Friday, 11 Ramadhan 1442 / 23 April 2021

Friday, 11 Ramadhan 1442 / 23 April 2021

Menteri Israel Malah Tuding Turki Rusak Perdamaian  

Senin 05 Oct 2020 07:59 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Nashih Nashrullah

Menteri Israel malah menuding Turki dan Iran rusak perdamaian. Israel (ilustrasi)

Menteri Israel malah menuding Turki dan Iran rusak perdamaian. Israel (ilustrasi)

Foto: westernfreepress.com
Menteri Israel malah menuding Turki dan Iran rusak perdamaian.

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM – Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz menuding Turki telah bekerja menentang upaya perdamaian dan mengguncang kawasan Teluk. 

Dia pun menyerukan dunia internasional memberi tekanan untuk membawa perubahan dalam kekuatan NATO.

"(Turki dan Iran) menolak promosi perdamaian dan mendukung agresi regional," kata Gantz menilai sikap Turki dan Iran sebagai tindak lanjut dari pembentukan hubungan antara Israel dan Uni Emirat Arab, dilansir di Reuters, Senin (5/10).

Baca Juga

Gantz juga menyinggung soal tindakan Turki di Suriah utara dan Mediterania Timur, dan intervensi Libya serta kontak dengan militan Hamas Palestina. Menurut dia, semua itu menjauhkan dari stabilitas.

"Jelas pertanyaan tentang Turki adalah pertanyaan yang sangat rumit, karena Turki adalah bagian dari NATO," kata Gantz dalam sebuah konferensi virtual yang diselenggarakan oleh Dewan Arab untuk Integrasi Regional, sebuah kelompok yang mendorong penjangkauan Israel-Arab.

Karena itu, Gantz dalam kesempatan itu mengajak untuk mengambil opsi yang ada sebagai upaya memberikan pengaruh melalui tekanan internasional.

"Kita harus mengambil semua opsi yang kita miliki dan mencoba untuk mempengaruhinya melalui tekanan internasional, untuk memastikan bahwa mereka menarik tangan mereka dari terorisme langsung," ujarnya.

Israel pada umumnya menghindari kecaman publik terhadap Turki. Israel pun tetap mempertahankan hubungan perdagangan dan diplomatik dengan Turki meski ada sikap pro-Palestina dari pemerintah Ankara selama lebih dari satu dekade.

Iran dan Turki telah mengkritik kesepakatan normalisasi 15 September yang ditengahi AS antara Israel dan negara-negara Teluk. Kedua negara itu, baik Iran dan Turki, melihat adanya pengkhianatan terhadap perjuangan Palestina.

Palestina telah kecewa dengan terobosan diplomatik Israel di kawasan Teluk, yang telah lama menunda pembicaraan tentang tujuan kenegaraan mereka di Tepi Barat yang diduduki Israel dan di Gaza.

Israel, seperti Amerika Serikat, berpendapat bahwa kesepakatan dengan UEA dan Bahrain juga dapat menghasilkan kesepakatan dengan Palestina. "Kami hanya ingin memastikan bahwa kami menemukan keseimbangan yang tepat antara menjaga keamanan kami dan memungkinkan kedaulatan Palestina," kata Gantz.  

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA