Friday, 6 Rabiul Awwal 1442 / 23 October 2020

Friday, 6 Rabiul Awwal 1442 / 23 October 2020

Petunjuk Rasulullah Agar Derajat Keimanan Meningkat

Rabu 14 Oct 2020 20:08 WIB

Red: Ani Nursalikah

Petunjuk Rasulullah Agar Derajat Keimanan Meningkat/Ilustrasi

Petunjuk Rasulullah Agar Derajat Keimanan Meningkat/Ilustrasi

Foto: Republika/Tahta Aidilla
Keimanan seorang Muslim mempunyai tingkatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: “Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat? Sahabat berkata, "Baik wahai Rasulullah."

Rasulullah bersabda: “Sempurnakan wudhu pada waktu sulit, banyak melangkah ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat (sebelumnya). Itulah ribat (menjaga ketaatan), itulah ribat.” (HR. Muslim)

Islam sebagai agama memiliki dua dimensi ajaran, yaitu lahir maupun batin. Keimanan adalah bagian dari dimensi batin yang menjadi dasar seseorang berislam. Dimensi batin ini memengaruhi gerak lahir, berupa praktik keislaman, utamanya rukun Islam yang lima. Oleh karena itu, dalam pandangan Nabi mengingat pentingnya, keimanan ini harus dijaga dengan beberapa amalan.

Baca Juga

Pun karena menurut kesepakatan ulama akan suatu kaidah penting dalam bab keimanan, yaitu al-imanu yazid wa yanqush, iman itu mengalami fluktuasi, naik-bertambah dan turun-berkurang. Hal ini seiring dengan prinsip ajaran Islam lainnya, bahwa manusia tidak akan terbebas dari dosa (mashum). Maka hadits di atas yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, menjadi bukti bahwa Nabi saat berdialog, sebagai salah satu metode pengajaran Nabi kepada para sahabatnya, beliau menyadari akan karakteristik gerak keimanan yang akan terjadi pada sahabat yang merepresentasikan kondisi iman dan batin umatnya secara umum di masa yang akan datang.

Selain Imam Muslim, hadits yang diriwayatkan melalui dua jalur, yaitu dari Syu’aib dan Malik bin Anas ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad, Abu Dawud dan An-Nasa’iy dalam Sunan-nya, serta Ibnu Hibban dalam Shahih-nya.

Beberapa hikmah dari hadits di atas. Pertama, mengenai penghapusan dosa dan derajat keimanan. Al-Qadhi ‘Iyadh berkomentar, bahwa terhapusnya kesalahan, berarti ibarat diampuninya dosa sekaligus dihapuskannya dosa dari kitab cacatan seseorang. Bisa dibayangkan ukuran kitab catatan amal kita dengan istilah yang muncul sekarang, yaitu big data.

Demikian menunjukkan akan keluasan rahmat dan kasih sayang Allah kepada hambaNya dengan menunjukkan jalan-jalan kebaikan yang dapat menebus kesalahan sehingga menaikkan dan meninggikan derajat keimanan mereka di surga.

Artinya, keimanan seorang Muslim itu mempunyai tingkatan-level sebagaimana para ahli tasawuf seperti Imam Al-Ghazali yang telah membuat pemeringkatan iman. Namun jika kita merujuk dalam Al-Qur’an, istilah-istilah penyebutan terhadap orang yang beriman menunjukkan adanya pemeringkatan iman itu sendiri. Istilah pertama dengan “amanu” yang menunjukkan level iman standar-dasar.

Istilah kedua dengan “yu’minun” yang menunjukkan level keimanan kedua, dimana ditandai dengan iman yang mulai menguat. Dan ketiga, istilah “al-mu’minun” yaitu level tertinggi dimana iman orang tersebut telah stabil posisi kuatnya. Pemeringkatan iman ini akan berdampak pada balasan posisi derajat ke berapa iman seseorang tersebut di surga.

 

sumber : Suara Muhammadiyah
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA