Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Facebook-Twitter Hapus Unggahan Trump Soal Covid-19

Rabu 07 Oct 2020 10:47 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Presiden AS Donald Trump dianggap menyebarkan misinformasi oleh Facebook dan Twitter.

Presiden AS Donald Trump dianggap menyebarkan misinformasi oleh Facebook dan Twitter.

Foto: AP/Alex Brandon
Dianggap hoaks, cicitan Trump dihapus Facebook dan Twitter.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Media sosial Twitter dan Facebook bereaksi terhadap unggahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump karena menyebarkan misinformasi yang dianggap melanggar aturan platform tersebut. Dikutip dari Reuters, Trump pada Senin membagikan informasi di media sosial bahwa masyarakat tidak usah takut terhadap Covid-19.

Seruan itu Trump bagikan setelah tiga hari dirawat di Walter Reed National Military Medical Center di luar Washington karena terinfeksi virus corona tipe baru, SARS-CoV-2, penyebab Covid-19. Dalam unggahannya, Trump menyamakan Covid-19 dengan sakit flu.


Facebook menurunkan unggahan Trump tersebut. Hanya saja, sebelum dihapus, unggahan Trump sempat dibagikan sebanyak 26 ribu kali oleh warganet.

"Kami menghapus informasi tidak benar mengenai keparahan Covid-19," kata juru bicara Facebook kepada Reuters.

photo
Cicitan Presiden AS Donald Trump di Twitter ditandai karena menyebarkan misinformasi. Trump meremehkan Covid-19 dengan membandingkannya dengan flu. - (Twitter)

Sementara itu, Twitter mematikan fitur retweet ke unggahan Trump dan melabeli cicitan tersebut karena "menyebarkan informasi menyesatkan dan berbahaya berkaitan dengan Covid-19". Cicitan tersebut masih bisa diakses.

Twitter mengatakan mereka berusaha merespons lebih cepat dan terbuka terhadap cicitan misinformasi. Juru bicara kampanye Trump, Courtney Parella, menyatakan bahwa media sosial punya agenda sendiri dengan menyensor unggahan sang presiden.

"Silicon Valley dan media arus utama secara konsisten menggunakan platform mereka untuk menakut-nakuti dan menyensor Presiden Trump, demi kepentingan agenda mereka sendiri. Bahkan sekarang, ketika waktu-waktu kritis melawan virus corona," kata Parella.

Reuters mengutip data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, flu menewaskan 22 ribu orang di AS pada musim flu 2019-2020. Sejak kasus Covid-19 di AS awal tahun ini, lebih dari 210 ribu nyawa di negara tersebut dinyatakan tewas akibat Covid-19. Angka tersebut merupakan angka kematian tertinggi di dunia akibat virus SARS-CoV-2.

sumber : Antara, Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA