Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Korea Selatan ingin Dunia Belajar Bahasa Korea dengan K-Pop

Jumat 09 Oct 2020 19:56 WIB

Rep: deutsche welle/ Red: deutsche welle

picture-alliance/Yonhap

picture-alliance/Yonhap

Pemerintah Korea merencanakan perluasan King Sejong Institute di seluruh dunia.

Band pop Korea Selatan BTS baru-baru ini duduk di puncak tangga lagu Billboard Hot 100 dengan lagu berbahasa inggris mereka “Dynamite”. Grup lain, BlackPink, juga mencetak rekor bulan lalu dengan 300 juta streaming di Spotify dengan lagu hit 2018 mereka “Ddu-du Ddu-du.” Di ranah lain, film besutan sutradara Bong Joon-ho“Parasite” mengejutkan dunia sebagai film berbahasa asing pertama yang memenangkan piala Oscar untuk film terbaik.

Sekarang, pemerintah Korea Selatan ingin memanfaatkan popularitas “gelombang Korea” untuk mempromosikan bahasa dan budaya bangsa mereka. Meningkatkan penggunaan bahasa Korea bisa menjadi pintu gerbang bagi perkembangan bisnis, ekonomi, dan prestise nasional.

Kementrian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan mengumumkan pada bulan September bahwa mereka akan mengeluarkan dana sebesar 1,1 triliun rupiah untuk mempromosikan alfabet Korea atau “hangul”. Angka ini merupakan tambahan sejumlah 300 miliar rupiah dibandingkan dana sebelumnya.

Dana ini akan digunakan untuk meningkatkan penyebaran dan pendidikan bahasa Korea di luar negeri. Kementrian Kebudayaan Seoul berharap bahwa mempelajari bahasa ini akan membuat lebih banyak orang tertarik pada sejarah, seni, musik, kuliner Korea, dan aspek lain dari budaya negara ginseng tersebut.

“Hallyu” sebagai ekspor budaya Korea

Pihak pemerintah Korea menggunakan ekspor khas mereka yakni “hallyu” atau budaya pop Korea sebagai bentuk promosi.

“Orang-orang di tempat lain sering kali mengetahui tentang Korea terlebih dahulu melalui musik, drama televisi atau film kami. Jadi sangat masuk akal untuk membangun minat itu dan menggunakannya untuk menyebarkan berita,” ucap Song Young-chae, seorang profesor di Pusat Kreasi dan Kolaborasi Global Universitas Sangmyung, Seoul, kepada DW.

“Jika Anda kembali ke 30 atau 40 tahun lalu, maka hanya sedikit orang yang tahu tentang Korea dan budayanya. Bahkan tidak banyak yang tahu di belahan dunia mana semenanjung Korea berada,” katanya. “Segalanya sudah pasti berbeda sekarang. Tapi apapun yang bisa dilakukan untuk membuat dunia tahu lebih banyak tentang Korea pastilah hal yang baik.”

Selain membantu orang untuk lebih memahami tentang Korea jaman sekarang, pendidikan semacam ini dapat digunakan untuk mempromosikan koneksi bisnis. Song juga menambahkan beberapa manfaat lain dari popularitas budaya Korea ini yang mampu mengubah beberapa persepsi tentang Korea.

“Jika Anda melihat koran atau menonton berita televisi, maka sebagian besar liputan di sana akan bercerita tentang Korea Utara, tentang Kim Jong Un, pembelot negara ataupun senjata nuklir dan rudal. Jadi penting bagi kami untuk dapat berkomunikasi dengan lebih banyak pesan-pesan positif dari Korea,” ucap Song.

K-Pop, drama dan film juga sangat populer di Korea Utara, meski tidak untuk badan pemerintahannya. Program musik dan televisi diselundupkan ke Korea Utara dengan "memory stick" dan tersedia di pasar gelap serta dibagikan secara luas.

Banyak pembelot dari Korea Utara mengatakan mereka memutuskan untuk meninggalkan tanah air mereka setelah melihat kebebasan yang dinikmati orang-orang di Korea Selatan. Gambar sebuah rumah yang lengkap dengan peralatan rumah tangga modern dan supermarket dengan persediaan makanan yang berlimpah menggugah mereka.

King Sejong Institute

Tugas peningkatan edukasi bahasa Korea sendiri diserahkan kepada jaringan “King Sejong Institute” atau Institut Raja Sejong. Institut yang setara dengan Goethe Institut Jerman ini telah didirikan sejak 2007 dan berdiri di seluruh dunia. Institut ini biasanya bekerja sama dengan universitas atau perguruan tinggi di kota-kota besar di luar negeri. Secara total ada 213 institut ini di 76 negara.

Kimberly Febrianti, public relation dari King Sejong Institute Center Indonesia, menjelaskan kepada DW tentang King Sejong Institute (KSI) lain yang tersebar di Indonesia. Didirikan pertama kali pada tahun 2011 di Jakarta, KSI berkembang hingga memiliki total 6 cabang di Indonesia. Selain 2 KSI yang berada di Jakarta, KSI yang lain turut bekerja sama dengan universitas setempat seperti UNAS di Jakarta Selatan, UNIKOM di Bandung, UGM di Yogyakarta dan Universitas Kristen Petra di Surabaya.

Peningkatan jumlah siswa berbeda-beda di tiap KSI. “Di KSIC tempat saya bekerja sendiri terdaftar sekitar 460 siswa di semester ini,” ucapnya. Selain itu motivasi belajar pun berbeda-beda dan tidak hanya melulu karena Korean Wave. “Banyak yang mendaftar karena bekerja di perusahaan Korea ataupun bekerjasama dengan orang Korea. Banyak juga yang belajar untuk melanjutkan studi di Korea.”

Mahasiswa Indonesia dan Studi ke Korea

Demam budaya Korea ini meningkatkan minat warga Indonesia tak hanya untuk mempelajari bahasa Korea, namun juga untuk mengejar pendidikan di negara ginseng tersebut.

Margareth Theresia, seorang pengajar bahasa Korea dari Indonesia yang sekarang tengah mengejar studi S3 di Korea Selatan, menjelaskan kepada DW tentang peningkatan angka pelajar Indonesia di Korea Selatan. “Berdasarkan pengalaman saya selama 6 tahun di Korea, dahulu lebih banyak murid pascasarjana yang datang ke Korea Selatan untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi. Sedangkan belakangan ini semakin banyak yang datang untuk sekolah bahasa atau menempuh Bachelor. Rata-rata dari mereka memang datang karena Korean Wave,” jelasnya.

Sebuah laporan dari Korean Educational Statistics Service juga menunjukkan peningkatan total pelajar Indonesia dari angka 1.025 di tahun 2014 hingga 1.613 di tahun 2019. Selain itu beasiswa pemerintah seperti Korean Government Scholarship untuk jenjang S1 hingga S3 juga merupakan strategi lain yang menarik minat banyak mahasiswa asing.

Daya tarik budaya pop Korea ini telah menyebar ke seluruh dunia dan sangat terbantu oleh evolusi media sosial.

Terobosan global bisa dibilang tercapai pada tahun 2012, ketika lagu “Gangnam Style” dari Psy menjadi hit viral baik di Seoul hingga ke Seattle dan Stuttgart. Tren ini diikuti oleh grup-grup seperti BlackPink, Stray Kids, Exo dan Monsta X, meskipun nama terbesar dalam musik Korea Selatan tetaplah boyband beranggotakan tujuh orang bernama BTS.

Wawancara tambahan pada artikel ini dilakukan oleh Stephanie Tanus.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA