Tuesday, 6 Jumadil Akhir 1442 / 19 January 2021

Tuesday, 6 Jumadil Akhir 1442 / 19 January 2021

Jabar Susun Langkah Strategis Antisipasi Gempa Megathrust

Rabu 30 Sep 2020 12:53 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Bilal Ramadhan

tsunami/ilustrasi

tsunami/ilustrasi

Kajian mengenai tsunami tersebut membuat kepanikan terhadap industri pariwisata.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) menyusun langkah strategis dalam menanggapi kajian gempa megathrust hingga potensi tsunami 20 meter yang dilakukan Tim riset Institut Teknologi Bandung (ITB). Menurut Kepala Disparbud Jawa Barat, Dedi Taufik, kajian tersebut sangat penting karena dibuat oleh orang-orang yang memiliki kompetensi.

Meskipun masih prediksi, hal yang paling logis saat ini adalah menyiapkan berbagai kebijakan untuk menekan potensi dampak yang terjadi. Apalagi, kata dia, di kawasan Pantai Selatan banyak destinasi wisata andalan Jawa Barat untuk menarik kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara. Salah satunya mengaktivasi program tourism crisis management.

“Kami tentu akan membahas hal ini dengan pemerintah kabupaten kota termasuk para pelaku industrinya. Terutama mengenai manajemen krisis yang harus terus diaktifkan dengan baik, termasuk membentuk masyarakat yang juga sadar bencana,” ujar Dedi kepada wartawan, Rabu (30/9).

Dedi mengatakan, hasil kajian mengenai tsunami tersebut, memang menyebabkan kepanikan di beberapa pelaku industri pariwisata Jawa Barat dan calon wisatawan. Persepsi yang terbentuk, tsunami akan terjadi sebentar lagi.

“Kami tetap menganggap hasil kajian ini penting, kita tidak boleh anti atau menolak mentah-mentah karena ada pakar yang terlibat dalam penelitian. Tugas kita kan menekan potensi kerusakan dan korban jika memang itu terjadi,” katanya.

Di sisi lain, kata dia, ada indikasi bahwa informasi mengenai kajian tersebar tanpa data yang utuh. "Rencananya, kami akan sosialisasi dengan menggandeng para pakar (yang terlibat dalam penelitian) agar informasinya utuh, termasuk menggandeng BPBD membahas mitigasi,” katanya.

Saat ditanya mengenai usaha investor atau pengusaha tetap berkegiatan di pantai selatan, Dedi menilai hal itu bergantung pada komitmen semua pihak, termasuk pemerintah daerah.

“Semua harus bisa meyakinkan kembali pasar investor dengan cara promosi dan memasarkan kembali produk-produk investai pariwisata Jawa Barat bagian selatan,” katanya.

Terkait hasil penelitian gempa hingga tsunami pun sempat ditanggapi Gubernur Jabar Ridwan Kamil. Menurutnya, pulau Jawa selalu dihadapkan dengan potensi tersebut. Masyarakat termasuk pemerintah kabupaten kota diminta meningkatkan kewaspadaan dengan apapun potensi bencana alam.

"Potensi tsunami selalu ada dalam sejarah ribuan tahun pulau Jawa," kata dia pertengahan pekan lalu.

Diketahui, Guru Besar bidang Seismologi di Institute Teknologi Bandung (ITB), Sri Widiyantoro mengatakan bahwa ada kemungkinan gempa besar disertai tsunami di wilayah Indonesia, terutama di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur. Hal itu diungkap oleh, dalam webinar dengan judul ‘Implications for Megathrust Earthquakes and Tsunamis from Seismic Gaps South of Java’ pada Rabu (23/9).

Ia menyebut ada wilayah minim gempa atau seismic gap (bagian dari sesar yang pernah menghasilkan gempa bumi) di laut selatan Jawa. Wilayah ini berpotensi melepaskan gempa dengan magnitudo yang lebih besar ketika ia aktif kembali.

Tidak adanya gempa besar dengan magnitudo 8 atau lebih dalam beberapa ratus tahun terakhir mengindikasikan ancaman gempa tsunamigenik dahsyat di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa.

Untuk mengetahuinya, tim kemudian melakukan simulasi selama 3 jam dengan inversi data GPS. Hasilnya, Jawa Barat di selatan Banten berpotensi dihantam tsunami setinggi 20 meter, jika mengacu pada ulang tahun gempa 400 tahun sekali. Sementara untuk Jawa Timur, tsunami yang bakal terjadi relatif lebih kecil dengan ketinggian sekitar 12 meter.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA