Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Gapki Minta Pelaku Usaha Patuhi Protokol Kesehatan

Rabu 30 Sep 2020 16:07 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Fuji Pratiwi

Buruh kerja memanen kelapa sawit di perkebunan kawasan Cimulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (ilustrasi). Gapki meminta para pelaku usaha perkebunan untuk tetap disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan.

Buruh kerja memanen kelapa sawit di perkebunan kawasan Cimulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (ilustrasi). Gapki meminta para pelaku usaha perkebunan untuk tetap disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan.

Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya
Perkebunan sawit masih tetap beroperasi lantaran patuh terhadap protokol kesehatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) meminta para pelaku usaha perkebunan untuk tetap disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan. Sejauh ini, kegiatan perkebunan kelapa sawit masih tetap bisa beroperasi lantaran kepatuhan terhadap protokol kesehatan yang dinilai tinggi. 

"Hendaknya kita semua disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan. Kalau sampai tertular, risiko akan besar terhadap produktivitas perusahaan dan tentunya kepada karyawan dan keluarga," kata Ketua Umum Gapki, Joko Supriyono dalam pernyataannya, Rabu (30/9).

Gapki juga mengapresiasi berbagai upaya pencegahan yang telah dilakukan perusahaan perkebunan kelapa sawit. Hal itu berdampak positif bagi kegiatan usaha karena hingga kini dapat terus berproduksi.

Baca Juga

Namun, ia tak memungkiri terdapat sejumlah kasus kecil penularan. Menurutnya, perusahaan cukup cepat dalam mengambil langkah penanganan sehingga penularan Covid-19 dapat diatasi.

Epidomolog Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono, mengatakan, perlu diingat kasus Covid-19 yang tinggi akibat adanya faktor kerumunan atau kontak antar manusia yang tidak terkelola dengan baik. Kerumunan tersebut, harus benar-benar dapat diatasi.

"Mungkin bila perlu harus diberlakukan pembatasan sosial berskala mikro di wilayah operasi perkebunan. Dari seluruh karyawan itu, harus diidentifikasi siapa saja yang paling berisiko tinggi," kata Pandu.

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA