Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Dokter Sedih Lihat Presenter tak Pakai Masker Saat Siaran

Jumat 02 Oct 2020 03:23 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Gita Amanda

Ilustrasi Covid-19

Ilustrasi Covid-19

Foto: Pixabay
Presenter harus menjadi figur teladan yang memberikan contoh memakai masker.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dokter Spesialis Bedah Orthopedi dan Traumatologi, Norman Zainal, menyampaikan kritikannya terkait sejumlah presenter televisi maupun narasumber yang tak mengenakan masker saat siaran. Padahal selama ini di lapangan razia penggunaan masker massif dilakukan.

"Selama ini kan ada razia masker dan masyarakat yang tidak mentaatinya mendapatkan sanksi disuruh push up atau membayar denda. Tetapi sayangnya di media mainstream, si host atau pengisi acaranya, kemudian narasumbernya tidak memakai masker," kata Dokter Norman saat mengisi konferensi virtual Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bertema 'Pencegahan Covid-19: Beda Masyarakat, Beda Strategi?', Kamis (1/10).

Sebagai bagian dari tenaga medis, Zainal mengaku sedih karena media tidak bisa memberikan contoh untuk menaati protokol kesehatan. Ia meminta semua pihak dan media harus fokus terhadap penularan ini.

Apalagi, dalam sebuah acara di satu ruangan ternyata terdapat banyak orang, mungkin lebih dari dua orang. Padahal, tidak menutup kemungkinan droplet penderita Covid-19 yang juga bekerja di media ini kemudian jatuh ke lantai. Kemudian droplet penderita Covid-19 diinjak sepatu kru yang lain, atau terkena baju, dan bisa menular ke yang lain.

"Jadi sebagai tenaga medis, saya minta pemimpin tertinggi media atau Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), bahkan presiden supaya menginstruksikan bahwa semua harus pakai masker," katanya.

Menurutnya, media tidak akan mati kalau pegawainya termasuk pembawa acara memakai masker. Menurutnya, penurunan kasus Covid-19 bisa diminimalisasi jika terjadi perubahan perilaku masyarakat yaitu masyarakat yakin ada bagian tubuh badannya yang seakan menjadi aurat wajib ditutup yaitu mulut dan hidung.

Ia juga menganjurkan adanya figur teladan yang memberikan contoh memakai masker. Sebab, dia melanjutkan, masyarakat Indonesia masih paternalistik yang melihat tokoh panutannya.  

"Kita juga perlu edukasi tokoh panutan atau leader ini bagaimana memberikan keteladanan yang baik," katanya.

Yang juga tak kalah penting, Norman melanjutkan, adalah penegakan hukum dan regulasi mengenai masalah ini.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA