil riset dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) bekerja sama dengan Komisi VII DPR yang bertujuan untuk memperoleh bibit unggul padi tanpa menggunakan bahan kimia dengan hasil ubinan mencapai 7 ton per hektare.

Foto: JOJON/ANTARA
Nuklir bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan termasuk kesehatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) memasang sejumlah fokus pengembangan yang tertuang dalam RPJMN 2020-2024. Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan mengatakan Batan akan fokus pada pengembangan nuklir untuk pemanfaatan di bidang pangan, lingkungan, kesehatan, energi, industri, hankam, dan material maju.

"Batan sebagai koordinator untuk uji kelayakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), sistem pemantauan radiasi lingkungan, radioisotop, dan radiofarmaka," katanya dalam pertemuan virtual dengan Republika, Jumat (16/10).

Dalam PLTN, Batan diberi tugas untuk menyiapkan segala infrastruktur PLTN dalam fase pra-project. Seperti melakukan feasibility study atau studi kelayakan, studi dampak dan non dampak dengan lokasi studi kasus di Kalimantan Barat.

Anhar mengatakan ini adalah kegiatan awal sebelum menentukan keputusan apakah akan dibangun atau tidak. Ini merupakan fase analisis dan pengkajian. Termasuk menghitung dampak industri, ekonomi, dan lainnya. Batan bekerja sama dengan sejumlah pihak untuk proses ini.

Selain itu, Batan juga fokus pada sistem pemantauan radiasi untuk keselamatan dan keamanan. Ia mengatakan radiasi bisa terjadi dimanapun, bahkan yang tercipta oleh manusia. Maka dari itu, Batan mencoba melakukan pemantauan terhadap risiko radiasi di lingkungan.

Selanjutnya dalam mengembangan radioisotop dan radiofarmaka. Ini menjadi salah satu fokus utama karena pasarnya sangat besar. Pengembangan nuklir untuk kesehatan ini sangat dibutuhkan pasar.

Seperti radiofarmaka dibutuhkan untuk pengobatan kanker. Mayoritas kebutuhan radiofarmaka yakni sekitar 80-90 persen masih dipenuhi oleh impor. Padahal Indonesia punya potensi besar dalam pengembangannya.

Indonesia punya reaktor  GA Siwabessy di Serpong dengan kapasitas atau daya reaktor 30 MW untuk memproduksi radiofarmaka. Anhar mengatakan saat ini Indonesia ketinggalan dari Australia yang bahkan hanya memiliki reaktor dengan daya 20 MW tapi bisa menguasai pasar radiofarmaka di seluruh dunia.

"Maka ini jadi program utama kami untuk perbaiki ekosistem radiobiofarmaka, karena kami tidak bisa berdiri sendiri, perlu bantuan semua pihak terutama PT Inuki yang jadi produsennya," katanya.

Selain itu, Batan juga mendukung penggunaan nuklir untuk penciptaan varietas unggul di pangan melalui proses radiasi. Kemudian pengembangan vaksin hewan, baterai lithium, penanggulangan stunting, pemanfaatan mineral dan lainnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA