Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

6 Daerah di Jatim Alami Penurunan Produksi Padi Gabah Kering

Jumat 16 Oct 2020 07:51 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Dwi Murdaningsih

Petani memasukan hasil panen padi ke dalam karung . ilustrasi

Petani memasukan hasil panen padi ke dalam karung . ilustrasi

Foto: MOHAMMAD AYUDHA/ANTARA
Penurunan produksi terutama disebabkan karena adanya hama wereng.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat adanya penurunan produksi padi gabah kering giling di beberapa kabupaten/ kota di wilayah setempat. Berdasarkan hasil hitung menggunakan metode kerangka sampel area (KSA), penurunan produksi padi gabah kering Jatim terjadi di enam daerah.

"Dari 38 kabupaten/ kota beberapa memang ada kenaikan. Tapi ada juga yang alami penurunan produksi seperti Jember, Mojokerto, Sidoarjo, Kediri, Blitar, Situbondo, dan Pacitan," ujar Kepala BPS Jatim Dadang Hardiwan dalam jumpa pers secara virtual, Kamis (15/10).

Penghitungan produksi gabah kering giling yang dilakukan BPS, kata Dadang, terhitung mulai Januari-Desember 2020. Dengan catatan produksi padi September-Desember adalah hitungan sementara. Artinya di empat bulan terakhir yang dipakai adalah potensi produksi sesuai luas baku lahan Keputusan Menteri ATR/Kepala BPN No.686/SK-PG.03.03/ XII/2019 tanggal 17 Desember 2019.

Berdasarkan data BPS Jatim, produksi gabah kering giling Jember sepanjang 2020 sebanyak 602,8 ribu ton. Turun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 616,86 ribu ton. Pun demikian di Mojokerto, produksinya tahun ini hanya 316,76 ribu ton, atau turun dibandingkan 2019 yang sebanyak 339,75 ribu ton.

Penurunan serupa juga terjadi di Sidoarjo yang pada 2020 tercatat produksi gabah kering giling sebanyak 225,35 ribu ton. Turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 234,79 ribu ton. Di Kediri, produksi tahun ini sebanyak 218,62 ribu ton, atau turun dibanding 2019 yang mampu berproduksi hingga 222,84 ribu ton.

Kemudian untuk Blitar produksi padi di 2020 sebanyak 201,81 ribu ton. Turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 224,03 ribu ton. Kemudian Situbondo tahun 2020 berhasil memproduksi 160,97 ribu ton, meskipun masih lebih rendah dari 2019 yang 167,66 ribu ton. Selanjutnya ada Pacitan yang pada 2020 hanya mampu memproduksi seebanyak 83,4 ribu ton, turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 91,94 ribu ton.

"Kalau kita lihat penurunan pada 2020 lebih pada hama, terutama wereng sangat pengaruhi terkait produksinya," ujar Dadang.

BPS Jatim mencatat, sepanjang 2020, produksi padi gabah kering giling terbanyak di Lamongan yang produksinya mencapai 873,89 ribu ton. Diikuti Ngawi yang produksinya sebanyak 829,5 ribu ton, dan Bojonegoro sebanyak 737,4 ribu ton.

Secara umum potensi produksi padi gabah kering giling di Jatim sepanjang Januari-Desember 2020 meningkat dibanding tahun sebelumnya yang hanya 9,58 juta ton, menjadi 10,02 juta ton. "Biasanya angka potensi dengan realisasi bedanya tipis. Kecuali semoga kondisi normal tidak bergeser jauh," kata dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA