Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

228 Nakes Meninggal Akibat Covid-19

Selasa 29 Sep 2020 15:24 WIB

Red: Indira Rezkisari

Lebih dari 200 orang tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter, dokter gigi, dan perawat meninggal akibat Covid-19 di Indonesia. Perlindungan kepada nakes harus ditingkatkan termasuk kepatuhan publik terhadap protokol kesehatan juga harus terus digenjot.

Lebih dari 200 orang tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter, dokter gigi, dan perawat meninggal akibat Covid-19 di Indonesia. Perlindungan kepada nakes harus ditingkatkan termasuk kepatuhan publik terhadap protokol kesehatan juga harus terus digenjot.

Foto: AP/Natacha Pisarenko
Peningkatan pesat nakes yang meninggal disebabkan rendahnya disiplin publik.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Rr Laeny Sulistyawati, Haura Hafizhah, Antara

Jumlah tenaga kesehatan (nakes) yang meninggal akibat Covid-19 di Indonesia masih terus bertambah. Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) bersama dengan Perhimpunan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menyebutkan sedikitnya 127 dokter, sembilan dokter gigi umum dan spesialis, dan 92 perawat telah meninggal dunia akibat virus corona SARS-CoV2 (Covid-19).

Dari 127 dokter yang wafat, terdiri dari 66 dokter umum dengan empat di antaranya merupakan guru besar, 59 dokter spesialis dengan empat diantaranya adalah guru besar, serta dua orang residen. Total sebanyak 228 nakes gugur melawan Covid-19.

"Keseluruhan dokter tersebut berasal dari 18 IDI Wilayah (provinsi) dan 61 IDI Cabang (Kota/Kabupaten)," ujar Ketua Tim Protokol dari Tim Mitigasi IDI Eka Ginandjar, dalam keterangan tertulis, Selasa (29/9).

Berdasarkan data provinsi, dia melanjutkan, dokter yang meninggal dunia tersebar di Jawa Timur 31 dokter, Sumatra Utara 21 dokter, DKI Jakarta 17 dokter, Jawa Barat 11 dokter, Jawa Tengah sembilan dokter, Sulawesi Selatan enam dokter, Bali lima dokter, Sumatra Selatan empat dokter, Kalimantan Selatan empat dokter, DI Aceh empat dokter, Kalimantan Timur tiga dokter, Riau tiga dokter, Kepulauan Riau dua dokter, DI Yogyakarta dua dokter, Nusa Tenggara Barat dua dokter, Sulawesi Utara satu dokter, Banten satu dokter, dan Papua Barat satu dokter.

Ia menambahkan, angka yang meningkat pesat ini, dikarenakan sebagian besar masyarakat tidak memahami pelaksanaan aturan Adaptasi Kehidupan Baru. Serta masih banyak yang tidak mematuhi protokol kesehatan.

IDI meminta munculnya klaster-klaster baru di setiap area dan bidang merupakan hal yang patut diwaspadai saat ini. "Penggunaan masker yang baik dan benar sangat penting dalam upaya memutus rantai penularan Covid-19 termasuk menjaga diri kita dan orang lain yang kita sayangi dari tertular Covid-19 maka langkah 3M harus dilaksanakan," katanya.

Ia menyebutkan, langkah 3M tersebut yaitu selalu memakai masker dengan baik dan benar menjadi penghalang jalur masuk dan keluar dari proses penularan Covid-19. Virus ini menular melalui droplet atau bahkan aerosol pada kondisi ruangan dengan sirkulasi yang tidak baik. Kedua, menjaga jarak lebih dari satu meter, menghindari kerumunan apalagi beraktivitas bersama dalam waktu lama dengan sirkulasi udara tertutup, termasuk makan bersama, dan mencuci tangan selalu dengan air mengalir dan sabun dengan benar selama 40 sampai 60 detik atau bila tidak ada dapat menggunakan handsanitizer berbasis alkohol.

"Pelaksanaan 3M ini harus dilaksanakan secara masif oleh semua orang  tanpa kecuali. Dengan demikian penyebaran Covid-19 ini dapat dikendalikan dengan baik sehingga dapat menekan jumlah korban dan collateral damage yang ditimbulkan terutama di bidang ekonomi, sosial dan politik tidak menjadi lebih berat," ujarnya.

Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI) RM Sri Hananto Seno menambahkan, para dokter gigi yang meninggal rata-rata tertular pada saat memberikan pelayanan kesehatan gigi kepada pasien. Yaitu pasien dengan Covid-19 tanpa gejala. Ada pula yang tertular sedang bertugas di rumah sakit umum, rumah sakit khusus gigi dan mulut, pusat kesehatan masyarakat, serta klinik tempat berpraktik.

"Oleh karena itu, PDGI  mengimbau kepada para dokter gigi dan masyarakat untuk melakukan konsultasi medis melalui tele-dental medicine untuk mengurangi angka penularan antara pasien ke dokter gigi," katanya.

Kemudian, dia melanjutkan, apabila dibutuhkan penanganan langsung secara tatap muka, diharapkan pasien juga membersihkan mulut terlebih dahulu sebelum bertemu dokter gigi dan melaksanakan protokol kesehatan yang telah ditentukan. Dokter gigi yang melayani menggunakan Alat Pelindung Diri sesuai standar, untuk mengurangi penularan/transmisi Covid-19 melalui droplet atau cairan yang keluar dari mulut yang merupakan sumber utama penularan.

Selain dokter dan dokter gigi, jumlah perawat yang meninggal akibat Covid juga meningkat yaitu 92 perawat. Tak hanya itu masih banyak perawat dalam status terinfeksi dan sedang diisolasi.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia (DPP PPNI) Harif Fadhilah meminta perlindungan terhadap para tenaga kesehatan dari perawat hingga dokter dan dokter gigi. "Tenaga kesehatan sebagai benteng terakhir dalam melawan Covid-19 ini merupakan tanggung jawab semua aspek baik masyarakat, pemerintah, juga pemilik dan pengelola fasilitas kesehatan," ujarnya.



Ketua Satgas Covid-19 IDI Profesor Zubairi Djoerban mengatakan saat ini sudah ada penambahan dokter umum dan spesialis untuk menangani pasien Covid-19. Penambahan dokter tapi harus didasari pelatihan dan kompetensi terlebih dahulu.

"Semua orang takut, dokter juga pada takut pada Covid-19. Maka itu diatur oleh konsil kedokteran Indonesia ada pelatihan dan kompetensi terlebih dahulu. Pada prinsipnya semua dokter aman. Walaupun  ada dokter muda. Kami tidak mengorbankan dokter muda untuk terinfeksi," katanya saat dihubungi Republika.co.id.

Kemudian, ia melanjutkan dengan ada penambahan dokter nantinya pasien yang ada akan ditangani secara cepat. Saat ini jumlah dokter terbatas apalagi dokter spesialis paru, penyakit dalam dan anestesi konsultan emergensi. Mereka yang masuk ke dalam ruangan Covid-19 juga dilatih akan menangani pasien seperti apa.

"Makanya, ada training of trainer. Dokter-dokter ini harus berkompeten dan sesuai SOP agar tidak mudah tertular dan menangani pasien dengan benar," kata dia.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta merekrut 1.000 tenaga kesehatan baru untuk membantu penanganan pasien Covid-19 yang terus meningkat di Ibu Kota. Perekrutan itu didasarkan pada kajian kebutuhan tenaga kesehatan hingga Desember 2020.

Untuk jumlah pendaftar saat ini ada sekitar 1.800 orang. Tenaga kesehatan yang dibutuhkan itu terdiri atas dokter, analis, perawat dan beberapa bidang lainnya sesuai permintaan 67 rumah sakit rujukan.

Lonjakan pasien
Armada bus sekolah DKI Jakarta telah mengevakuasi total 1.973 pasien Covid-19 terhitung sejak 1 April hingga 28 September 2020 menuju ke sejumlah rumah sakit rujukan. "Sejak April 2020 kita mengevakuasi pasien menggunakan bus sekolah. Lonjakan pasien terlihat pada akhir Agustus 2020, sebelum PSBB lanjutan jilid II," kata Kepala Unit Pengelola Angkutan Sekolah (UPAS) Dinas Perhubungan DKI Jakarta Alli Murthado di Jakarta, Selasa (29/9).

Dari total 50 unit armada bus jemputan sekolah yang disiapkan, sebanyak sepuluh unit di antaranya diperuntukkan bagi pasien Covid-19. Sementara sisanya untuk kebutuhan jemputan tenaga medis Covid-19.

"Untuk evakuasi pasien Covid-19 sebanyak sepuluh unit," kata Alli.

Pada Senin (28/9) bus sekolah dikerahkan untuk mengevakuasi 154 pasien dengan total 12 ritase perjalanan. Dari Puskesmas Rawa Badak Selatan Koja sebanyak 31 pasien, Puskesmas Tanah Abang 14 pasien, Puskesmas Palmerah 11 pasien.

Puskesmas Duren Sawit 14 pasien, Puskesmas Pesanggrahan sepuluh pasien, Puskesmas Kembangan 15 pasien, Puskesmas Penjaringan 14 pasien.

Puskesmas Ciracas tujuh pasien, Puskesmas Kemayoran 11 pasien, Puskesmas Kramat Jati delapan pasien, Puskesmas 11 pasien, Puskesmas Cempaka Putih delapan pasien.

Alli menambahkan tingginya permintaan evakuasi pasien menggunakan bus sekolah membuat pihaknya kembali mengajukan penambahan unit. "Mungkin akan kita tambah dalam waktu dekat karena tingginya permintaan evakuasi dari Puskesmas," katanya.

photo
Tiga Provinsi dengan Angka Kesembuhan Covid Tertinggi - (Infografis Republika.co.id)




Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA