Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

MIND ID Jadi Pemegang Cadangan Nikel Terbesar di Indonesia

Selasa 13 Oct 2020 16:28 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Gita Amanda

Sejumlah articulated dump truck mengangkut material pada pengerukan lapisan atas di pertambangan nikel PT Vale, (ilustrasi).

Sejumlah articulated dump truck mengangkut material pada pengerukan lapisan atas di pertambangan nikel PT Vale, (ilustrasi).

Foto: Antara/Basri Marzuki
Penguasaan nikel oleh MIND ID melalui Antam dan Vale maka menjadi sebesar 30,4 persen

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pascaakusisi saham PT Vale Indonesia, Mining Industrial Indonesia (MIND ID) atau holding tambang menjadi pemegang cadangan nikel terbesar di Indonesia.

Direktur Utama MIND ID, Orias Petrus Moedak, menjelaskan saat ini total cadangan yang dimiliki oleh MIND ID sebesar 30 persen, angka tersebut termasuk yang dimiliki PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) dan PT Aneka Tambang (Antam). Pascaakuisisi 20 persen saham Vale, maka portofolio kepemilikan cadangan nikel holding tambang bertambah.

"Dengan penguasaan nikel di Indonesia oleh MIND ID melalui Antam dan Vale maka menjadi sebesar 30,4 persen. Kondisi ini menjadi potensi kami untuk menjadi pemain utama dalam mengelola nikel," ujar Orias dalam diskusi daring, Selasa (13/10).

Ia merinci di Antam, cadangan nikel yang ada sebesar 736,7 ribu ton di tambang Kolaka. Sedangkan di Tambang Maluku Utara ada 2,7 juta ton. di Tambang GAG ada 768,8 ribu ton. Sedangkan di Konawe Utara ada 276,6 ribu ton. Sedangkan di Pomala milik Vale ada cadangan sebesar 2,8 juta ton. Sedangkan di Sorowako ada 1,8 juta ton.

Orias melihat peluang ini tidak bisa serta merta dijadikan alasan untuk holding tambang hanya menambang lalu mengekspor saja. Orias mengatakan dengan potensi penguasaan cadangan maka perusahaan perlu segera bergerak untuk melakukan hilirisasi.

"Selama ini industri hilir kita di nikel belum sampai pada hasil akhir. Padahal ini diharapkan banyak alternatif. Jadi, daripada kita juga harus impor lagi, harus ada pengembangan hasil akhir dari nikel ini," ujar Orias.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA