Friday, 21 Muharram 1444 / 19 August 2022

Computational Thinking, Solusi Pembelajaran Saat Pandemi

Selasa 06 Oct 2020 20:00 WIB

Red: A.Syalaby Ichsan

computational thinking. ILustrasi

computational thinking. ILustrasi

Foto: Forbes
Siswa senantiasa dihadapkan dengan permasalahan dalam kehidupan nyata.

 

Oleh Siti Khotimah, S.Pd, M.Psi

REPUBLIKA.CO.ID, Masa Pandemi Covid-19 menuntut kita untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran secara daring. Dimana pembelajaran daring ini diperlukan perangkat/device, bisa dalam bentuk PC, laptop, tab ataupun gawai. Sehingga siswa dan guru harus mempu menggunakan perangkat tersebut secara maksimal.

Untuk bisa menguasai device yang ada, maka diperlukan kecakapan berpikir/pemikiran komputasi. Computational Thinking (CT) atau pemikiran komputasi sebagai salah satu teknik penyelesaian masalah menjadi sangat penting di masa pandemi. Untuk menyiapkan siswa yang siap bersaing di era digital ini, diperlukan kecakapan berpikir seperti cara ilmuwan komputer berpikir. Kecakapan berpikir tersebut diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan di masa pandemi ini.

photo
Dosen Pitri Ermawati mengisi kuliah daring sejarah fotografi di Jurusan Fotografi, Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, Rabu (23/9). Pada tahun ajaran baru 2020 di ISI sistem pembelajaran menggunakan perkuliahan secara daring untuk menghindari penyebaran Covid-19. Hal ini mengikuti anjuran Pemerintah tentang Bencana Nasional penyebaran virus corona. - (Wihdan Hidayat / Republika)
Berdasarkan artikel yang ditulis pada laman edukasi101.com, istilah Computational Thinking atau berpikir/pemikiran komputasi digaungkan oleh Seymour Papert (1980) dalam bukunya yang berjudul “Mindstorm”. Ketika itu Papert berfokus pada dua aspek komputasi: Pertama, bagaimana menggunakan komputasi untuk menciptakan pengetahuan baru, dan kedua, bagaimana menggunakan komputer untuk meningkatkan pemikiran dan perubahan pola akses ke pengetahuan.

Berikutnya J. M. Wing membawa pendekatan yang dimodifikasi dan perhatian baru pada pemikiran komputasi atau computational thinking. Lebih lanjut dijelaskan cara mengimplementasikan computational thinking adalah dengan memahami masalah, mengumpulkan semua data, mulai mencari solusi sesuai dengan masalah.

Dalam Computational Thinking, ada yang disebut dengan dekomposisi yaitu memecahkan masalah yang komplek menjadi masalah-masalah yang sederhana sehingga lebih mudah untuk diselesaikan. Computational Thinking sebagai pendekatan pembelajaran dapat disandingkan dengan pendekatan/metode pembelajaran yang lain seperti pembelajaran berbasis proyek atau pembelajaran berbasis inkuiri (inquiry based learning) dalam pembelajaran sains.

Sebagai pendidik, saya sangat setuju bahwa cara berpikir komputasi ini sangat diperlukan oleh siswa Indonesia agar mereka bisa mengatasi berbagai permasalah yang ada. Kita bisa mulai dari diri sendiri untuk memberikan pembelajaran kepada siswa dengan mengadaptasikan pola berpikir ala ilmuwan komputer. Membiasakan siswa belajar dengan cara berpikir tingkat tinggi. 

 

Siswa senantiasa dihadapkan dengan permasalahan dalam kehidupan nyata. Kemudian mereka diminta untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Tentu saja masing-masing siswa memiliki cara yang berbeda-beda. Hal tersebut bisa menjadi bahan diskusi di dalam kelas daring.

Salah satu contoh kegiatan yang membutuhkan berpikir komputasi/Computational Thinking adalah siswa diberikan proyek untuk melakukan budidaya ikan lele dalam ember (budikdamber). Mereka harus memahami cara membudidayakan ikan lele dalam ember, lalu siswa mengumpulkan bahan-bahannya. Selanjutnya siswa mulai mempersiapkan dan melakukan budidaya sesuai dengan langkah-langkah yang ada.

Dalam membudidayakan ikan lele dalam ember, siswa harus menyiapkan ikan lele, ember, air dan lain-lainnya yang semua itu merupakan sebuah proses bernama dekomposisi. Siswa berpikir dengan mengurutkan langkah-langkah dalam menyelesaikan masalah agar menjadi logis, berurutan, teratur, dan mudah dipahami oleh orang lain. 

Mengintegrasikan pendekatan pemikiran komputasi dalam pembelajaran memberikan kesempatan kepada guru untuk dapat menyajikan pembelajaran lebih kreatif dan lebih bermakna. Inovasi pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan siswa berpikir tingkat tinggi harus disebarluaskan kepada seluruh guru di Indonesia. Agar siswa sebagai generasi penerus bangsa Indonesia siap bersaing dengan siswa dari negara lain. Mari kita berkolaborasi untuk menebar inspirasi untuk menerapkan pembelajaran dengan pendekatakan computational thinking/pemikiran komputasi di Indonesia.

Untuk itu, penulis sekaligus pendidik, berharap kepada semua guru/pendidik di Indonesia mempunyai komitmen yang sama untuk mau meningkatkan kemampuan siswa agar terbiasa berpikir tingkat tinggi dan berpikir ala ilmuwan komputer. Harapannya, ketika siswa sudah terbiasa dengan berpikir tingkat tinggi, maka pada saat mereka mengikuti PISA (Programme for International Student Assessment) akan terbiasa dengan soal HOTS (Higher Order Thinking Skill) dan mereka tidak lagi merasa kesulitan. Sehingga hasil PISA siswa Indonesia pada tahun 2021 menjadi lebih baik dan lebih meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.*

 

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA