Friday, 6 Rabiul Awwal 1442 / 23 October 2020

Friday, 6 Rabiul Awwal 1442 / 23 October 2020

Bagaimana Hubungan Intim yang Baik Menurut Ulama Islam?  

Rabu 14 Oct 2020 18:50 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Nashih Nashrullah

Ulama Islam menggariskan bagaimana bersenggama yang baik. Ilustrasi Hubungan Intim

Ulama Islam menggariskan bagaimana bersenggama yang baik. Ilustrasi Hubungan Intim

Foto: Republika/Mardiah
Ulama Islam menggariskan bagaimana bersenggama yang baik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Berhubungan intim dalam Islam tidak sekadar boleh dilaksanakan suami-istri jika sedang berkeinginan saja. Lebih dari itu, agama menganjurkan cara-cara tertentu agar hubungan intim yang dilakukan dapat berjalan dengan baik selain juga mendapatkan pahala.

Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Ar-Rahmah menjelaskan, hubungan intim antara suami dan istri tidak baik dilakukan kecuali telah bangkit syahwat dan apabila keberadaan air mani bisa difungsikan. 

Maka jika demikian, beliau berpendapat, hendaknya air mani seorang suami segera dikeluarkan layaknya mengeluarkan kotoran atau air besar yang dapat menyebabkan sakit perut.

Baca Juga

Meski demikian, beliau juga berpendapat bahwa jika sepasang suami istri terlalu sering melakukan hubungan intim, maka efek sampingnya dapat menyebabkan percepatan penuaan. Tak hanya itu, hubungan intim apabila dilakukan terlalu sering juga dapat melemahkan tenaga dan menyebabkan tumbuhnya uban.

Lantas, bagaimana cara berhubungan intim yang baik? Dalam kitab Fathul Izar karya KH Abdullah Fauzi Pasuruan dijelaskan, hubungan intim yang baik dapat dilakukan dengan posisi klasik yaitu posisi suami berada di atas.

Posisi ini merupakan cara yang paling baik dalam melakukan hubungan intim. Selanjutnya, suami dapat melakukan kemesraan yang halus (foreplay) seperti mendekap, memeluk, mencium, atau meniup-niup telinga istri. Hal ini dilakukan agar sang istri dapat bangkit birahinya dan setelah itu barulah dilakukan inti dari hubungan intim.

Dijelaskan pula, jika suami telah mengalami ejakulasi maka suami tidak diperkenankan meninggalkan istri sebelum istri merasakan hal yang serupa. Dan hendaknya tidak langsung meninggalkan suasana intim begitu saja.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA