Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Warga China Sudah Bisa Kembali Pelesiran selama Golden Week

Ahad 11 Oct 2020 01:06 WIB

Rep: M Nursyamsi/ Red: Friska Yolandha

Warga memadati salah satu keajaiban dunia, Tembok China.

Warga memadati salah satu keajaiban dunia, Tembok China.

Foto: AP Photo/Ng Han Guan
Momen liburan diharapkan meningkatkan perekonomian China.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Liburan Golden Week pada 1 Oktober hingga 7 Oktober mendongkrak sektor pariwisata China yang sebelumnya berhenti akibat pandemi. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata China menyebut sekitar 637 juta penduduk China melakukan perjalanan liburan di dalam negeri dalam kurun waktu delapan hari tersebut. 

Pemerintah China berharap momen liburan dapat kembali meningkatkan perekonomian. "Lebih dari 45 persen dari 1,4 miliar warga China bepergian selama liburan yang dimulai sejak 1 Oktober. Mereka menghabiskan 466,6 miliar yuan atau 69,5 miliar dolar AS," tulis data dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata China mengutip AP News, Sabtu (10/10).

Jumlah masyarakat yang berlibur mengalami penurunan 21 persen dibanding pada liburan Golden Week tahun lalu. Pun dengan pengeluaran yang juga mengalami penurunan 30 persen dibanding tahun lalu. Kendati begitu, hal tersebut menunjukkan perbaikan sektor ketimbang awal tahun akibat pandemi. 

Baca Juga

"Angka-angka tersebut tanda positif, baik bagi China, dan seluruh dunia bahwa ekonomi dapat pulih dengan cepat setelah virus corona terkendali," kata Direktur Pelaksana perusahaan konsultan dan penelitian Frost & Sullivan di Asia Pasifik, Shivaji Das.

Shivaji menilai penurunan jumlah wisatawan domestik di China tak lepas dari kehati-hatian masyarakat dalam mengeluarkan uang akibat dampak pandemi.  

"Banyak orang kehilangan pendapatan atau kehilangan pekerjaan selama masa-masa terburuk pandemi sehingga orang-orang berusaha lebih berhati-hati dari segi keuangan," ungkap Shivaji. 

Pemimpin pasar konsumen PwC di China Jennifer Ye mengatakan aktivitas di China sangat dibatasi sejak pandemi terjadi. Hal ini berdampak pada menurunnya pendapatan pariwisata domestik hampir 60 persen saat selama lima hari libur Hari Buruh pada Mei dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

"Kepercayaan konsumen China telah pulih secara signifikan karena pengendalian pandemi yang tepat, kebijakan; dan stimulus pro konsumsi pemerintah dan dimulainya kembali aktivitas bisnis yang lebih cepat dari yang diharapkan," kata Jennifer.

Jennifer menyebut objek wisata lokal mendapat keuntungan lantaran warga China tidak dapat bepergian ke luar negeri seperti Hong Kong dan Korea Selatan. Warga China memilih ke Pulau Hainan di China Selatan dan menghabiskan 530 juta yuan atau 78 juta dolar AS selama lima hari pertama liburan.

"China menaikkan batas belanja bebas bea pada 1 Juli, berharap dapat menarik wisatawan domestik dan bersaing dengan pusat perbelanjaan di Eropa dan bagian lain Asia," ucap Jennifer. 

China telah melaporkan tidak ada infeksi virus corona yang ditularkan secara lokal sejak 16 Agustus, dan pembatasan telah dilonggarkan.

Untuk meningkatkan pariwisata domestik, pemerintah daerah dan platform perjalanan online seperti Ctrip dan Fliggy menawarkan diskon untuk tiket atraksi, hotel, dan paket tur. Menurut laporan Ctrip, jumlah pemesanan penerbangan, tur pribadi, dan tiket atraksi di platformnya naik 100 persen dibandingkan dengan waktu yang sama tahun lalu.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA