Wednesday, 11 Rabiul Awwal 1442 / 28 October 2020

Wednesday, 11 Rabiul Awwal 1442 / 28 October 2020

Pola Makan Sehat tak Harus Mahal

Kamis 01 Oct 2020 01:56 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

ilustrasi makanan sehat sumber energi.

ilustrasi makanan sehat sumber energi.

Foto: flickr
Pola makan sehat akan memberi dampak baik untuk ketahanan tubuh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Kirana Pritasari menegaskan pola makan sehat itu tidak mahal. Pola makan sehat akan memberi dampak baik untuk ketahanan tubuh terlebih di masa pandemi COVID-19.

"Pola makan sehat itu tidak mahal. Ini penting. Karena masyarakat banyak tahunya makanan yang diiklankan itu lebih baik dan berkaitan dengan status sosial," kata Kirana dalam webinar Food and Land Use (FOLU) yang diadakan WRI Indonesia dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Jakarta, Rabu (30/9).

Menurut dia, pemerintah sudah membuat panduan soal pola makan sehat yang seimbang dan signifikan untuk menjaga kesehatan. Dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 83 Tahun 2017 tentang Kebijakan Strategis Pangan dan Gizi, pola makan sehat digambarkan dengan bentuk tumpeng.

"Pesannya, harus ada dalam makanan sehari-hari. Lalu dibuat dalam bentuk 'isi piring ku' untuk kecukupan gizi, perkembangan pertumbuhan. Pesan itu tentu beda di tiap-tiap usia," ujar Kirana.

Gerakan Masyarakat (Germas) "Isi piring ku" menjadi kampanye untuk hidup sehat di mana masyarakat diminta mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, mengisi piringnya dengan makanan pokok, sayur-sayuran, buah-buahan, lauk pauk, dan minum delapan gelas air putih setiap hari. Selain itu, masyarakat diminta secara rutin berolahraga.

Edukasi tentang pangan lokal diberikan untuk mengubah perilaku gaya hidup sehat dan bergizi. Selain itu, menurut dia, masyarakat memang harus mau berkreasi untuk membuat makanan yang sehat, bergizi dan tidak mahal.

Kirana mengatakan tantangan yang dihadapi sektor kesehatan dan pendidikan adalah kolaborasi untuk memberikan edukasi kesehatan tersebut. "Karena akses paling mudah untuk sampaikan intervensi berupa suplementasi adalah melalui pendidikan. Itu cara terbaik".

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam mengatakan topik pangan dan tata guna lahan menjadi pas dengan adanya pandemi COVID-19. Mereka yang terkena infeksi SARS-CoV-2 biasanya mengalami anoreksia, tidak mau makan. Namun jika modal awal kesehatannya baik maka proses sembuhnya akan menjadi lebih cepat.

Pentingnya mengkonsumsi makanan bergizi untuk daya tahan tubuh harus diketahui masyarakat. Pangan lokal dan menanam sendiri sayur serta buah-buahan di depan rumah memungkinkan dan memberikan keluarga pasok pangan yang murah.

sumber : antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA