Saturday, 13 Rabiul Akhir 1442 / 28 November 2020

Saturday, 13 Rabiul Akhir 1442 / 28 November 2020

3 Masalah Kesehatan Mental Selama Pandemi

Jumat 16 Oct 2020 06:48 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Dwi Murdaningsih

Ilustrasi kesehatan mental

Ilustrasi kesehatan mental

Foto: Pixabay
Tiap orang perlu menciptakan suasana ramah untuk menghindari masalah mental.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Pandemi Covid-19 memunculkan persoalan baru kepada kesehatan mental masyarakat. Pakar kesehatan jiwa UGM, Ronny Tri Wirasto mengatakan, ada tiga masalah besar kesehatan mental yang muncul di tengah-tengah pandemi.

"Pertama, pembatasan sosial atau social distancing dan kecenderungan mental yang rentan, hingga rentan terjadinya kekerasan dalam keluarga," kata Ronny, Rabu (14/10).

Ia menuturkan, pembatasan sosial berpengaruh kepada kesehatan mental karena manusia harus adaptasi kebiasaan baru. Jika sebelum pandemi biasa berinteraksi langsung, situasi saat ini menyebabkan kita tiba-tib harus batasi interaksi.

Situasi ini tidak mudah, terlebih suasana penuh ketidakpastian memunculkan cemas, khawatir, ketakutan, stres dan depresi. Kondisi mental menjadi lebih rentan atau labil, keadaan itu bisa memicu perilaku kekerasan dalam keluarga.

Masalah kedua penggunaan internet meningkat. Sebab, pembatasan sosial membuat internet sebagai bagian penting aktivitas masyarakat sampai menimbulkan candu, yang salah satunya karena seseorang sering mencari informasi terkait Covid-19.

Selain adiksi internet, masalah ketiga fenomena kecanduan terhadap gim daring. Sebab, kondisi memaksa kita harus banyak beraktivitas di rumah, menjadikan waktu untuk menyalurkan hobi bermain gim daring menjadi lebih banyak.

"Kalau ini berlangsung terus-menerus bisa mengakibatkan kelelahan, over atensi atau perhatian berlebihan terhadap sesuatu, dan menurunnya kesadaran terhadap stimulasi sekitar," ujar Ketua Prodi Pendidikan Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa FKKMK UGM ini.

Selain itu, kerentanan mental pasien yang telah sembuh Covid-19 jadi persoalan besar. Itu terjadi karena masih ada stigma ke pasien oleh masyarakat, membuat pasien sembuh memiliki kekhawatiran lebih tinggi dibanding sebelum terpapar.

Melihat masih banyaknya masalah kesehatan mental, ia menghimbau tiap individu atau masyarakat menciptakan suasana ramah dan penuh kasih bagi sekitar. Sebab, kini implusifitas atau perilaku berlebihan jadi masalah mental yang menonjol. "Meskipun, hal tersebut tidak disadari masyarakat," kata Ronny.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA