Sunday, 8 Rabiul Awwal 1442 / 25 October 2020

Sunday, 8 Rabiul Awwal 1442 / 25 October 2020

Dang Umar, di Balik Aksi Tumpas PKI Madiun

Jumat 02 Oct 2020 05:35 WIB

Red: Erik Purnama Putra

Gedung Jenderal Umar Wirahadikusumah di Kodam Jaya yang diresmikan Pangdam Jaya Mayjen Dudung Abdurachman pada Jumat (2/9).

Gedung Jenderal Umar Wirahadikusumah di Kodam Jaya yang diresmikan Pangdam Jaya Mayjen Dudung Abdurachman pada Jumat (2/9).

Foto: Dok
Gedung utama Kodam Jaya diberi nama Gedung Jenderal Umar Wirahadikusumah. Mengapa?

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Selamat Ginting/Wartawan Senior Republika

Oktober menjadi bulan bersejarah bagi Dang Umar, seorang tentara berkumis tipis dan rapi. Pada Oktober 1959, Angkatan Darat (AD) melakukan reorganisasi besar-besaran. Untuk pertama kalinya membentuk sejumlah Komando Daerah Militer (Kodam). Termasuk Kodam V Jaya (Jayakarta).

Sejumlah Kolonel senior berharap bisa memegang kendali sebagai Panglima Kodam (Pangdam) V Jaya. Prestise dan bergengsi tinggi. Penguasa pertahanan dan keamanan Ibu Kota Negara. Tak disangka, pilihan justru jatuh kepada Umar Wirahadikusumah. Ia dilantik dengan pangkat baru, Kolonel.

Sebelumnya pada Januari 1959, Umar dilantik menjadi Komandan Komando Militer Kota Besar (KMKB) Jakarta Raya. Merangkap jabatan Ketua Penguasa Perang Daerah Swatantra Jakarta Raya. Jakarta masih dalam status keadaan perang. Bahasa Belandanya, Staat van Oorlog en Beleg (SOB).

Hari ini, 2 Oktober 2020, pimpinan TNI memberikan penghargaan kepada Dang Umar. “Jumat pagi datang ke Kodam Jaya ya. Kita resmikan Gedung Jenderal TNI Umar Wirahadikusumah,” kata Pangdam Jaya, Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Dudung Abdurachman kepada penulis melalui Whatsapp.

Ibu Wakil Negara periode 1983-1988, Nyonya Karlinah Djajaatmadja beserta keluarga direncanakan hadir. Wakil Presiden periode 1983-1988, Jenderal (Purnawirawan) Umar Wirahadikusumah wafat pada 21 Maret 2003 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta.

Sabotase Jenderal
Dang Umar merupakan panggilan kecil almarhum Jenderal TNI (Purnawirawan) Umar Wirahadikusumah. Dang menandakan bahwa ia anak seorang wedana. Wedana adalah asisten bupati yang berkedudukan di atas camat dalam pemerintahan Hindia Belanda. Almarhum ayahnya, Raden Rangga Marjunani Wirahadikusumah merupakan Wedana Cibatu, Kabupaten Garut.

Ayahnya wafat saat Umar berusia 20 tahun usai menyelesaikan pendidikan militer Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor. Ibunya, Nyi Raden Lesmana Ratnaningrum wafat saat Umar berusia lima tahun. Ibu Wakil Negara periode 1983-1988 Karlinah tentu tak bisa lupa ketika suaminya dilantik sebagai panglima pertama Kodam Jaya pada Oktober 1959 oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Mayor Jenderal TNI Gatot Subroto.

Gatot atas nama KSAD Jenderal Abdul Haris (AH) Nasution melantik Kolonel (Infanteri) Umar Wirahadikusumah sebagai panglima pertama Kodam V Jayakarta (kini disebut Kodam Jaya). Pelantikan dilaksanakan di Markas Kodam V Jaya yang kini sudah menjadi kompleks Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.

Gatot Subroto bagi Umar seperti 'bapak angkatnya'. Bahkan saat Overste (Letnan Kolonel) Umar bersanding dengan Karlinah pada resepsi perkawinan di Bandung, Gatot hadir. Pada malam resepsi pernikahan 2 Februari 1957, tiba-tiba lampu padam. Tamu undangan heboh. Gelap gulita sekitar dua sampai tiga menit.

Dari bangku undangan, terdengar suara menggelegar menggunakan bahasa Belanda. “Mar...! Geet haar!” Artinya kurang lebih Mar (Umar) berikan kecupan. Lampu kemudian menyala kembali. Suara bariton berbahasa Belanda itu, ternyata Mayjen Gatot Subroto sambil tertawa terbahak-bahak.

Kali ini, sang Letkol berusia 32 tahun itu menolak perintah. Ia tak mengecup istrinya yang tersipu malu. Karlinah putri dari Djajaatmadja seorang perwira Angkatan Udara (AU). Sabotase lampu mati, kemungkinan memang telah direncanakan Gatot Subroto. Padahal anah buah Umar turut menjaga acara resepsi. Siapa berani menentang rencana sabotase dari seorang Jenderal?

Ganyang PKI Muso
Gatot mengenal Umar saat operasi menumpas Partai Komunis Indonesia (PKI) Muso pada September 1948. Hal ini setelah Muso mendeklarasikan Republik Soviet Indonesia di Madiun. Gubernur Militer Jawa Tengah (Jateng), Kolonel Gatot Subroto ditunjuk sebagai Komandan Pasukan Reserve Umum. Pasukan ini berasal dari Divisi Siliwangi dan bertugas menyerbu Madiun dan mengunci para pemberontak komunis dari arah perbatasan Jateng.

Sebagai komandan batalyon, Kapten Umar Wirahadikusumah di bawah brigade operasi Letnan Kolonel Sadikin. Brigade ini langsung di bawah kendali Kolonel Gatot Subroto. Pasukan Siliwangi diandalkan untuk menumpas PKI Muso, karena pasukan dari Divisi Brawijaya maupun Diponegoro banyak yang tersusupi PKI.

Dalam tempo 12 hari, TNI berhasil menumpas komunis pimpinan Muso pada 30 September 1948. Batalyon Umar kemudian ditugasi menduduki Kota Magetan untuk mengadakan pembersihan. Umar menyaksikan langsung penggalian sejumlah kuburan serta sumur berisi para pejabat daerah, termasuk bupati yang dianiaya oleh PKI kemudian dikuburkan di wilayah itu. 

Dalam situasi mencekam, rakyat melakukan pembalasan terhadap sejumlah pentolan PKI. Rakyat membunuh beberapa orang pengikut Muso di Alun-Alun Magetan. Kapten Umar ditarik menjadi Kepala Pemerintahan Militer Magetan. Ia mendampingi pejabat baru Bupati Magetan Ahmad Sukarma Widjaja yang masih ketakutan dengan ulah komunis.

Setelah berhasil melakukan stabilisasi keamanan di Jateng, Kesatuan Reserve Umum X alias Divisi Siliwangi pun kembali ke Jawa Barat (Jabar). Umar pun harus berjalan kaki menuju Jabar. Ya, 11 Batalyon Divisi Siliwangi melakukan longmarch ke Jabar dengan rasa bangga dapat menumpas PKI Muso.

Namun sebelum longmarch, Panglima Divisi menunjuk Kapten Umar sebagai Komandan ‘Komando Troop’ dibentuk secara darurat untuk perjalanan panjang ini. Saat mereka berjalan kaki menuju Jabar, tiba-tiba Ibu Kota Indonesia, Yogyakarta diserang Belanda dengan membabi buta. Inilah Agresi Militer Kedua Belanda.

Menjadi menarik, mengapa militer Belanda menyerang Yogyakarta saat Pasukan Siliwangi sudah hampir sampai di Jabar? Pasukan Siliwangi hijrah ke Yogyakarta dan Jateng juga akibat Perjanjian Renville yang menyakitkan. Divisi Siliwangi yang dipimpin AH Nasution kena getahnya.

Mereka harus mengosongkan wilayahnya dan terpaksa pindah ke Yogyakarta dan Jateng pada Desember 1947. Pada Januari hingga Juli 1947 pula, Kapten Umar menjadi ajudan Kolonel AH Nasutin, Panglima Divisi III Siliwangi. Baik Nasution maupun Gatot sayang pada Dang Umar. Orang yang tidak banyak bicara, namun banyak bekerja.

Disenangi para komandan
Itulah mengapa baik AH Nasution maupun Gatot Subroto saat memimpin Markas Besar AD (Mabesad) justru memilih Umar sebagai panglima pertama Kodam Jaya. Letnan Jenderal (Letjen) Achmad Yani yang kemudian menggantikan Nasution sebagai Panglima Angkatan Darat (Pangad) juga percaya kepada Umar.

Mengapa? Karena Yani tahu Umar adalah perwira AD yang antikomunis. Tanpa banyak yang tahu, sebagai Pangdam Jaya, pada 1962 sudah berpangkat Brigadir Jenderal Umar menciptakan situasi kondusif di Jakarta Utara. Awalnya banyak tindakan kriminal bersenjata yang sulit dilumpuhkan oleh polisi.

Ternyata di belakang pelaku kejahatan itu adalah tentara dari berbagai angkatan yang berafiliasi kepada komunis. Pesan Brigjen Umar satu, ”Haak het gewoon af! Habisi saja.” Hasilnya 12 tentara di belakang aksi kriminal itu dieksekusi anak buah Umar. Umar melaporkan hal tersebut kepada Pangad Letjen Achmad Yani. 

Kepada Yani pula, Umar mendukung langkah AD yang tidak setuju dengan rencana pembentukan Angkatan Kelima, yakni buruh dan tani dipersenjatai. Umar tentu sudah paham, karena ia bepengalaman menumpas PKI di Jateng dan Jatim pada September 1948.

Tulisan ini disarikan dari buku Umar Wirahadikusumah: Menegakkan Kebenaran dalam Diam karya Herry Gendut Janarto, penerbit Pustaka Kayutangan, Malang, tahun 2006.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA