Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Kamp Penahanan Rahasia China untuk Minoritas Ditemukan

Selasa 29 Sep 2020 17:41 WIB

Red: Esthi Maharani

Menara penjaga dan pagar kawat berduri mengelilingi fasilitas penahanan di Kunshan Industrial Park, Artux, Xinjiang. Associated Press telah menemukan bahwa pemerintah Cina sedang melaksanakan program pengendalian kelahiran yang ditujukan untuk warga Uighur, Kazakh, dan minoritas Muslim lainnya di Xinjiang, bahkan ketika sebagian besar penduduk Han di negara itu didorong untuk memiliki lebih banyak anak. Langkah-langkah tersebut termasuk penahanan di penjara dan kamp, seperti fasilitas ini di Artux, sebagai hukuman karena memiliki terlalu banyak anak.(AP Photo/Ng Han Guan, File)

Menara penjaga dan pagar kawat berduri mengelilingi fasilitas penahanan di Kunshan Industrial Park, Artux, Xinjiang. Associated Press telah menemukan bahwa pemerintah Cina sedang melaksanakan program pengendalian kelahiran yang ditujukan untuk warga Uighur, Kazakh, dan minoritas Muslim lainnya di Xinjiang, bahkan ketika sebagian besar penduduk Han di negara itu didorong untuk memiliki lebih banyak anak. Langkah-langkah tersebut termasuk penahanan di penjara dan kamp, seperti fasilitas ini di Artux, sebagai hukuman karena memiliki terlalu banyak anak.(AP Photo/Ng Han Guan, File)

Foto: AP Photo/Ng Han Guan
Diduga, minoritas muslim menjadi sasaran di 380 kamp penahanan rahasia China

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Kamp penahanan rahasia China untuk minoritas muslim ditemukan. Diduga, minoritas muslim ini menjadi sasaran dalam kampanye asimilasi paksa.

Institut kebijakan strategis Australian mengatakan, lebih dari 380 fasilitas penahanan ditemukan di wilayah yang jauh di barat laut. Kamp-kamp tersebut merupakan pusat-pusat penahanan dan penjara yang telah dibangun dan diperluas sejak 2017.

Laporan tersebut didasarkan pada bukti, bahwa China telah membuat perubahan kebijakan dari menahan warga Uighur yang sebagian besar minoritas Muslim lainnya di gedung-gedung publik sementara, menjadi membangun fasilitas penahanan massal permanen.

Minoritas Muslim di wilayah Xinjiang telah dikurung di kamp-kamp tersebut karena melawan pemerintahan China selama beberapa dekade. Meskipun, para pejabat China sendiri mengklaim bahwa kamp-kamp itu sebagai fasilitas seperti sekolah dan asrama yang didirikan untuk memberikan pelatihan kerja gratis.

Mantan tahanan mengatakan, mereka mengalami kondisi brutal, indoktrinasi politik, pemukulan, dan terkadang penyiksaan psikologis dan fisik. Di bawah dorongan asimilasi, negara telah memaksa warga Uighur untuk menjalani sterilisasi dan aborsi.

Peneliti Institut Kebijakan Strategis Australia, Nathan Ruser menulis dalam laporan yang dirilis Kamis malam, bahwa bukti yang ada menunjukkan banyak tahanan di luar hukum dibawa ke dalam kamp tersebut, dikurung dengan fasilitas keamanan yang ketat, termasuk bangunan yang baru dibangun dan diperluas itu. Mereka dipenjara, dikirim ke kompleks pabrik bertembok untuk kerja paksa.

"Setidaknya 61 situs penahanan telah menjalani konstruksi baru dan pekerjaan perluasan dalam satu tahun hingga Juli 2020. Ini termasuk setidaknya 14 fasilitas yang masih dalam pembangunan tahun ini," kata laporan itu.

Dari jumlah tersebut, sekitar 50 persen adalah fasilitas keamanan yang lebih tinggi, yang mungkin menunjukkan pergeseran penggunaan dari 'pusat pendidikan ulang' dengan keamanan yang lebih rendah ke fasilitas bergaya penjara dengan keamanan lebih tinggi.

"Setidaknya 70 fasilitas tampaknya memiliki keamanan yang lebih rendah dengan pelepasan pagar internal atau dinding perimeter," kata laporan itu.

Ini termasuk delapan kamp yang menunjukkan tanda-tanda dekomisioning, dan mungkin telah ditutup. Dari kamp-kamp yang infrastruktur keamanannya dilucuti, 90 persen adalah fasilitas keamanan yang lebih rendah.

Temuan lembaga think tank tersebut sejalan dengan wawancara AP dengan puluhan kerabat dan mantan tahanan yang menunjukkan bahwa banyak di kamp telah dijatuhi hukuman secara rahasia, persidangan di luar hukum, dan dipindahkan ke penjara dengan keamanan tinggi itu. Mereka yang dimasukan dalam kamp ini biasanya yang berhubungan dengan orang-orang di luar negeri, memiliki terlalu banyak anak dan mempelajari Islam.

Banyak orang lain yang dianggap kurang berisiko, seperti wanita atau orang tua, telah dipindahkan ke bentuk tahanan rumah atau kerja paksa di pabrik.

Kantor berita China Xinhua melaporkan pada akhir tahun lalu, bahwa mereka merupakan peserta pelatihan yang menghadiri pusat pendidikan dan pelatihan kejuruan untuk menderadikalisasi mereka dan telah lulus.

Juru bicara kementerian luar negeri China Wang Wenbin pada Jumat lalu menolak laporan lembaga Australia itu. Ia menganggap informasi tersebut sebagai fitnah dan mengatakan lembaga Australia tidak memiliki kredibilitas akademis.

"China tidak mengoperasikan apa yang disebut dengan kamp penahanan di Xinjiang," kata Wang kepada wartawan pada briefing harian, dikutip dari CBS News pada Selasa (29/9).

Mengutip laporan media dan investigasi oleh pengguna internet, Wang mengatakan salah satu situs dalam laporan tersebut telah diidentifikasi sebagai taman manufaktur elektronik dan lainnya sebagai kompleks perumahan bintang lima.

"Jadi kami juga berharap semua sektor dapat membedakan kebenaran dari kebohongan dan bersama-sama menolak pernyataan absurd yang dibuat oleh lembaga anti-China," kata Wang.



BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA