Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

AS Desak IMF dan Bank Dunia Berhati-hati Perangi Pandemi

Kamis 15 Oct 2020 14:48 WIB

Red: Nidia Zuraya

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin

Foto: AP Photo/Carolyn Kaster
IMF diminta mengeluarkan alokasi baru Hak Penarikan Khusus.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Steven Mnuchin pada hari Rabu (14/10) mendesak Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia untuk bekerja dengan bijaksana memerangi pandemi virus corona. AS juga mendesak negara-negara G20 mendukung kerangka kerja restrukturisasi utang yang diusulkan.

Dalam sebuah pernyataan kepada komite pengarah kedua institusi tersebut, Mnuchin mengatakan mereka perlu terus memberikan pembiayaan, saran dan pengembangan kapasitas untuk membantu negara-negara yang dirugikan oleh pandemi Covid-19. Tetapi karena mereka mengucurkan miliaran dolar dana darurat, mereka perlu merencanakan transisi ke pengaturan pembiayaan normal, tambahnya.

"Sangat penting bagi Bank Dunia untuk mengelola sumber daya keuangan secara bijaksana dan transparan, dengan justifikasi yang jelas untuk alokasi ke negara-negara dengan akses yang kuat ke sumber pembiayaan lain, agar tidak membebani pemegang saham dengan seruan prematur untuk pembiayaan baru," kata Mnuchin.

Pernyataan Mnuchin, yang muncul saat IMF dan Bank Dunia mengadakan pertemuan tahunan minggu ini, tidak menyebutkan seruan dari negara lain agar IMF mengeluarkan alokasi baru Hak Penarikan Khusus.

Departemen Keuangan AS menentang langkah itu, yang mirip dengan bank sentral yang menciptakan ratusan miliar dolar dalam cadangan mata uang baru untuk negara-negara anggota IMF.

Bank Dunia, yang mengumpulkan 13 miliar dolar AS atau sekitar Rp 191,4 triliun (kurs Rp 14.700 per dolar AS) sebagai modal baru dari anggota pada 2018, harus menargetkan sumber dayanya di mana kebutuhan paling tinggi dan tidak diperlukan penyesuaian kepemilikan saham tambahan, kata Mnuchin.

Kepala Departemen Keuangan, yang mengawasi kepemilikan saham AS yang dominan di kedua institusi, mengatakan IMF harus sepenuhnya menggunakan alat pembiayaan yang ada, tetapi mungkin perlu lebih fleksibel dalam kondisi yang diberlakukannya pada negara peminjam, termasuk bagi mereka yang perlu merestrukturisasi hutang luar negeri.

Dia mendesak para pemimpin IMF untuk terus memperbarui dewan mengenai kecukupan kapasitas pinjaman Dana sebesar 1 triliun dolar AS (Rp 14,7 kuadriliun) dan untuk melaksanakan perluasan dana pinjaman krisis.

Mnuchin mengatakan bahwa IMF harus mendorong negara-negara dengan keadaan yang sangat sulit untuk beralih dari pembiayaan darurat ke program pembiayaan tradisional IMF yang memerlukan reformasi struktural untuk mendorong pertumbuhan.

"Bahkan saat IMF mengerahkan sumber dayanya untuk menanggapi krisis, ia juga harus tetap fokus pada pelaksanaan mandat inti stabilitas ekonomi dan keuangan global. Dalam konteks ini, kami menantikan dimulainya kembali pengawasan bilateral segera untuk memberikan nasihat kebijakan yang sangat dibutuhkan, "kata Mnuchin

Mnuchin juga mengatakan bahwa kerangka utang baru yang akan membantu negara-negara berpenghasilan rendah merestrukturisasi utang, harus segera didukung oleh negara-negara G20.

Dia mengatakan rencana tersebut, yang pada prinsipnya disepakati oleh para pemimpin keuangan G20, akan "memberikan keringanan utang berdasarkan parameter umum, dengan pembagian beban yang adil yang mencakup semua kreditor bilateral swasta dan resmi.


sumber : Antara/Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA