Kamis 01 Oct 2020 08:11 WIB

Pemerintah AS Setop Bantuan Fiskal untuk 7 Maskapai Besar

7 maskapai ini dikabarkan masih melobi Kongres AS menjelang berakhirnya bailout.

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Nidia Zuraya
Ilustrasi penerbangan
Ilustrasi penerbangan

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) memastikan sudah mengakhiri bantuan yang diberikan kepada maskapai yang terdampak pandemi Covid-19. Dikutip dari Reuters, Rabu (30/9), AS menyatakan sudah menutup pinjaman kepada tujuh maskapai penerbangan besar yang terdampak pandemi.

Dalam sebuah pernyataan, Departemen Keuangan AS mengatakan ketujuh maskapai tersebut yakni Alaska Airlines, American Airlines, Frontier Airlines, JetBlue Airways Corp, Hawaiian Airlines, SkyWest Airlines dan United Airlines.

Baca Juga

Maskapai penerbangan dan serikat pekerja maskapai dikabarkan masih melobi Kongres menjelang tenggat waktu Rabu untuk bailout baru sebesar 25 miliar. Hal tersebut diharapkan agar para pekerja tetap digaji selama enam bulan lagi.

Sementara itu, Menteri Keuangan Steven Mnuchin sudah mendesak Kongres pada hari Selasa untuk memperpanjang program bantuan penggajian. Menurutnya, bantuan gaji dapat menyelamatkan puluhan ribu pekerjaan maskapai penerbangan dengan memberikan bantuan gaji miliaran.

“Sehingga kami dapat terus mendukung pekerja industri penerbangan saat ekonomi kami dibuka kembali dan kami melanjutkan jalan menuju pemulihan,” ungkap Mnuchin.

 

Sebelumnya, maskapai penerbangan AS menerima 25 miliar dolar AS pada Maret 2020 dalam bentuk hibah untuk menjaga karyawan tetap digaji hingga September dan menghindari cuti.

Selain itu, American Airlines mengatakan pada Jumat pekan lalu, akan mendapatkan pinjaman Treasury sebesar 5,5 miliar dolar AS dan dapat memperoleh hingga dua miliar dolar AS lebih banyak pada Oktober 2020.

Maskapai penerbangan juga telah memanfaatkan pasar modal untuk meningkatkan likuiditas. Hanya saja, trafik penerbangan dan penumpang hingga saat ini masih turun hingga 60 persen dibandingkan keadaan normal sebelum pandemi.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement