Friday, 6 Rabiul Awwal 1442 / 23 October 2020

Friday, 6 Rabiul Awwal 1442 / 23 October 2020

Perlakuan Yahudi Terhadap 2 Golongan Mereka yang Bersyahadat

Kamis 01 Oct 2020 22:14 WIB

Red: Nashih Nashrullah

2 Yahudi yang masuk Islam pada era Rasulullah SAW mendapat respons negatif.  Ilustrasi syahadat

2 Yahudi yang masuk Islam pada era Rasulullah SAW mendapat respons negatif. Ilustrasi syahadat

Foto: kaligrafibambu.com
2 Yahudi yang masuk Islam pada era Rasulullah SAW mendapat respons negatif.

REPUBLIKA.CO.ID,  

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ

“Sesungguhnya agama yang diakui Allah adalah Islam. Dan tidaklah kaum yang diberi al-Kitab itu berselisih paham, kecuali setelah datangnya bukti yang meyakinkan karena kedengkian di antara mereka.” (QS Ali Imran: 19). 

Baca Juga

Alquran juga menyebutkan bahwa kaum ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) memang tidak sama. Ada yang kemudian beriman kepada kenabian Muhammad SAW. Jumlahnya sedikit (QS 2:88). Tetapi, sebagian besar fasik (QS 3:110). 

Di zaman Rasulullah SAW, ada dua tokoh Yahudi terkemuka yang akhirnya memeluk Islam, beriman kepada risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Keduanya, yakni Hushein bin Salam dan Mukhairiq, mereka menjadi bahan cemoohan kaumnya sendiri. Jika sebelumnya mereka sangat dihormati, setelah masuk Islam mereka dikucilkan. 

Moenawar Khalil, dalam bukunya, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW (Jakarta: GIP, 2001), menceritakan, Hushein bin Salam kemudian diganti namanya oleh Rasulullah SAW menjadi Abdullah bin Salam.

Dia pernah membuktikan bagaimana sikap kaumnya terhadap dirinya. Suatu ketika, kaum Yahudi datang kepada Rasulullah saat Abdullah bin Salam sedang di sana. Dia berpesan kepada Rasulullah agar menanyakan kepada kaumnya, bagaimana pandangan mereka terhadap dirinya.

Saat kaum Yahudi datang, Rasulullah SAW bertanya pada mereka, bagaimana pandangan mereka terhadap Husein. Yahudi menjawab, “Dia adalah sebaik-baik orang kami dan sebaik-baik anak lelaki orang kami. Dia adalah semulia-mulia orang kami dan anak lelaki dari seorang yang paling alim dalam golongan kami. Karena dewasa ini di Kota Madinah tidak ada seorang pun yang melebihi kealimannya tentang kitab Allah (Taurat).”

Kaum Yahudi itu memuji-muji Abdullah. Kemudian Abdullah muncul dan mengajak kaum Yahudi untuk beriman pada kenabian Muhammad SAW. Abdullah mengatakan kepada kaumnya bahwa mereka sebenarnya telah memahami Muhammad adalah utusan Allah, sebab sifat-sifatnya telah disebutkan dalam kitab mereka. Mendengar ucapan Abdullah bin Salam, kaum Yahudi berbalik mencaci maki dan menuduhnya sebagai pendusta. Sebab, dia sudah tidak lagi memeluk agama Yahudi. Ketika itu, turunlah wahyu kepada Rasulullah SAW: 

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَكَفَرْتُمْ بِهِ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ مِثْلِهِ فَآمَنَ وَاسْتَكْبَرْتُمْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Katakanlah, ‘Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Alquran itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya, dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Alquran lalu dia beriman, sedangkan kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim’.” (QS al-Ahqaf: 10).

Setelah kabar keislaman Abdullah bin Salam tersiar di kalangan kaum Yahudi, mereka dengan congkak dan sombong mengata-mengatai, mencaci maki, menghina, menjelek-jelekkan dan memusuhinya dengan sekeras-kerasnya. Abdullah bin Salam tidak mempedulikan caci maki keluarga dan kaumnya.

Dia terus bertahan dalam Islam dan termasuk sahabat Nabi dari kaum Anshar. Dia meninggal tahun 43 H di Madinah, di masa Khalifah Mu’awiyah. “Mereka itu tidak sama. Di antara ahli kitab itu ada golongan yang berlaku lurus. 

لَيْسُوا سَوَاءً ۗ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ  يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُولَٰئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ وَمَا يَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ يُكْفَرُوهُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِينَ

“Mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan. Mereka menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan. Mereka itu termasuk orangorang yang saleh. Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, sekali-kali mereka tidak dihalangi (menerima pahala). Allah Mahamengetahui orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran ayat 113-115).

Abdullah bin Salam termasuk di antara kaum Yahudi yang menyimpang dari tradisi kaumnya yang menolak kenabian Muhammad SAW. Dia berani menentang tradisi kesombongan kaumnya sendiri.

 

*Naskah ini merupakan bagian dari artikel Dr Adian Husaini yang tayang di Harian Republika, Ahlul Kitab; Dulu dan Kini, pada 2011. 

 

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA