Sunday, 15 Rabiul Awwal 1442 / 01 November 2020

Sunday, 15 Rabiul Awwal 1442 / 01 November 2020

Pergerakan Orang tak Terkontrol, Penularan Terus Terjadi

Rabu 30 Sep 2020 13:01 WIB

Rep: Febrian Fachri/ Red: Friska Yolandha

Epidemiolog Universitas Andalas Defriman Djafri mengatakan peningkatan kasus positif covid-19 di Sumatera Barat karena kegagalan dalam mengontrol pergerakan orang. Testing atau tes swab PCR yang sudah dilaksanakan dalam jumlah besar di Sumbar menurut Defriman harus berbarengan dengan pembatasan pergerakan orang. Terlebih orang-orang yang tidak taat dengan protokol kesehatan.

Epidemiolog Universitas Andalas Defriman Djafri mengatakan peningkatan kasus positif covid-19 di Sumatera Barat karena kegagalan dalam mengontrol pergerakan orang. Testing atau tes swab PCR yang sudah dilaksanakan dalam jumlah besar di Sumbar menurut Defriman harus berbarengan dengan pembatasan pergerakan orang. Terlebih orang-orang yang tidak taat dengan protokol kesehatan.

Foto: Republika/Febrian Fachri
Makin banyak temuan positif, gugus tugas berpacu dengan kecepatan penyebaran virus.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Epidemiolog Universitas Andalas Defriman Djafri mengatakan peningkatan kasus positif covid-19 di Sumatera Barat karena kegagalan dalam mengontrol pergerakan orang. Testing atau tes swab PCR yang sudah dilaksanakan dalam jumlah besar di Sumbar menurut Defriman harus berbarengan dengan pembatasan pergerakan orang. Terlebih orang-orang yang tidak taat dengan protokol kesehatan.

"Salah satu jalur penularan covid-19 adalah dari orang ke orang. Pengendalian penularan seperti ini memang menitikberatkan mobilitas, aktivitas dan perilaku orang yang perlu dikendalikan," kata Defriman kepada Republika.co.id, Rabu (30/9).

Defriman menilai konsekuensi melakukan testing dengan masif adalah penemuan kasus yang meningkat. Di sini harusnya dengan masifnya testing dan semakin banyak temuan orang positif, gugus tugas harus berpacu dengan kecepatan penyebaran virus.

Defriman merasa ada kekeliruan dalam memahami angka positivity rate dibawah 5 persen. Selama ini kondisi positivy rate di bawah 5 disebut sebagai kondisi aman. Padahal angka positivity rate ini kata dia harus dihitung dengan benar.

"Karena ada individu sampel yang diperiksa berulang. Inipun juga harus dilakukan dengan komprehensif surveilans dalam pengujian kasus suspek serta dievaluasi selama dua minggu. Bukan tiap hari dilaporkan gugus tugas selama ini. Jika dipastikan kondisi yang baik, angka positive rate yang kurang dari 5 persen juga harus diikuti dengan penurunan kasus rawatan dan ICU secara terus menerus selama 2 minggu," ucap Defriman.

Saat ini menurut Defriman saat ini angka positivity rate di bawah 5 tidak seiring dengan angka peningkatan kasus positif covid-19. Ditambah angka kasus rawatan dan angkat kematian karena covid-19 terus meningkat. Beberapa rumah sakit dilaporkan sudah penuh untuk penanganan covid-19 sehingga sudah tidak sanggup lagi penampung pasien.

Harusnya pemerintah menjalankan konsekuensi menyediakan tempat isolasi yang cukup untuk mengisolasi orang-orang yang telah dipastikan positif covid-19. Karena selama ini mayoritas kasus positif covid-19 ditangani dengan isolasi mandiri. Sehingga orang-orang yang sudah dinyatakan positif covid-19 ini masih berpotensi menularkan kepada orang lain.

"Jika tidak, mustahil mata rantai penularan itu terputus. Ibarat main cik-mancik (petak umpet), ketika kita  berhasil menangkap, yang ditangkap menularkan lagi karena tempat isolasi yang tidak ada dan isolasi yang tidak benar dilakukan. Ini menjadi pekerjaan yang sia-sia pada akhirnya dikarenakan strategi dan pengendalian tidak komprehensif dilakukan," kata Defriman menambahkan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA