Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Azerbaijan dan Armenia Dinilai Ingin Berkonflik Lebih Lama

Kamis 01 Oct 2020 15:05 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Foto yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Armenia, menunjukkan sebuah tank Azerbaijan yang hancur akibat serangan militer Armenia.

Foto yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Armenia, menunjukkan sebuah tank Azerbaijan yang hancur akibat serangan militer Armenia.

Foto: Armenian Defense Ministry via AP
Konfrontasi Azerbaijan dan Armenia terbaru merupakan yang terburuk dalam empat tahun

REPUBLIKA.CO.ID, BAKU -- Pertempuran antara Armenia dan Azerbaijan di Nagorno-Karabakh telah menarik perhatian dunia internasional. Konfrontasi antara kedua negara sejak pekan lalu merupakan yang terburuk dalam empat tahun terakhir.

Direktur program Kaukasus di organisasi pembangunan perdamaian Conciliation Resources, Laurence Broers mengatakan pertempuran terbaru tampaknya didorong oleh upaya pasukan Azerbaijan untuk merebut kembali sebagian wilayah yang diduduki pasukan Armenia dalam perang Karabakh setelah Uni Soviet runtuh. Ratusan ribu etnis Azeri mengungsi dari daerah tersebut pada tahun 1992-1994.

Eskalasi terjadi setelah adanya retorika perang dan bentrokan di wilayah utara perbatasan internasional Armenia-Azerbaijan pada Juli lalu. Daerah berpenduduk di wilayah yang diperebutkan Nagorno-Karabakh telah dilanda serangan rudal dan pemboman untuk pertama kalinya sejak 1990-an. Sasaran sipil di Armenia dan Azerbaijan juga telah diserang. "Kedua belah pihak tampaknya sedang menggali untuk konflik yang lebih lama," kata Broers, dikutip laman BBC pada Rabu (30/9).

Baca Juga

Dia mengatakan Azerbaijan telah menolak negosiasi baru dengan Armenia. Tidak seperti sebelumnya, Azerbaijan pun memperoleh dukungan yang lebih besar dan kuat dari Turki. "Bahayanya adalah bahwa konflik yang lebih lama dan berlarut-larut akan meningkatkan keterlibatan kekuatan luar, mempertaruhkan perang regional yang lebih luas," ucapnya.

Menurut Broers, keberhasilan militer yang cepat dan terkonsolidasi, baik melalui perebutan kembali wilayah yang signifikan oleh Azerbaijan atau penumpasan operasi Azerbaijan oleh pasukan Armenia, dapat membuka ruang lingkup untuk gencatan senjata. Namun hal itu tentu memicu ketidakstabilan domestik.

Sejak Ahad (27/9) lalu, pasukan Armenia dan Azerbaijan terlibat pertempuran di wilayah Nagorno-Karabakh yang dipersengketakan. Sejauh ini terdapat lebih dari 100 kematian yang dikonfirmasi di antara warga sipil dan tentara Armenia. Azerbaijan belum merilis data tentang kerugian militernya, tetapi dapat diasumsikan ia mengalami hal yang sepadan.

Konflik antara Armenia dan Azerbaijan dimulai pada Februari 1988, tepatnya ketika Daerah Otonomi Nagorno-Karabakh mengumumkan pemisahannya dari SSR (Republik Sosialis Soviet) Azerbaijan. Selama konflik 1992-1994, Azerbaijan kehilangan kendali atas Nagorno-Karabakh dan tujuh wilayah yang berdekatan. Sejak 1992, telah dilakukan negosiasi penyelesaian konflik secara damai dalam kerangka OSCE (Organization for Security and Co-operation in Europe) Minsk Group yang diketuai oleh Rusia, Amerika Serikat, dan Prancis.  Namun, dorongan besar terakhir untuk kesepakatan damai gagal pada 2010. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA