Wednesday, 4 Rabiul Awwal 1442 / 21 October 2020

Wednesday, 4 Rabiul Awwal 1442 / 21 October 2020

Australia Mulai Terapkan Penerbangan tanpa Karantina

Sabtu 17 Oct 2020 06:27 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nora Azizah

Penumpang penerbangan yang tiba di Australia tak lagi diminta untuk karantina (Foto: ilustrasi)

Penumpang penerbangan yang tiba di Australia tak lagi diminta untuk karantina (Foto: ilustrasi)

Foto: EPA-EFE/DEAN LEWINS AUSTRALIA AND NEW ZEALAND
Penumpang penerbangan yang tiba di Australia tak lagi diminta untuk karantina.

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY -- Australia sudah menerapkan penerbangan tanpa karantina. Salah satu pesawat yang menikmati fasilitas pertama kali tersebut adalah penumpang dari Air New Zealand pada Jumat (16/10).

Melansir reuters, Sabtu (17/10), sebanyak ratusan penumpang pesawat Selandia Baru itu mulai tiba di Sydney sebagai bagian dari gelembung perjalanan baru di tengah penurunan dalam kasus-kasus wabah virus Covid-19 Australia. Dalam pembukaan kembali pariwisata internasional, wisatawan dengan penerbangan yang disetujui tidak akan diminta untuk karantina di Sydney.

Wisatawan dari Selandia Baru dengan penerbangan 'tanpa karantina' akan dapat pergi ke New South Wales, Wilayah Ibu Kota Australia dan Wilayah Utara tanpa harus menjalani karantina pada saat kedatangan. Sekitar 90 persen dari mereka yang bepergian dengan Air New Zealand melakukan perjalanan satu arah.

Kondisi ini sesuai dengan peraturan Selandia Baru yang masih mengetatkan pihak luar yang ingin masuk. Selandia Baru masih mengharuskan penerbangan kedatangan untuk dikarantina selama dua minggu di bawah pengawasan dengan biaya 3.100 dolar NZ untuk orang pertama dan biaya tambahan untuk anggota keluarga lainnya.

Perdana Menteri negara bagian New South Wales, Gladys Berejiklian,  berharap Selandia Baru akan melonggarkan pembatasan bagi orang-orang yang datang dari Australia segera. "Ini adalah langkah pertama yang penting dalam mengembalikan perjalanan internasional dan kami berharap Perdana Menteri (Jacinda) Ardern membalas budi dalam waktu dekat," kata Berejiklian, merujuk kepada pemimpin Selandia Baru.

Berejiklian menyatakan, hanya ada satu kasus baru penularan lokal di New South Wales dalam 24 jam terakhir. Dia ingin mengumumkan pelonggaran lebih lanjut tentang pembatasan minggu depan jika jumlah kasus tetap rendah.

Meskipun Australia telah mengalami gelombang kedua infeksi, jumlah kasusnya cenderung rendah dibandingkan dengan wabah di sebagian besar Eropa dan Amerika Utara. Dengan pengecualian mereka yang tinggal di negara bagian tenggara Victoria, kebanyakan orang di Australia hanya mengalami pembatasan pandemi sederhana, dengan batasan pertemuan saja.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA