Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Studi: Tidur dengan Selimut Tebal Bantu Lepas dari Insomnia

Senin 28 Sep 2020 20:41 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Nora Azizah

Tidur dengan selimut berat disebut bisa tingkatkan waktu dan kualitas tidur (Foto: ilustrasi tidur)

Tidur dengan selimut berat disebut bisa tingkatkan waktu dan kualitas tidur (Foto: ilustrasi tidur)

Foto: www.freepik.com
Tidur dengan selimut tebal atau berat bisa tingkatkan waktu dan kualitas tidur.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selimut berat atau tebal sedang menjadi tren. Pasalnya, banyak orang melaporkan pengalaman positif dengan selimut tebal, termasuk kualitas tidur yang lebih baik, kecemasan yang lebih rendah, dan lepas dari insomnia.

Sebuah studi baru menemukan bahwa selimut tebal memang membantu para penderita insomnia. Selimut yang berat ternyata bisa jadi alternatif yang lebih aman dibandingkan obat tidur bagi penderita insomnia.

Menurut studi di Swedia yang diterbitkan American Academy of Sleep Medicine, penderita insomnia melaporkan dampak setelah menggunakan selimut berat untuk tidur selama empat pekan. Mereka mengalami pengurangan kecemasan dan depresi hingga waktu tidur lebih banyak.

Setidaknya 50 persen dari peserta mengalami penurunan keparahan insomnia. Selain itu, studi tersebut melaporkan bahwa partisipan yang diberi selimut tebal memiliki kemungkinan 20 kali lebih besar mengalami remisi insomnia. Para peneliti melaporkan hasil positif setelah 12 bulan percobaan.

Seperti dilansir dari laman SlashGear, Senin (28/9), Departemen Psikiater Konsultan Ilmu Saraf Klinis Karolinska Institutet, Dr Mats Alder, menjelaskan, hal yang membuat selimut berat bisa meningkatkan kualitas tidur adalah tekanan yang diberikan dari selimut pada titik-titik berbeda di tubuh. Penekanan ini merangsang sensasi sentuhan dan rasa otot, serta persendian, mirip dengan akupresur dan pijat.

Ada bukti yang menunjukkan bahwa stimulasi tekanan dapat meningkatkan gairah parasimpatis dari sistem saraf otonom. Pada saat yang sama, juga mengurangi gairah simpatis, yang dianggap sebagai penyebab efek menenangkan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA