Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Kampanye Presiden AS Ramaikan Israel

Sabtu 17 Oct 2020 05:48 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Teguh Firmansyah

  Capres petahana Amerika Serikat ( AS) Donald Trump dan penantangnya Joe Biden memulai debat pertama pemilihan umum AS yang digelar di Case Western Reserve University, Cleveland, AS, Rabu (30/9) WIB.

Capres petahana Amerika Serikat ( AS) Donald Trump dan penantangnya Joe Biden memulai debat pertama pemilihan umum AS yang digelar di Case Western Reserve University, Cleveland, AS, Rabu (30/9) WIB.

Foto: AP/Morry Gash/AP Pool
Baik Repubik maupun Demokrat memperebutkan suara Amerika-Israel.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Poster “Anda harus berterima kasih kepada Trump” dalam bahasa Ibrani tiba-tiba mulai muncul di minibus di Tel Aviv pekan ini. Iklan dari Partai Republik ini membawa perlombaan menuju Gedung Putih ke jalan-jalan Israel.

Demokrat juga menargetkan orang Amerika-Israel. Mereka memberi diskon 40 persen dengan layanan kurir DHL untuk pemilih yang negara bagian asalnya mengharuskan surat suara dari luar negeri dikirim melalui pos.

Suara di wilayah mana pun sangat berharga menjelang pemilu Amerika Serikat (AS). Israel menjadi fokus kampanye karena banyak kewarganegaraan ganda Amerika-Israel yang terdaftar di negara bagian seperti Florida dan Pennsylvania.

Tapi, tidak ada laporan statistik yang dapat diandalkan tentang kecenderungan politik Amerika-Israel. Perkiraan para pihak tentang jumlah warga negara ganda yang memenuhi syarat di Israel berkisar antara 100 ribu hingga 300 ribu. Beberapa ahli yang melacak informasi tersebut mengatakan kemungkinan lebih dari 250 ribu.

Sedangkan Ketua Republik Sekitar Israel, Marc Zell, memperkirakan ada 25 ribu-30 ribu pemilih Florida yang memenuhi syarat di negara itu. “Itu bisa menjadi faktor penentu dalam kontes negara bagian itu,” kata Zell.

Setengah lusin pemilih Amerika-Israel yang diwawancarai oleh Reuters mengidentifikasi krisis virus Corona, kebijakan ekonomi, dan pendirian kandidat di Israel sebagai pemandu keputusan mereka. Pemilih dari kota Beit Shemesh, David Wiener menyatakan bahwa Trump adalah pilihan yang tepat dalam pemilihan November mendatang. Sosok Trump dinilai dapat mendekati konflik Timur Tengah yang sulit dari perspektif bisnis.

Presiden pejawat dari Republik, Donald Trump, memiliki pengaruh yang sangat besar di Israel selama masa jabatannya. Dia menyenangkan banyak warga Israel dengan mengakui Yerusalem sebagai ibukotanya dan memindahkan Kedutaan Besar AS ke sana dari Tel Aviv.

Selain itu, pada September, Trump menjadi tuan rumah untuk Israel, Uni Emirat Arab, dan Bahrain dalam menandatangani kesepakatan untuk menjalin hubungan formal. "Negara-negara Teluk melihat Israel sebagai peluang untuk memperluas industri mereka ... Trump memanfaatkannya dengan UEA," kata insinyur kedirgantaraan yang terdaftar di Pennsylvania itu.

Sedangkan pemilih dari New York, Hezi Kugler, mengatakan akan memilih Biden untuk membawa kembali ke kesusilaan dan pemulihan integritas di tingkat pemerintahan tertinggi. "Trump telah melakukan beberapa hal yang baik untuk kepentingan Israel, tetapi kurangnya kepemimpinan global telah menciptakan kekosongan yang sangat besar di kawasan yang umumnya buruk bagi Israel," kata profesional industri energi di Tel Aviv ini.  
Meskipun pemilu AS paling terlihat di Israel, ada juga banyak warga Palestina yang memiliki hak untuk memilih. Kedutaan Besar AS di Yerusalem telah mendorong pemungutan suara oleh kedua belah pihak. Salah satu cara dengan mengadakan acara Facebook Live dengan teks bahasa Arab yang ditujukan untuk penduduk Tepi Barat dan Gaza yang diduduki Israel.

Ketua Demokrat di Luar Negeri Israel, Heather Stone, menyatakan, dia bekerja dengan aktivis Palestina di Yerusalem Timur dan diaspora Palestina untuk memberikan suara. Dia mengaungkan keberpihakan Biden terhadap visi solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina.

Seorang aktivis Yerusalem Timur, Kefah Abukhdeir, mengatakan, warga Palestina di Tepi Barat dan Gaza menghadapi banyak hambatan untuk mengirim suara ke luar negeri. Salah satu masalah yang ditemukan adalah layanan pos yang tidak dapat diandalkan atau bisa disebut tidak ada. "Kami tidak terlalu beruntung mendapatkan pemilih di sini," kata Abukhdeir.

Terdapat sekitar 300 warga Amerika-Palestina tinggal di Gaza, salah satunya Kamal Abusharia. Dia berharap bisa memberikan suara untuk pertama kalinya sejak awal 1990-an karena kemarahan terhadap Trump. Meski begitu, dia tidak terlalu berharap bahwa Biden akan membalikkan semua tindakan Trump yang pro-Israel jika menang.

“Saya tidak berpikir bahwa Biden akan bekerja untuk (mengembalikan) kedutaan (ke Tel Aviv) atau mengembalikan masalah pengungsi Palestina ke atas meja,” kata Abusharia.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA