Saturday, 20 Rabiul Akhir 1442 / 05 December 2020

Saturday, 20 Rabiul Akhir 1442 / 05 December 2020

Ketika Siswa Mulai Jenuh di Tengah Pandemi Covid-19 

Selasa 29 Sep 2020 03:06 WIB

Rep: Wilda Fizriyani / Red: Agus Yulianto

Aktivitas belajar dan mengajar di SMAN 2 Kota Malang.

Aktivitas belajar dan mengajar di SMAN 2 Kota Malang.

Foto: Republika/Wilda Fizriyani
Sekolah dan orang tua sama khawatir dengan menurunnya semangat siswa dalam belajar.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Wilda Fizriyani

Sepi, itu yang pertama kali dirasakan saat memasuki halaman SMA Negeri 2 Kota Malang. Hanya terlihat beberapa guru dan para pekerja bangunan berlalu-lalang.

Semenjak pandemi Covid-19, seluruh sekolah di Kota Malang menerapkan sistem belajar daring demi mencegah penyebaran virus. Namun sejak Juli lalu, SMAN 2 Kota Malang telah melakukan belajar tatap muka dengan beberapa aturan. Sekolah yang berada di Jalan Laksamana Martadinata ini sudah ditunjuk melakukan uji coba belajar tatap muka berdasarkan SE Gubernur Jawa Timur (Jatim).

Selama proses belajar tatap muka, Kepala SMAN 2 Kota Malang, Hariyanto mengaku terdapat banyak hal yang perlu dievaluasi. Tingkat kehadiran dan keaktifan siswa baik di belajar daring maupun luring sama-sama menurun. "Penyebabnya kita masih menyelidiki, tapi kalau dilihat dari data, itu tidak hanya yang luring. Daring partisipasinya juga menurun," kata Hariyanto ketika ditemui Republika di ruangannya, Senin (28/9).

Berdasarkan data sekolah, presensi terendah terjadi pada siswa kelas XII. Hal serupa juga terjadi pada tingkat keaktifan siswa dalam melaksanakan tugas sekolah. Situasi ini berbeda jauh dengan presensi dan keaktifan kelas X yang relatif tinggi.

Menurut Hariyanto, sekolah dan orang tua sama-sama khawatir dengan menurunnya semangat siswa dalam belajar. Hariyanto berpendapat, situasi tersebut kemungkinan karena siswa merasa jenuh. Hal ini terjadi di semua sistem belajar, baik daring maupun luring.

Hariyanto mengklaim, sekolah telah menyediakan pelayanan dan fasilitas terbaik dalam pembelajaran daring. Di kegiatan luring, sekolah juga telah menyiapkan protokol kesehatan sebaik mungkin. Selain anjuran mengenakan face shield dan masker, sekolah menyediakan wastafel dan sabun cuci di sejumlah area serta kursi dengan sistem jaga jarak.

SMAN 2 Kota Malang telah melakukan beberapa tahapan dalam menyiapkan belajar luring. Mulai 20 Juli lalu, sistem ini telah diujicobakan pada anak-anak Kelompok Belajar Cepat (KBC). Penerapan ini sebelumnya telah mendapatkan persetujuan dari orang tua/wali serta tidak ada paksaan di dalamnya. Siswa yang tidak berkenan mengikuti sistem ini, akan disediakan belajar daring dari sekolah.

Belajar tatap muka di tahap pertama resmi diterapkan sejak 1 sampai 21 Agustus. Aturannya, hanya 25 persen dari 340 siswa per angkatan yang diperbolehkan masuk sedangkan lainnya daring. Sekolah juga menerapkan sistem ganjil-genap menyesuaikan absensi siswa dan tanggal masuk belajar luring.

Di tahap selanjutnya, 50 persen dari total siswa satu angkatan mulai belajar tatap muka. Tahapan ini berlaku sejak 7 September 18 September 2020. Setelah dievaluasi, sekolah kembali menerapkan belajar daring seluruhnya sejak 21 sampai 25 September demi melengkapi fasilitas dan sebagainya.

"Tanggal 28 September 2020 kembali ke tahap satu dulu, karena beberapa pertimbangan teknis di antaranya lokasi gedung/ruang yang berdekatan dengan pembangunan kanwil BRI, maka kami kosongkan dulu," jelasnya.

Pada Senin (28/9), belajar tatap muka di sekolah seharusnya dihadiri 25 persen dari total siswa per angkatan. Sayangnya, di kesempatan tersebut hanya dihadiri 20 lebih persen siswa. Mengenai alasan kondisi ini, Hariyanto mengaku, belum bisa menanyakan hal tersebut kepada siswa. 

"Kita tidak bisa menanyakan ke anak-anak, karena persyaratan untuk hadir dalam luring itu harus seizin orang tua. Kita mau mewajibkan, tidak bisa. Secara legalitas Malang masih zona merah. Mungkin jika Malang sudah hijau atau kuning, kita bisa mengatur strategi," katanya.

Berdasarkan situasi ini, Hariyanto berencana mengadakan evaluasi kembali. Kemudian berusaha mencoba startegi baru demi mengunggah anak agar semangat belajar luring. Sementara dari sistem belajar daring, sekolah akan lebih meningkatkan aktivitasnya.

"Karena sementara ini presensinya penuh, daring penuh. Tapi respon untuk tugas, tidak sesuai dengan absensinya. Kalau daring (kelas XII) sekitar 85 persen. Kalau kelas 10 mungkin bisa sampai 100 persen," ungkap Hariyanto.

Siswa kelas XII IPA I, Dania mengaku lebih senang mengikuti belajar luring dibandingkan daring. Belajar tatap muka membuatnya lebih memahami isi materi mata pelajaran. "Sementara daring, diberikan materi lewat PPT (power point) kemudian dipelajari sendiri dan diberikan soal. Kurang paham kalau daring," katanya.

Di sisi lain, Dania tidak menampik, beberapa rekannya sudah mulai merasa jenuh dalam menjalankan aktivitas belajar selama pandemi Covid-19. Penyebab utamanya, yakni tugas menumpuk dengan batasan waktu yang sangat dekat. Dania berharap, pandemi Covid-19 segera hilang sehingga aktivitas belajar bisa berjalan normal. 

Hal serupa juga diungkapkan siswa kelas XI KBC IPS, Verona Feisya. Sebelum pandemi Covid-19, kelas yang diikuti Verona menjalankan sistem belajar dengan cepat.  Lalu sistem ini berubah semakin cepat tak terkendali selama pandemi Covid-19. 

"KBC kan percepatan, nah itu materinya harus ngebut sedangkan kita itu masih enggak begitu paham sama materi-materinya. Terus kita tetap harus dikejar deadline karena Minggu depan ini kita ujian. Mangkannya materi harus selesai, ulangan juga harus sudah tuntas. Sedangkan kita harus setiap satu kali pertemuan, pasti besok ulangan," jelas perempuan asal Banyuwangi ini.

Verona mengaku hal yang dialaminya membuat dia jenuh. Apalagi dia sering menggunakan hari libur untuk mengerjakan tugas. Sekalipun mencoba menghilangkan kejenuhan, Verona lebih memilih menonton film di rumah. 

Verona berharap pandemi Covid-19 segera berakhir sehingga aktivitas belajar bisa berjalan normal. Hal terpenting, suasana kelas diharapkan tidak terlalu mengejar materi secara kebut-kebutan. "Percuma juga kita ngejar deadline, jadi kita sendiri enggak dapat ilmu apa-apa, itu menurut saya," tuturnya.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA