Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Berawal dari Ragu, Kaci Starbuck Jemput Hidayah Islam

Sabtu 17 Oct 2020 05:50 WIB

Red: Ani Nursalikah

Berawal dari Ragu, Kaci Starbuck Jemput Hidayah Islam

Berawal dari Ragu, Kaci Starbuck Jemput Hidayah Islam

Foto: Mgrol120
Kaci mulia mendalami Islam ketika masuk kuliah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kaci memiliki latar belakang agama yang taat sebelum memeluk Islam. Berbagai kegiatan rutin selalu dia jalani termasuk kewajiban sebagaimana yang dilakukan penganut agama terdahulunya sejak kanak-kanak. 

Ketika remaja, Kaci pernah menghadiri perkemahan dengan anggota yang lebih tua dari kelompok pemuda.  Meskipun tidak menghabiskan banyak waktu dengan mereka sebelumnya, mereka mengenali dia sebagai aktivis agama.  

Suatu malam di kamp ini seorang pria berbicara tentang pernikahannya.  Di AS berkencan adalah hal biasa. Namun, dalam budaya gadis pasangan pria tersebut, mereka hanya bisa bersama jika mereka memiliki wali.  Karena dia menyukainya, pria tersebut memutuskan terus menemuinya.  

Baca Juga

Mereka juga tidak boleh saling bersentuhan sampai dia melamar.  Begitu dia melamarnya, mereka diizinkan berpegangan tangan.

"Ini membuatku bingung, namun membuatku kagum.  Sangat indah untuk berpikir bahwa berhubungan seperti itu dapat langgeng sampai menikah," ujar dia.

Meskipun dia menikmati ceritanya, Kaci tidak pernah menyangka kejadian yang sama bisa terjadi lagi.  Beberapa tahun kemudian, orang tuanya bercerai dan peran agama berubah dalam hidupnya.  

Sebagai anak, dia melihat keluarganya sangat harmonis dan sempurna. Ayah yang seorang aktivis agama dihormati dan dikenal oleh semua orang.  Ibu yang juga aktif dengan kelompok pemuda. 

"Ketika ibuku pergi, aku mengambil peran sebagai pengasuh ayah dan dua saudara laki-lakiku.  Kami terus pergi ibadah, tetapi ketika mengunjungi ibu di akhir pekan, beribadah menjadi lebih jarang," ujar dia, dilansir di Muslim Library.

Namun berdoa bagi Kaci merupakan sumber dukungan untuk ayahnya, meskipun tidak mengerti alasannya. Dalam jangka waktu tiga tahun berturut-turut, Kaci dan kakak laki-lakinya memutuskan pindah ke rumah ibu. 

Pada saat itu ibu tidak lagi pergi ibadah, jadi saudara-saudaranya menganggap kehadiran di tempat ibadah kurang penting.  Setelah pindah ke rumah ibu selama tahun pertama di sekolah menengah, Kaci menemukan teman baru dan cara hidup yang berbeda. 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA