Friday, 6 Rabiul Awwal 1442 / 23 October 2020

Friday, 6 Rabiul Awwal 1442 / 23 October 2020

Pilih Jadi Mualaf, Putra: Saya Damai Lihat Ibadah Islam 

Selasa 06 Oct 2020 05:30 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Nashih Nashrullah

Mualaf Putra menemukan kedamaian lihat ibadah umat Islam.

Mualaf Putra menemukan kedamaian lihat ibadah umat Islam.

Foto: Dok Istimewa
Putra merasakan kedamaian saat melihat ibadah yang dilakukan umat Islam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Putra, pria berusia 36 tahun ini mulai mengenal Islam sejak dia merantau ke Jambi. Beruntung di perantauan dia tidak seorang diri. 

Dia merantau untuk meneruskan pendidikan sarjana. Dia sempat menempuh pendidikan di Medan hanya satu tahun, karena satu dan lain hal Putra memutuskan untuk pindah ke Jambi. 

Di Jambi, Putra tinggal dengan kakek dan nenek dari ayahnya. Putra sebenarnya lahir dan besar di Jakarta, kedua orang tuanya pun kini menetap di Jakarta. 

Namun mereka berasal dari Jambi, kakek dari ayahnya Tionghoa sedangkan neneknya Banjar, Kalimantan. Dengan latar belakang keluarga yang multikultural, Putra pun tumbuh di keluarga dengan multiagama. 

Kakek dan neneknya Konghucu, sedangkan kedua orang tuanya menganut Katolik. Namun  belakangan baik adik dan kakak dari ayahnya menjadi mualaf.  

Lingkungan yang Islami baik keluarga maupun teman-teman dekat membuatnya tertarik dengan Islam. Pergaulan mereka yang Muslim pun terlihat penuh kebaikan apalagi ketika mereka beribadah.  

Dengan latar belakang agama yang beranekaragam, tentu adat dan budaya mereka pun berbeda terutama saat beribadah dan dalam kegiatan sehari-hari. Ketika berada di keluarga muslim, Putra mengakui bahwa kehidupan mereka terasa lebih damai dan nyaman.  

"Jujur saya tertarik dengan Islam karena ibadah di Islam yang berbeda dan membuat hati saya terasa lebih damai melihatnya"ujar dia sebagaimana dikutip dari Harian Republika, Selasa (6/10).

Bagi Putra, Islam memiliki ajaran yang sesuai dengan pemikirannya. Berbeda dengan agama sebelumnya. Islam buat dia lebih logis.  

Putra pun kemudian mulai memperhatikan saudaranya sholat, mengaji dan berpuasa. Dia pun mempelajari dan mempraktikannya.  

Putra mengaku kesulitan apalagi menghafal bacaan arab yang jauh dari kebiasaan sebelumnya. Dan hal itu dilakukan ketika sudah dewasa. Putra terus melakukan hal tersebut sambil terus menguatkan keyakinannya. Sembari mempelajari Islam diapun tetap berkuliah.  

Sebelumnya dia kuliah satu tahun di Medan,  kemudian melanjutkan ke Jambi. Tepat pada Juni 2005, Putra yakin untuk bersyahadat di depan ulama besar Jambi KH Nasution saat majelis taklim.  

Usai bersyahadat, Putra terus istiqamah untuk mempelajari Islam. Dia bersyukur keluarga muslimnya sangat mendukung dan mendampingi Putra untuk belajar terutama mengaji dan sholat. Butuh waktu lama untuk bisa membaca bacaan sholat dengan lancar. Hingga berbulan-bulan lamanya.  

Untuk puasa, diakui Putra mampu menjalaninya tanpa kendala. Dia merasa tidak berat ketika menjalaninya. Karena Putra juga tidak terlalu suka dengan makanan minuman yang diharamkan, untuk meninggalkan hal tersebut juga tidak terlalu berat.  

Di tengah mempelajari Islam, Putra harus menghadapi ujian ketika berhadapan dengan orang tua. Dia hanya dua bersaudara tentu memiliki hubungan yang sangat dekat. Komunikasi tetap lancar meski dia telah memeluk Islam. 

Namun karena khawatir orang tua marah, Putra memang tidak memberitahukan kepada kedua orang tuanya. Benar saja, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, Putra baru memberitahu setelah kuliah selesai. 

Kedua orang tua pun awalnya tidak bisa menerima dan kecewa atas pilihannya tersebut. Apalagi Putra memberitahu setelah bersyahadat.  Putra terus meyakinkan kedua orang tuanya bahwa itu adalah pilihan hati dan keyakinannya. Lambat laun mereka pun menerimanya.  Kini ketika hari raya keduanya, mereka pun tetap saling menghormati. Meski mereka berbeda agama.

Istri Putra pun tidak mempermasalahkannya, karena sejak dekat sebelum menikah. Istrinya mengetahui dan paham mengenai perbedaan dengan orang tuanya.  

Putra yang kini menjabat Kasubag TU Kantor Badan Pertanahan Kerinci ini pun mengakui ujian terberat setelah mualaf adalah penerimaan keluarga. Memang membutuhkan waktu, namun dia bahagia karena kini hubungan mereka baik-baik saja. 

Bahkan banyak keberkahan yang dia dapatkan setelah memeluk Islam, dari mulai karir, keluarga dan terutama nikmat iman dan Islam. "Alhamdulillah saya mendapatkan berkah yang berlimpah dari Allah SWT, keluarga yang sempurna dengan istri dan dua anak. Karier yang terus membaik dan keberkahan lainnya,"ujar dia. Satu hal yang saat ini belum tercapai adalah beribadah haji dan umrah baik sendiri maupun bersama keluarga. 

Dia juga bersyukur, sebelum wafat sang nenek juga telah menjadi mualaf, meski kakek belum sempat merasakan keindahan Islam. Saat ini Putra terus berproses mendalami Islam, seperti mengaji terutama memperbaiki bacaan Alquran. 

Di lingkungan tempat tinggalnya biasanya ada pengajian rutin untuk bapak-bapak. Putra pun berusaha untuk meluangkan waktu. Diakui Putra, dengan kesibukan kerja saat ini dia tidak mengikuti komunitas pengajian tertentu.  

Dia berharap, meski memiliki perbedaan agama baik itu di lingkungan keluarga maupun di lingkungan masyarakat, antarumat beragama dapat terus saling menghormati dan menghargai.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA