Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Aktif Secara Seksual Baik Bagi Penyintas Serangan Jantung

Rabu 30 Sep 2020 01:20 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Reiny Dwinanda

Ilustrasi serangan jantung. Mempertahankan atau meningkatkan frekuensi aktivitas seksual enam bulan setelah serangan jantung dikaitkan dengan 35 persen penurunan risiko kematian.

Ilustrasi serangan jantung. Mempertahankan atau meningkatkan frekuensi aktivitas seksual enam bulan setelah serangan jantung dikaitkan dengan 35 persen penurunan risiko kematian.

Foto: Foto : MgRol112
Teratur berhubungan intim dapat mengurangi risiko jangka panjang terkait jantung.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Sebuah studi mengungkap bahwa hubungan intim secara teratur bisa memperbaiki kondisi kesehatan seseorang yang pernah mengalami serangan jantung. Penelitian digagas oleh tim dari Universitas Tel Aviv, Israel.

Mempertahankan atau meningkatkan frekuensi aktivitas seksual enam bulan setelah serangan jantung dikaitkan dengan 35 persen penurunan risiko kematian. Persentase itu dibandingkan dengan orang yang mengurangi frekuensi hubungan intim atau sama sekali tidak melakukannya.

Manfaat penurunan risiko kematian yang dimaksud cenderung tampak pada risiko nonkardiovaskular, seperti kanker. Pada umumnya, aktivitas fisik yang berat dan tiba-tiba memang berpotensi menyebabkan serangan jantung. Akan tetapi, seks teratur justru mengurangi risiko jangka panjang terkait jantung, terlebih jika dibarengi rutin olahraga.

Tim periset menghimpun data dari Israel Study of First Acute Myocardial Infarction. Analisis mencakup data dari 495 pasien yang aktif secara seksual, berusia 65 tahun atau kurang, dengan rata-rata usia peserta adalah 53 tahun.

Sebanyak 90 persen di antara para responden itu berjenis kelamin laki-laki. Seluruh peserta adalah penyintas serangan jantung, pernah dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung perdana pada periode 1992 sampai 1993.

Informasi tentang frekuensi hubungan intim para peserta studi didapatkan lewat wawancara dalam dua tahapan. Fase pertama, saat mereka dirawat di rumah sakit serta fase berikutnya sekitar tiga sampai enam bulan kemudian.

Salah satu peneliti, Profesor Yariv Gerber, berpendapat bahwa seksualitas dan aktivitas seksual adalah penanda kesejahteraan hidup. Secara fisik maupun mental, kegiatan intim tersebut bisa sangat berpengaruh.

"Dimulainya kembali aktivitas seksual segera setelah serangan jantung dapat menjadi bagian dari persepsi diri seseorang sebagai sosok yang sehat, berfungsi, muda, dan energik," ujarnya, dikutip dari laman Irish Independent.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA