Tuesday, 3 Rabiul Awwal 1442 / 20 October 2020

Tuesday, 3 Rabiul Awwal 1442 / 20 October 2020

Petugas Puskesmas Dibina ke Dinkes akibat Lalai Tangani Bayi

Kamis 01 Oct 2020 04:23 WIB

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Christiyaningsih

Ilustrasi kaki bayi. Seorang bayi yang baru lahir di puskesmas terlambat ditangani hingga meninggal. Ilustrasi.

Ilustrasi kaki bayi. Seorang bayi yang baru lahir di puskesmas terlambat ditangani hingga meninggal. Ilustrasi.

Foto: Pixabay
Seorang bayi yang baru lahir di puskesmas terlambat ditangani hingga meninggal

REPUBLIKA.CO.ID, CILACAP -- Petugas kesehatan Puskesmas Kawunganten Kabupaten Cilacap yang lalai menangani bayi baru dilahirkan, mulai Rabu (30/9), tidak lagi bertugas di Puskesmas. ''Mulai hari ini, kami bina di kantor Dinas Kesehatan,'' jelas Kepala Dinas Kesehatan Pramesti Griana Dewi.

Kasus kelalaian penanganan bayi baru dilahirkan ini mencuat setelah seseorang mengunggah kasus itu di media sosial (medsos). Orang yang mengaku sebagai adik dari ibu yang melahirkan mengungkapkan kekecewaan atas penanganan petugas medis di Puskesmas Kawunganten.

Ia mengeluhkan kinerja petugas terhadap kakak perempuannya yang melahirkan di puskesmas tersebut. Akibat kelalaian ini, bayi yang dilahirkan kakaknya meninggal dunia.  

Pramesti mengaku sejak kasus ini mencuat di medsos Dinas Kesehatan langsung mendatangi Puskesmas Kawunganten untuk mengecek kebenaran informasi tersebut. ''Bahkan saya sendiri pada Senin (28/9) juga mendatangi Puskesmas Kawunganten,'' katanya.

Dari pengecekan tersebut, dia mengaku memang terjadi kelalaian dalam menangani ibu yang melahirkan. Saat ibu itu melahirkan sebenarnya ada tiga orang petugas medis puskesmas yang melaksanakan piket. Kebetulan pada saat bersamaan ada tiga pasien yang akan melahirkan.

Dari tiga petugas medis yang piket, satu orang harus merujuk pasien ke rumah sakit. ''Jadi hanya ada dua petugas medis yang menangani tiga ibu yang akan melahirkan,'' terang Pramesti.


Dia mengakui proses persalinan setiap ibu tidak selalu mudah. Kadang ada yang prosesnya cukup lama dan sulit sehingga harus selalu diawasi. ''Dari tiga bayi yang dilahirkan, ada satu bayi yang berukuran cukup besar dan harus menggunakan manuver,'' katanya.

Pramesti mengaku bisa membayangkan bagaimana capeknya menangani tiga ibu yang hendak melahirkan pada waktu bersamaan. ''Namun tetap saja hal ini tidak bisa menjadi alasan petugas menjadi lalai dalam melakukan penanganan,'' ujar Pramesti.

Dalam unggahan di media sosial, diungkapkan bayi yang akhirnya meninggal dunia tersebut saat dilahirkan memang tidak seperti biasanya. Bayi tersebut tidak langsung menangis saat keluar dari rahim ibunya.

Hal yang menjadi masalah adalah bayi yang lahir tanpa menangis itu tidak langsung ditangani. Namun baru 15 menit kemudian bayi tersebut ditangani sehingga bayi tersebut menangis.

Masalah kesulitan bernafas pada bayi ini tidak hanya terjadi sesaat setelah melahirkan dan bayi menangis 15 menit kemudian. Menyikapi hal ini, pihak keluarga sudah berulang kali melapor pada petugas medis namun tidak segera ditangani.

Baca Juga

Baru setelah sebagian tubuh bayi berwarna biru, bayi tersebut ditangani dan langsung dirujuk ke rumah sakit. Di rumah sakit, bayi ini akhirnya meninggal dunia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA