Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Presiden Taiwan Tawarkan Pembicaraan Damai dengan China?

Ahad 11 Oct 2020 08:52 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nidia Zuraya

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen.

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen.

Foto: AP Photo/Chiang Ying-ying
Presiden Tsai Ing-wen menggambarkan situasi di Selat Taiwan sebagai cukup tegang.

REPUBLIKA.CO.ID, TAIPEI -- Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen, menyatakan negara itu ingin melakukan dialog serius dengan China atas dasar kesetaraan, Sabtu (10/10). Uluran pembicaraan ini menjadi jalan baru penyelesaian ketegangan militer yang meningkat antara Taipei dengan Beijing.

Berbicara pada perayaan Hari Nasional, Tsai menggambarkan situasi di Selat Taiwan sebagai cukup tegang. Hal ini bersama dengan sengketa di Laut Cina Selatan, konflik perbatasan China-India, dan tindakan keras China di Hong Kong. Konflik yang terjadi menunjukkan demokrasi dan perdamaian di kawasan itu menghadapi tantangan besar.

Tsai menyatakan, jika Beijing dapat mendengarkan suara Taiwan dan bersama-sama memfasilitasi rekonsiliasi dan dialog damai, ketegangan regional pasti dapat diselesaikan. "Selama otoritas Beijing bersedia menyelesaikan antagonisme dan meningkatkan hubungan lintas selat, sementara paritas dan martabat dipertahankan, kami bersedia bekerja sama untuk memfasilitasi dialog yang bermakna," katanya.

Taiwan yang demokratis mendapat tekanan yang meningkat dari China yang telah meningkatkan aktivitas angkatan udara di dekat pulau itu dalam beberapa pekan terakhir. Beijing mengerahkan armada militernya melintasi garis tengah sensitif Selat Taiwan yang biasanya berfungsi sebagai zona penyangga tidak resmi.

Tsai  berkomitmen untuk menjaga stabilitas di Selat Taiwan, tetapi ini adalah tanggung jawab kedua belah pihak. Dia akan terus mendorong ini menjunjung tinggi prinsip tidak mencari perang atau takut akan perang.

“Komitmen kami terhadap kedaulatan dan nilai-nilai demokrasi tidak akan berubah, tetapi kami juga akan menjaga fleksibilitas strategis dan tanggap terhadap perubahan,” ujar Tsai.

Menanggapi pernyataan Taiwan, China menyatakan, Taipei terus mengejar kemerdekaan dan masih memiliki pola pikir konfrontatif. "Pidato ini melanjutkan pemikiran konfrontatif dan permusuhan, menganjurkan komentar 'kemerdekaan', dan berteriak-teriak untuk berhubungan dengan kekuatan eksternal," kata juru bicara Kantor Urusan Taiwan di Beijing, Zhu Fenglian.

Zhu menyatakan, Kemerdekaan Taiwan merupakan jalan buntu, sementara konfrontasi tidak akan mengarah kemana pun. Dia mendesak Partai Progresif Demokratik yang berkuasa untuk menahan diri dari melangkah lebih jauh ke jalan yang salah.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA