Wednesday, 14 Rabiul Awwal 1443 / 20 October 2021

Wednesday, 14 Rabiul Awwal 1443 / 20 October 2021

Pesan Ustadz Adi Hidayat Supaya Pernikahan Dapat Berkah

Jumat 09 Oct 2020 22:58 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Nashih Nashrullah

Ustadz Adi Hidayat memberikan pesan agar pernikahan sakinah dan berkah. Buku nikah (ilustrasi).

Ustadz Adi Hidayat memberikan pesan agar pernikahan sakinah dan berkah. Buku nikah (ilustrasi).

Foto: FOTO ANTARA/Eric Ireng
Ustadz Adi Hidayat memberikan pesan agar pernikahan sakinah dan berkah.

REPUBLIKA.CO.ID,  

JAKARTA— Pernikahan dalam Islam merupakan sunnah Rasulullah. Pelaku pernikahan mendapatkan rah mat dan bekal keberkahan dalam akad yang diucapkan dan dijanjikan bersama. Namun, di balik itu, esensi pernikahan sejatinya adalah sebuah ketenangan, kenyamanan, dan kecukupan antara satu dengan lainnya.   

Baca Juga

Pernikahan bukanlah suatu hal yang menjanjikan setiap pasangan untuk hidup selalu senang. Pun, pernikahan juga bukan perkara menjalani hidup dengan kesulitan terus-menerus. Dalam rumah tangga, kerap terjadi gejolak yang kerap menyentuh setiap pasangan.

Namun demikian, menurut Ustaz Adi Hidayat, setiap pasangan diingatkan untuk selalu menyandarkan dirinya kepada Allah SWT. Memupuk keimanan, ketakwaan, serta kepatuhan dalam beribadah merupakan modal utama dalam membangun rumah tangga. Dengan modal tersebut, keberkahan akan melingkupi siapapun yang berada di dalam rumah tangga tersebut.

"Malam ini, usai menikah, perbaiki lagi sholatnya. Dirikan sholat, penuhi rumah tangga kita dengan keberkahan," kata Ustadz Adi Hidayat dikutip dari dokumentasi Harian Republika. Pernyataan tersebut dia sampaikan saat memberikan tausiyah dalam Acara Pelaksanaan Nikah Massal ke-3 Pemprov DKI Jakarta, di Balai Kota, Jakarta, Selasa (31/12/2019).

Keberkahan, sebagaimana yang terucap dari doa Nabi Muham mad SAW saat menikahkan putrinya, Fatimah Az-Zahra dengan Sayyidina Ali bin Abi Tha lib, perlu diselipkan, baik di kala susah maupun senang. Beliau pun menceritakan bahwa pernikahan yang sempurna bukanlah hanya milik mereka yang memiliki harta melimpah dan jabatan terpuji.

Hal itu dibuktikan bagaimana Rasulullah menikahkan Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib. Padahal, jika diukur secara materi, Ali bin Abi Thalib bukanlah berasal dari kalangan berada atau pun seseorang yang memiliki jabatan tinggi. Jika dibandingkan dengan sahabat Nabi lainnya, seperti Abu Bakar yang kaya raya dan Umar bin Khatab yang memiliki jabatan ulung, Ali bin Abi Thalib hanyalah pria biasa.

Namun begitu, dia menceritakan, ketika Abu Bakar dan Umar bin Khatab mengenali kapasitas diri tak layak bersanding dengan Fatimah Az-Zahra, sosok Ali bin Abi Thalib justru ditonjolkan. Diceritakan, suatu ketika, Umar bin Khatab bertemu dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan berkata, "Ya Ali, innahalaka." Yang artinya, "Wahai Ali, sesungguhnya dia (Fatimah) merupakan milikmu (jodohmu)."

Mendengar ucapan Umar seperti itu, Ali bin Abi Thalib justru berkata, "Wahai Umar, aku hanyalah orang biasa, aku bukan orang kaya. Bahkan, saat ini, yang kupunya hanyalah perisai besi yang hendak aku gadaikan." Namun, Sayyidina Umar tetap memerintahkan Ali agar menemui Rasulullah untuk meminang Fatimah.

Menurut Ustadz Adi, ketika Sayyidina Ali datang menemui Rasulullah, tak sedikit pun beliau meremehkan, apalagi menolak maksud baik sahabatnya tersebut. Maka, ketika menikahkan keduanya, Rasulullah pun memberi tiga kalimat pesan yang dijadikan doa bagi segenap masyarakat Muslim dunia hingga kini. Doa tersebut berbunyi: 

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ، وبَارَكَ عَلَيْكَ، وجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

"Bara kallahu laka, wa baraka alaikuma, wa jamaa bainakuma fii khair." Yang artinya, "Semoga Allah rekatkan keberkahan padamu (di kala senang), dan semoga Allah rekatkan keberkahan kepada kalian berdua (di kala su sah), dan semoga Allah selalu menghimpun kalian berdua dalam kebaikan."

Maka dari itu, lanjut Ustaz Adi, apabila setiap pasangan hendak mendapatkan kebahagiaan yang abadi dalam pernikahan, hendaknya lekatkan keberkahan di dalam rumah tangga tersebut. Tutup aib diri satu sama lain sebagai kekuatan dan bahan evaluasi bersama. Tak layak, kata dia, keburukan rumah tangga diumbar dan dikonsumsi khalayak publik.

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA