Kamis 01 Oct 2020 15:25 WIB

Face Shield tak Efektif Jebak Aerosol Secara Menyeluruh

Setengah dari tetesan berukuran 50 mikrometer ke atas lolos dari pelindung wajah.

Rep: Puti Almas/ Red: Dwi Murdaningsih
Face shield (ilustrasi).
Foto: www.freepik.com
Face shield (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO — Penularan virus corona jenis baru melalui udara, yang dikenal dengan istilah airborne telah membuat banyak orang berupaya semaksimal mungkin melindungi diri. Salah satunya dengan menggunakan face shield atau pelindung wajah.

Benda ini ditujukan untuk melindungi seluruh bagian wajah pengguna. Face shield dianggap mampu memberikan perlindungan terhadap tetesan atau percikan cairan yang berpotensi menginfeksi, seperti virus corona jenis baru.

Baca Juga

Dalam hal airborne, di mana tetesan berupa aerosol, ternyata face shield dianggap tidak efektif untuk menjebaknya. Hal ini diketahui dalam sebuah studi terbaru yang dilakukan dengan menggunakan simulasi dari Fugaku, komputer super asal Jepang.

Saat virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) yang menyebabkan infeksi penyakit COVID-19 diketahui dapat menyebar melalui udara, para peneliti meninjau kembali rekomendasi tentang masker dan pelindung wajah.

Seperti yang telah diketahui, penggunaan benda-benda tersebut menawarkan perlindungan yang tidak sempurna, tetapi tetap penting dalam membantu menahan penyebaran virus. Namun, berdasarkan penelitian terbaru ini, face shield mungkin tidak sebaik yang diperkirakan.

Riken, sebuah lembaga penelitian yang didukung Pemerintah Jepang mengatakan sekitar setengah dari tetesan berukuran 50 mikrometer ke atas lolos dari pelindung wajah. Sementara, hampir 100 persen partikel udara berukuran kurang dari lima mikrometer lolos.

Kesimpulan bergantung pada simulasi dinamika fluida yang dilakukan menggunakan super komputer Fugaku. Dilansir Zmescience, belum diketahui persis bagaimana virus corona jenis baru menyebar melalui tetesan dengan ukuran berbeda.

Namun, jika sebagian besar tetesan dapat lolos dari face shield, ini menunjukkan bahwa setidaknya dengan sendirinya, bahwa benda ini sama sekali bukan cara yang efektif untuk memberi perlindungan. Namun, tidak berarti bahwa pelindung wajah tidak berguna sama sekali.

Face shield diketahui masih membatasi paparan beberapa aerosol, yang berarti bahwa pelindung wajah dapat meningkatkan perlindungan yang ditawarkan oleh masker. Namun, mengenakan pelindung wajah tanpa sarana perlindungan lain tidak menawarkan perlindungan, dan sama sekali tidak dapat berfungsi sebagai pengganti masker.

Sebagai pengecualian, orang yang tidak dapat menggunakan masker (seperti orang yang memiliki masalah pernapasan), dapat mempertimbangkan untuk hanya menggunakan pelindung wajah.

Pelindung wajah telah menjadi populer terutama di industri perhotelan, karena menawarkan cara yang tidak terlalu rumit bagi bisnis untuk melindungi karyawan mereka. Namun berdasarkan temuan baru-baru ini, itu bukanlah praktik yang baik.

Ini bukan pertama kalinya Fugaku memberikan sebuah pengetahuan. Sebelumnya, komputer super yang dapat melakukan lebih dari 415 kuadriliun komputasi per detik, juga telah memberikan masukan berharga tentang pandemi.

Baru-baru ini komputer super senilai hingga 1,23 miliar dolar AS tersebut menemukan bahwa masker wajah yang terbuat dari kain bukan tenunan lebih efektif dalam memblokir penyebaran virus daripada dengan bahan katun atau poliester. Meski demikian, masker katun juga terbukti cukup efektif.

“Satu hal yang paling berbahaya adalah tidak memakai masker hanya karena cuaca panas. Penting untuk memakai masker, bahkan meski dengan bahan kain yang kurang efektif,” ujar Makoto Tsubokura, ketua tim di Riken's Center for Computational Science.

Fugaku tidak beroperasi penuh dan baru akan beroperasi tahun depan.  Para peneliti berencana menggunakan komputer super ini untuk mengidentifikasi pengobatan dari sekitar 2.000 obat yang ada.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement