Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Memahami Arti Zuhud

Rabu 14 Oct 2020 08:31 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Esthi Maharani

Dengan sikap dan kesalehannya, Rabiah mulai terkenal sebagai seorang alim yang zuhud.

Dengan sikap dan kesalehannya, Rabiah mulai terkenal sebagai seorang alim yang zuhud.

Foto: Sojo.net/ca
Zuhud yaitu berpindahnya keinginan dari suatu hal pada apa yang lebih baik darinya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Salah satu amalan hati yang diajarkan dalam agama Islam adalah Zuhud. Dikutip dari buku Tafsir Al-‘Usyr Al-Akhir dari Alquran Al-Karim, zuhud yaitu berpindahnya keinginan dari suatu hal pada apa yang lebih baik darinya. Zuhud di dunia akan memberikan kenyamanan pada hati dan badan. Sebaliknya keinginan pada dunia akan mendatangkan kegundahan dan kesedihan.

Intinya, cinta pada dunia adalah sumber dari segala kesalahan. Sebaliknya, kebencian pada dunia adalah sebab segala ketaatan. Zuhud di dunia yaitu dengan mengeluarkan dunia dari hati dan bukan berarti memisahkan dunia dari diri kamu dengan disertai kebergantungan hati padanya. Ini adalah zuhudnya orang-orang yang jahil.

Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baik harta yang shaleh adalah jika dimiliki oleh orang yang shaleh,” (HR Ahmad).

Dijelaskan, keadaan orang fakir terhadap harta ada lima. Pertama ia berpaling dari harta karena kebencian dan kekhawatiran dari keburukan atau tersibukkan dengannya. Orang semacam ini dinamakan zahid atau orang yang zuhud. Kedua, mereka tidak senang ketika mendapatkan harta dan tidak menjadikannya benci yang dapat menjadikannya terganggu olehnya. Dia adalah orang yang ridha.

Ketiga, keberadaan harta lebih dia cintai dari ketiadaannya, karena keinginannya terhadap harta. Akan tetapi, hal tersebut tidak sampai menjadikannya berusaha mencarinya, bahkan jika harta mendatanginya ia merasa gembira. Serta jika dia harus bersusah payah dalam mencarinya, maka hal itu tidaklah sampai menyibukkannya. Ini adalah orang yang qana’ah.

Keempat, meninggalkan harta adalah karena ketidakmampuan dalam mencarinya. Sebenarnya ia ingin untuk mendapatkannya, meski dengan jalan bersusah payah. Dia dinamakan orang yang harish. Sedangkan terakhir, dia terpaksa dalam mencari harta seperti orang yang lapar dan orang yang tidak berpakaian. Orang semacam ini dinamakan orang yang

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA