Jumat 02 Oct 2020 11:15 WIB

Partai Ummat dan Sulitnya Menggaet Suara Pemilih

Tidak mudah bagi partai baru seperti Partai Ummat lolos ambang batas parlemen.

Tangkapan layar video mantan Ketua MPR Amien Rais yang mengumumkan nama partai barunya, yakni Partai Ummat, Kamis (1/10).
Foto: Tangkapan layar
Tangkapan layar video mantan Ketua MPR Amien Rais yang mengumumkan nama partai barunya, yakni Partai Ummat, Kamis (1/10).

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Febrianto Adi Saputro, Rizky Suryarandika, Nawir Arsyad Akbar

Politikus senior Amien Rais resmi mendeklarasikan partai barunya yang ia beri nama Partai Ummat, Kamis (1/10). Analis Politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago mempertanyakan target ceruk segmen pemilih yang akan diambil Partai Ummat. Menurutnya akan sulit bagi Partai Ummat jika hanya menyasar suara pemilih muslim.

Baca Juga

"Saya lihat Partai Ummat justru membuat ruang gerak mereka terbatas untuk mengambil ceruk segmen mereka menjadi lebih, ruang geraknya agak lebih sulit untuk memperlebar segmen pemilih, dan tentu bisa saja itu merugikan Partai Ummat sendiri," kata Pangi kepada Republika.co.id, Jumat (2/10).

Ia menjelaskan ketika ada label 'umat' melekat, maka yang menjadi pertanyaan adalah umat agama mana yang dimaksud. Dirinya juga mempertanyakan apakah Partai Ummat nantinya juga akan menyasar umat agama lain atau hanya umat muslim.

"Karena partai itu harus meluas kan sayapnya, sehingga segmen pemilih yang mereka ambil itu jangan dibatasi," ujarnya.   

Selain itu, Pangi memandang pemilih muslim belum tentu akan memilih partai Islam. Beberapa pemilih yang beragama Islam justru ada juga yang memilih partai nasionalis. Sehingga tidak heran jika banyak partai yang mengambil jalan tengah dengan ideologi nasionalis religius.

"Sehingga segmennya dapat keduanya, segmen nasionalis dapat, segmen Islamnya juga dapat," ujarnya.

Pangi menjelaskan, tidak mudah bagi partai baru seperti Partai Ummat untuk bisa lolos ambang batas parlemen. Hal tersebut dibuktikan pada pemilu 2019 lalu tidak ada satu pun partai baru seperti PSI, Perindo, Partai Berkarya, dan Partai Garuda yang lolos ke Senayan. Belum lagi Partai Ummat juga harus berkontestasi dengan partai yang juga mengambil ceruk pemilih muslim seperti PKB, PAN, PKS.

"Untuk lolos di ambang batas parlemen itu butuh maintenance, butuh kepiawaian kemahiran tersendiri dan itu tidak mudah itu kalau tidak memahami apa yang menjadi cita rasa, apa yang menjadi perilaku pemilih, apa yang disenangi, apa yang disukai, berhasil membaca sentimen, mengambil empati dan bermain pada populisme," ucapnya.

Oleh karena itu Pangi melihat ada dua faktor keberhasilan bagi Partai Ummat ke depan. Pertama yaitu bertumpu pada ketokohan sentral Amien Rais, kedua yaitu kemampuan Partai Ummat menggaet tokoh-tokoh populis, dan senior yang mampu mempengaruhi pemilih.

"Apakah ada orang berbondong-bondong nggak ke partai tersebut, atau di PAN sendiri nggak ada tertarik berminat atau sedikit yang nanti bergabung ke Partai Ummat ini, ini tantangan bagi Pak Amien Rais sendiri," tuturnya.

Analis politik dan Direktur IndoStrategi Research and Consulting Arif Nurul Imam menilai Partai Ummat akan membidik umat Islam. "Partai baru bentukan Pak Amien Rais saya kira mencoba membidik dukungan dari umat Islam," kata analis politik dan Direktur IndoStrategi Research and Consulting Arif Nurul Imam dalam keterangan pers.

Menurut Arif, pilihan ceruk umat Islam tentu memiliki berbagai konsekuensi politik. Dengan asas dan identitas yang jelas maka sasaran bidik lahan untuk meraup dukungan elektoral sudah jelas.

"Masalahnya parpol Islam atau berbasis massa umat Islam di Indonesia sepanjang sejarah tak pernah mendapatkan dukungan penuh dari umat Islam," ujar Arif.

Selain itu, lanjutnya, parpol yang melabelkan sebagai partai Islam juga banyak, baik tradisional maupun modern seperti PKB, PPP, PAN, PKS, dan PBB. Arif meyakini sebagai pendatang baru tentu partai Umat akan mencoba mengiris pendukung partai Islam yang sudah ada. Padahal partai-partai Islam banyak yang harus berjuang agar tetap lolos parlemen threshold.

"Melihat perebutan dukungan pemilih demikian, maka Partai Umat tidak mudah untuk lolos parlement Threshold kecuali harus sungguh-sungguh melakukan kerja politik dengan maksimal," pungkas Arif.

Partai Amanat Nasional (PAN) mengingatkan sejumlah hal kepada Partai Ummat sebagai syarat untuk berpolitik. Salah satunya adalah syarat mengikuti pemilihan umum yang tidaklah mudah.

"Ada persyaratan berdirinya partai politik baru, ada persyaratan partai politik baru dapat mengikuti kontestasi pemilu sebagai peserta, dan ada persyaratan partai politik peserta pemilu lolos parliamentary threshold (PT)," ujar Wakil Ketua Umum PAN, Viva Yoga Mauladi, Kamis (1/10).

Selain itu, membuat partai baru di waktu seperti sekarang ini akan cukup sulit. Sebab, dalam menjalani dunia politik Indonesia membutuhkan sumber daya yang kuat.

"Sistem kepartaian dan pemilu menurut menurut Undang-undang tentang Partai Politik dan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu tentu membutuhkan sumber daya partai yang kuat," ujar Viva.

Meski begitu, ia mengucapkan selamat atas dideklarasikannya Partai Ummat, besutan Amien Rais. Dengan adanya pengumuman ini, mantan Ketua MPR itu secara resmi dan legal telah keluar dari partai berlambang matahari itu.

"PAN mengucapkan selamat datang kepada Partai Ummat di gelanggang politik. Secara ideologi politik, PAN dan Partai Ummat berbeda, PAN berideologi nasionalis-religius, Partai Ummat itu partai Islam," ujar Viva.

Partai Islam diduga akan menjadi saingan Partai Ummat memperebutkan suara. Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hidayat Nur Wahid (HNW), mengatakan PKS tidak panik akan kehilangan suara pendukungnya.

"Kami memahami kedewasaan daripada para pemilih. Para pemilih memiliki kedewasaannya, mereka udah berkali-kali ikut pemilu, pastilah karenanya mempunyai pengenalan terhadap masing-masing partai," ujar HNW kepada wartawan, Kamis (1/10).

Pemilih saat ini, dinilainya lebih paham dengan partai yang didukungnya. Termasuk perihal visi, misi, dan programnya dalam mendengarkan dan menyampaikan aspirasi masyarakat.

PKS, kata HNW, juga sudah memiliki target pendukung yang jelas dalam setiap pemilihan umum. Sehingga, kehadiran Partai Ummat diyakininya tak akan mengurangi jumlah pendukungnya.

"Pemilih PKS itu relatif targetif atau ceruknya sudah jelas, di tahun 2019 kemarin kan ada juga banyak kader yang pemilihan tidak ikut pemilu dan bikin partai baru sekarang. Suara PKS malah nambah," ujar HNW.

Meski begitu, Partai Ummat dinilai cukup menjanjikan karena kehadiran Amien. Sebab, sosoknya memiliki rekam jejak yang baik dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat.

"Beliau yang lintas kelompok, lintas ormas, lintas suku, lintas agama juga tentu memudahkan beliau untuk bisa mensosialisasikan atau yang menjadi cita-cita beliau melalui partai ini," ujar Wakil Ketua MPR itu.

Keputusan Amien mendirikan Partai Ummat juga tak ditentang oleh HNW. Itu merupakan hak politik yang sudah termaktub dalam Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945.

"Kita sampaikan selamat ya Pak Amien Rais membuat atau menggunakan hak konstitusionalnya sebagai wakil negara atau tokoh senior yang menghadirkan reformasi," ujar HNW.

Pendiri PAN, Amien Rais resmi mengumumkan nama partai politik barunya, yakni Partai Ummat. Ia mengatakan, partai barunya itu bertekad untuk melawan kezaliman yang dilakukan oleh negara dan menegakkan keadilan.

“Partai Ummat Insya Allah bertekad akan bekerja dan berjuang bersama anak bangsa lainnya melawan kezaliman dan menegakkan keadilan,” ujar Amien dalam video yang diunggahnya di Youtube, kemarin.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement