Wednesday, 12 Muharram 1444 / 10 August 2022

Doni: Ada 44 Juta Warga Yakin takkan Terjangkit Covid-19

Kamis 08 Oct 2020 01:30 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Ustaz Abdul Somad (kanan) bersama Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Doni Monardo (kiri).  Ketua Satgas Penanganan COVID-19, Doni Monardomengemukakan, hasil survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) periode 14-21 September 2020 menyebutkan secara nasional sebanyak 17 persen masyarakat yakin tidak akan terinfeksi COVID-19.

Ustaz Abdul Somad (kanan) bersama Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Doni Monardo (kiri). Ketua Satgas Penanganan COVID-19, Doni Monardomengemukakan, hasil survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) periode 14-21 September 2020 menyebutkan secara nasional sebanyak 17 persen masyarakat yakin tidak akan terinfeksi COVID-19.

Foto: BNPB Indonesia
Survey BPS dikutip Doni Monardo sebut 17 persen warga yakin tidak bakal kena Covid-19

REPUBLIKA.CO.ID, MANADO -- Ketua Satgas Penanganan COVID-19, Doni Monardomengemukakan, hasil survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) periode 14-21 September 2020 menyebutkan secara nasional sebanyak 17 persen masyarakat yakin tidak akan terinfeksi COVID-19.

"Jumlah responden sebanyak 90.967 orang, angka yang besar untuk sebuah survei," katanya saat melakukan kunjungan kerja ke Sulawesi Utara (Sulut), Rabu.

Besaran angka 17 persen itu dari jumlah penduduk Indonesia sebanyak 270 juta jiwa setara dengan 44,9 juta jiwa. "Bayangkan ada sebanyak 44,9 juta masyarakat yang merasa yakin tidak akan terjangkit COVID-19," ujarnya.

Sulut menempati nomor dua secara nasional dengan angka persentase sebesar27 persen.

Sebanyak 27 persen dari jumlah penduduk yang mencapai 2,6 juta jiwa diperkirakan sebanyak 700 ribu lebih warga Sulut yang yakin tidak akan terjangkit COVID-19.

Inilah yang menurut Monardo menjadi tantangan sehingga harus ada strategi yang efektif untuk mempengaruhi masyarakat agar mematuhi protokol kesehatan COVID-19.

"Presiden dalam setiap kesempatan mengatakan perubahan perilaku adalah keniscayaan. Kita tidak tahu kapan COVID-19 akan berakhir. Karena itu, kita harus mampu beradaptasi dengan COVID-19 ini," ujarnya.

Dia berharap, setiap daerah mengedepankan kearifan lokal sehingga tokoh-tokoh daerah hingga tingkat RT/RW diikutsertakan.

"Semakin besar pelibatan masyarakat, maka semakin efektif dalam penanganan COVID-19," katanya.

COVID-19, menurut dia, menular bukan melalui hewan seperti flu babi atau flu burung, tetapi virus ini melalui manusia. Dari manusia kemudian menular ke orang-orang di sekitar termasuk orang-orang terdekat.

"Karena itu, dengan penjelasan yang lebih merakyat, bahasa yang lebih mudah dipahami, bahasa yang mudah dicerna, saya yakin kalau sekarang 27 persen, ke depan pasti akan berkurang," ujarnya.

sumber : Antara
Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA