Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Ridwan Kamil Siapkan Krisis Center RSJ

Rabu 07 Oct 2020 17:29 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Dwi Murdaningsih

Cemas. Ilustrasi

Cemas. Ilustrasi

Foto: pixabay
Situasi pandemi covid-19 berpengaruh terhadap kesehatan mental seseorang.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG--Pandemi Covid 19 membawa perubahan besar terhadap segala aspek kehidupan. Perubahan adaptasi dengan situasi baru tentu sangat rentan terhadap kesehatan mental.

Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat menggelar webinar bertajuk Menjaga Kesehatan Jiwa di Masa Pandemi, Rabu (7/10). Kegiatan itu sekaligus memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober 2020.

Menurut Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, berdasarkan survei Puslitbangkes Kemenkes 2020, sebanyak 6,8 persen masyarakat Indonesia mengalami gangguan cemas. Padahal, 85,3 persennya sebelumnya tidak memiliki riwayat gangguan psikiatri. Dari presentasi itu hampir 8 persen berasal dari Jakarta, Jawa Barat, Banten.

"Ini relevan dengan peningkatan jumlah pasien yang mengalami gangguan cemas ke rumah sakit jiwa Jabar," ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil.

Emil mengatakan, saat ini tekanan psikologis juga sangat berat. Tingginya angka kematian oleh Covid, informasi ketidakjelasan kapan situasi pandemi akan berakhir membuat tekanan tersendiri. Selain itu, belum hadirnya vaksin, isu isolasi sosial, stigma, kehilangan pekerjaan juga turut mempengaruhi. Ada pula perubahan cara belajar mengajar dan tingginya juga kekerasan rumah tangga sebagai dampak terjadinya perceraian.

"Itu adalah sesuatu yang tidak bisa kita sepelekan," katanya.

Selain itu, kata dia, beredarnya informasi palsu dan berita bohong kian menciptakan ketakutan serta meningkatkan kekhawatiran secara berlebihan. Karena itu, kedewasaan dalam pemanfaatan media sosial harus terus dikampanyekan.

"Hari ini masalahnya bukan mencari informasi tapi memilah informasi. Maka situasi berita negatif tentu harus kita kontrol," katanya.

Pandemi juga, kata dia, turut menyasar aktivitas pendidikan anak dan remaja. Berbagai kendala dirasakan para orangtua dan siswa ketika menjalani pembelajaran daring.

"Juga pada anak-anak ada sistem yang mengharuskan menjalani pendidikan di rumah atau jarak jauh. Ini juga membuat stres kepada anak dan orang tua apalagi keterbatasan internet dan lainnya. Sungguh sangat memprihatinkan," katanya.

Pemrov Jabar sendiri, kata Emil, sudah menyiapkan krisis center di RSJ Provinsi Jawa Barat yg berlokasi di Cisarua KBB dan Graha Atma Bandung sebagai respons cepat kegawatdaruratan jiwa seperti potensi bunuh diri.

Selain itu, RSJ Provinsi Jawa Barat juga meluncurkan program Konsultasi Jiwa Online (KJOL = dibaca Kajol), sebagai jawaban atas meningkatnya permasalahan kejiwaan di masa pandemi.

"Yang terbaru, lahirnya layanan konsultasi jiwa online atau KJOL RSJ Jabar yang sekarang lagi meningkat. Keberadaannya ini adalah respons terhadap meningkatnya permasalahan kejiwaan di masa pandemi. KJOL ini jadi solusi memudahkan petugas untuk screening mana yang cukup via telepon atau datang secara fisik. Keren sekali saya apresiasi," ucap dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA