Wednesday, 4 Rabiul Awwal 1442 / 21 October 2020

Wednesday, 4 Rabiul Awwal 1442 / 21 October 2020

Untung dan Rugi Aksi G30S PKI Bagi Umat Islam

Kamis 01 Oct 2020 08:33 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Pengangkatan jenazah para jendral di Lobang Buaya.

Pengangkatan jenazah para jendral di Lobang Buaya.

Foto: wikipedia
Ternyata pemberontakan PKI hanya membuat posisi umat Islam semakin rugi.

REPUBLIKA.CO.ID -- Harus diakui Muslim Indonesia mengalami trauma parah kepada sepak  terjang kaum komunis. Pertarungan ini sangat terasa pada waktu usai pemberontakan G30S PKI. Bahkan, sebenarnya pertarungan yang berdarah ini sudah terjadi sejak jauh-jauh hari sebelumnya. 

Bahkan, sengit dan berdarahnya pertarungan umat Islam (santri) melawan komunis yang terindikasi mulai terjadi pada awal 1920-an kemudian memuncak pada peristiwa berdarah di peridoe akhir 1965 hingga pertengahan tahun 1966 itu.

Di wilayah, di Jawa Tengah dan Timur misalnya, dalam tiga bulan setelah Oktober 1965 terjadi peristiwa aksi saling bunuh yang meluas. Rakyat konflik tak terkendali. Saling babat. Pilihannya hanya satu: dibunuh atau membunuh.

Di tengah kekacauan itu, musim yang sudah lama geram bersatu dengan tentara angkatan darat yang jendralnya menjadi korban pembantaian di Lubang Buaya. Kelompok militer ini memang dikenal sangat antikomunis.

Mendiang sejarawan Australia MC Ricklefs menyebut semenjak Pemberontakan PKI Madiun 1948 tentara angkatan darat memang sangat antikomunis karena merasa mereka menusuk negara dalam situasi sangat genting. Kala itu merekalah yang melakukan pembersihan besar-besaran kepada para pengikut PKI di Madiun. Peran Batalion Siliwangi yang dikomandoi AH Nasution kala itu sangatlah penting.

Usai meletusnya pembunuhan para jendral di kawasan hutan karet Lubang Buaya memang secara bertahap kekuasaan rezim Sukarno lumpuh. Uniknya, pada hari-hari pertama PKI melalui corongnya koran Harian Rakat  merasa yakin sangat mampu mampu memenangkan pertarungan kekuasaan itu.

Tapi, keadaan berbalik arah, terutama usai sore hari pada tanggal 1 Oktober 1965 ketika mereka gagal dan meninggalkan penguasaan kantor Pusat RRI yang ada di jalan Merdeka Barat, Jakarta. Dan, titik ini juga ada yang menyebut kekalahan PKI mulai terjadi ketika Bung Karno pada Jumat siang di 1 Oktober 1965 meninggalkan kawasan lapangan terbang Halim Perdana Kusuma. PKI gagal bernegosiasi dengan Bung Karno yang kala itu menjadi penentu utama keadaan. Bahkan Bung Karno dikabarkan kesal kepada perilaku mereka dan mencium ada gelagat yang tidak beres.

Tiba-tiba kekuasaan PKI yang sebelumnya begitu hebat meluruh. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa dan ternyata kadernya tak semilitan seperti yang diteriakan di jalanan sebelumnya. Ibu kota dibiarkan begitu saja. Tak ada relawan atau tentara rakyat yang menjaganya seperti yang selama ini digembar-gemborkannya. Suplai  yang oleh PKI disebut kekuatan rakyat yang berasal dari pinggiran Jakarta tak muncul. Para militer yang berasal dari Lubang Buaya juga tak terlihat.

Maka, sebenarnya sejak 1 Oktober 1965 kekuasaannya menjadi tumpul. DN Aidit yang mengendalikan situasi dari kawasan lapangan  terbang Halim Perdana Kusuma pada sore hari itu juga melarikan diri ke Jawa Tengah dengan naik kapal udara. Namun, pelariannya tak lama karena dalam beberapa bulan kemudian tertangkap.

Begitu juga elite-elite gerakan penculikan para jendral seperti Untung pun tertangkap dalam sebuah pelarian di Jawa Tengah. Bahkan, dia tertangkap lebih dahulu daripada Aidit. Jawa Tengah yang dianggap sebagai pusat pergerakan komunis ternyata tak terbukti. Rantai komando di sana tercerai-berai dengan cepat. Mereka sepertinya kalah mental terlebih dahulu.

"Ya saya suasana saat itu kayak perang sipil dengan wild west-nya di Amerika Serikat. Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti wilayah yang tak bertuan. Rakyat masing-masing mempersenjatai diri karena pertarungan sudah antara hidup dan mati," kata DR Nastir Tamara ketika bercakap soal suasana waktu itu di Jawa.

Deraian Air Mata Soekarno Di Atas Pusara Ahmad Yani | KataMedia.co

  • Keterangan foto: Presiden Soekarno menangis di depan makam Jendral Ahmad Yani.
Dan, memang kemudian umat Islam "menang" dalam pertarungan berdarah itu. Namun, di balik itu pada sisi lain mereka juga menerima "kekalahan" atau imbas buruk, terutama dari sentimen anti-Muslim yang selama ini disebarluaskan oleh kader PKI. Banyak kemudian akibat tragedi itu kaum 'Islam minimalis' (abangan) —atau mungkin hanya pihak yang ikutan terimbas dengan sekedar dituduh pengikut PKI—pindah agama. Ini sesuai dengan apa yang ditulis kajian asing Robert Crib yang mengkaji soal peristwa di sekitar tragedi tahun 1965.

Apa yang ditulis Robert Crib ini bersesuaian dengan kajian yang dilakukan Direktur Pusat Studi Peradaban Islam/PSPI Solo, Arif Wibowo, (Republika, 17 September 2015). Menurut dia, meskipun PKI mengalami kekalahan pada Pemberontakan 1965, bukan berarti umat Islam tidak menderita kerugian.

"Euforia menyambut rezim Orde Baru yang menggusur PKI dan komunisme juga diikuti dengan penggusuran aspirasi politik Islam di Indonesia. Itu ditambah lagi dengan kerugian demografi keagamaan penduduk Indonesia," katanya.

Sejarawan asing Australia MC Ricklef juga mencatat hal sama. Adanya rivalitas dalam tensi tinggi antara politik Islam dan komunisme selepas G-30-S/PKI menyebabkan banyak yang berpindah ke agama lain karena banyak di antara para pengikut PKI yang kebanyakan berasal dari kaum abangan dan kejawen, kemudian menjatuhkan pilihan keagamaannya kepada Kristen Protestan dan Katolik. Dengan kata yang sederhana, di beberapa daerah di Jawa terjadi "pembaptisan massal". 

Dalam catatan Ricklefs, data kependudukan antara tahun 1960 – 1971 menunjukkan jumlah jemaat dari lima denominasi Protestan yang menjadi subjek kajian Willis tumbuh secara fenomenal dari 96.872 menjadi 311.778, sebuah peningkatan lebih dari 220 persen. Pada tahun 1965-1967, tingkat pertumbuhan tahunannya adalah 27,6 pertumbuhan, sementara pada tahun 1968-1971 jumalhnya menjadi 13,7 persen.

Detik-detik Evakuasi 7 Jenderal dari Lubang Buaya, G30S/PKI

  • Keterangan foto: Soeharto memimpin peristiwa pengangkatan jenazah jendral yang dimasukkan ke dalam sumur tua di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur.
Di samping adanya kerugian itu, memang pada sisi lain. Selanjutnya muai tahun 1967 ada "angin baru" bagi umat Islam (dan juga umat beragama lainnya) di Jawa dan umumnya di Indonesia. Mulai tahun itu, di sekolah-sekolah negeri seperti dicatat Rickles, disediakan waktu dua atau tiga jam pelajaran wajib untuk pendidikan agama. Yang di maksud di sini tentu saja adalah bentuk-bentuk "ortodoks" dari agama yang diakui pemerintah.

Sebagai konsekuensi dari pengajaran agama ini, keyakinan atau kepercayaan, seperti aliran kebatinan mulai kehilangan pengaruh bagi kaum muda. Bagi kalangan Islam santri, pendidikan madrasah yang dahulunya dijalankan secara pribadi kini mulai dimasukkan ke sistem pendidikan luas. Pada tahun 1975 pemerintah mulai mengeluarkan peraturan yang menyatakan bahwa 70 persen dari kurikulum madrasah harus merupakan mata pelajaran "sekuler" standar seperti sekolah negeri dan hanya 30 persen sisanya boleh digunakan untuk pendidikan keagamaan.

Uniknya, dari catatan Ricklefs tersebut, di tengah-tengah revolusi pendidikan ini pesantren yang dikelola oleh kalangan Islam tradisionalis kehilangan peran sentral yang pernah mereka miliki atas pendidikan masyarakat pedesaan. Pada 1977, di Jawa Tengah dan Jawa Timur, 335.870 siswa dilaporkan menimba ilmu di pesantren tradisionalis. Di sekolah umum, terdapat 5.691,827 siswa—16 kali lebih banyak. Selain itu, jumlah siswa yang belajar di madrasah modern juga lebih banyak, yakni mencapai 1.394,990 orang.

                      *****

Alhasil, pada masa kemudian jaringan Islam modernis mempunyai jaringan yang jauh lebih luas. Ini karena gaya pendidikannya dianggap tidak bertentangan dengan revolusi pendidikan yang digagas rezim pengganti zaman Sukarno, yakni rezim Orde Baru.

Imbas lainnya, tak aneh bila sosok seperti DR Nurcholish Madjid pada tahun 1990-an sempat mengatakan bahwa semenjak tahun 1980-an umat Islam Indonesia (termasuk Jawa) mengalami booming intelektual Islam. Hal ini diakui juga oleh cendekiawan yang juga pendeta Protestan, Victor Tanja.

Fenomena Islam itulah yang kini ada. Simbol Islam baru yang muncul dari campuran gaya moderen dominan. Misalnya, gaya perempuan berjilbab meninggalKan kerudung ala zaman dahulu (fenomena kerudung muncul semenjak awal 1980-an). Gaya keuangan modern dengan bank syariah hingga filantropi keuangan zakat, infak, sedekah, dan wakaf pun kemudian ikut muncul pula menggantikan cara pengelolaan keuangan ala "nazir" pada masa lalu.

Uniknya lagi, tanpa sadar, pada masa kini gaya baru ini diadposi pula oleh mereka yang selama ini kerap disebut Islam tradisionalis. Bahkan, hari-hari ini jarak itu—seperti juga antara sebutan pembedaan santri dan abangan—di Jawa kian melebur. Imbas pertarungan santri dan komunis pada 1965 ternyata telah mengubah lanskap Indonesia masa kini. Bahkan, bisa dibenarkan bila MC Ricklefs menyebut Jawa yang kian menjadi santri!

--------

*. Penulis: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA