Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Studi: Kopi Kurangi Risiko Gangguan Sistem Saraf

Sabtu 03 Oct 2020 02:35 WIB

Rep: Farah Noersativa/ Red: Nora Azizah

Konsumsi kopi secara teratur secara signifikan kurangi risiko gangguan sistem saraf (Foto: ilustrasi kopi)

Konsumsi kopi secara teratur secara signifikan kurangi risiko gangguan sistem saraf (Foto: ilustrasi kopi)

Foto: Pxhere
Konsumsi kopi secara teratur secara signifikan kurangi risiko gangguan sistem saraf.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak manfaat yang bisa didapat dari mengkonsumsi kopi. Dalam sebuah studi baru, antioksidan yang ditemukan di sebagian besar minuman berkafein membantu menangkal radikal bebas yang berkontribusi pada beberapa kondisi kronik yang serius, termasuk penyakit Parkinson (PD).

Dilansir di laman The Ladders, Jumat (2/10), menurut sebuah studi baru, mengkonsumsi kopi secara teratur dapat secara signifikan mengurangi risiko seseorang mengembangkan gangguan sistem saraf. Pengurangan risiko itu bahkan jika seseorang memiliki kecenderungan genetik.

Para peneliti menyebut alasannya dari berbagai sisi. Asupan kopi yang lebih tinggi membuat peserta terpapar senyawa yang diketahui mengurangi neurodegenerasi. Di sisi lain, mereka yang memiliki kecenderungan genetik terkait dengan PD tampaknya memiliki keengganan terhadap konsumsi kopi yang sering.

Lebih dari separuh partisipan yang terlibat dalam laporan tersebut telah didiagnosis dengan Parkinson sebelum direkrut. Meskipun demikian, hanya beberapa dari mereka yang mengungkapkan mutasi LRRK2 atau mutasi genetik yang dipelajari secara independen untuk meningkatkan risiko seseorang terkena Parkinson di kemudian hari.

Bagian yang sebanding dari peserta tanpa Parkinson memiliki mutasi gen. Semua ditugaskan untuk mengisi kuesioner diet sebelum analisis.

Hasilnya, sebanyak 76 persen dari mereka dalam kelompok Parkinson membuktikan rendahnya tingkat kafein dalam darah mereka dibandingkan dengan peserta yang tidak menderita Parkinson.

Sementara itu, mereka yang menderita Parkinson tetapi tidak dengan mutasi genetik memiliki konsentrasi kafein 31 persen lebih rendah dibandingkan dengan kelompok non-Parkinson tanpa mutasi gen.

Tinjauan tindak lanjut mengungkapkan, mereka yang termasuk dalam kelompok yang memiliki konsentrasi kafein tinggi dalam darah mereka secara dramatis menurunkan risiko terkena penyakit Parkinson.

“Hasil ini menjanjikan dan mendorong penelitian di masa depan yang mengeksplorasi kafein dan terapi terkait kafein untuk mengurangi kemungkinan orang dengan gen ini mengembangkan Parkinson,” ungkap penulis studi Dr Grace Crotty, dari Rumah Sakit Umum Massachusetts di Boston.

Anggota American Academy of Neurologi itu mengatakan, kemungkinan kadar kafein dalam darah dapat digunakan sebagai penanda biologis untuk membantu mengidentifikasi orang dengan gen ini yang akan mengembangkan penyakit. Namun, dengan asumsi kadar kafein tetap relatif stabil.

Peserta dengan Parkinson dan mutasi gen cenderung minum lebih sedikit kafein dibandingkan dengan kelompok penelitian secara keseluruhan. Sampel pasien PD yang bermutasi gen mengonsumsi sekitar 41 persen lebih sedikit kafein sehari daripada semua pasien tanpa PD yang ditampilkan dalam laporan tersebut.

“Kami belum tahu apakah orang yang cenderung Parkinson cenderung menghindari minum kopi atau jika beberapa pembawa mutasi minum banyak kopi dan mendapat manfaat dari efek neuroprotektifnya,” Crotty menyimpulkan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA