Tuesday, 6 Jumadil Akhir 1442 / 19 January 2021

Tuesday, 6 Jumadil Akhir 1442 / 19 January 2021

Jejak Panjang Konflik Armenia dan Azerbaijan

Senin 28 Sep 2020 15:39 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Foto yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Armenia, menunjukkan sebuah tank Azerbaijan yang hancur akibat serangan militer Armenia.

Foto yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Armenia, menunjukkan sebuah tank Azerbaijan yang hancur akibat serangan militer Armenia.

Foto: Armenian Defense Ministry via AP
Konflik Armenia dan Azerbaijan telah berlangsung selama beberapa dekade

REPUBLIKA.CO.ID, BAKU -- Wilayah Nagorno-Karabakh merupakan wilayah yang diperebutkan antara Armenia dan Azerbaijan. Wilayah pegunungan dan hutan lebat itu berada di jantung perselisihan bersenjata selama beberapa dekade antara Armenia dan Azerbaijan.

Di bawah hukum internasional, Nagorno-Karabakh diakui sebagai bagian dari Azerbaijan. Namun demikian, etnis Armenia yang merupakan mayoritas penduduk di Nagorno-Karabakh menolak pemerintahan Azerbaijan. Mereka menjalankan urusan mereka sendiri dengan dukungan dari Armenia, sejak pasukan Azerbaijan disingkirkan dalam perang pada 1990-an.

Pada Ahad (27/9), bentrokan sengit di Nagorno-Karabakh kembali terjadi yang memicu kekhawatiran bahwa perselisihan kedua negara dapat saja berubah menjadi perang habis-habisan.

Baca Juga

Status wilayah Nagorno-Karabakh telah diperdebatkan sejak 1918 ketika Armenia dan Azerbaijan merdeka dari kekaisaran Rusia. Dilansir laman Aljazirah, pada awal 1920-an, pemerintahan Soviet diberlakukan di Kaukasus selatan dan Nagorno-Karabakh yang berpenduduk mayoritas Armenia dan menjadi wilayah otonom di dalam republik Azerbaijan saat itu, dengan sebagian besar keputusan dibuat di Moskow. Kendati demikian, beberapa dekade kemudian, ketika Uni Soviet mulai runtuh, tampak jelas bahwa Nagorno-Karabakh akan berada di bawah pemerintahan langsung pemerintah di ibu kota Azerbaijan, Baku. Namin, etnis Armenia tidak menerima itu.

Pada 1988, badan legislatif Nagorno-Karabakh memilih untuk bergabung dengan republik Armenia, sebuah tuntutan yang ditentang keras oleh pemerintah Azerbaijan Soviet dan Moskow. Setelah runtuhnya Uni Soviet pada 1991, separatis Armenia yang didukung Yerevan merebut wilayah itu, rumah bagi minoritas Azerbaijan yang signifikan, serta tujuh distrik Azerbaijan yang berdekatan. Sedikitnya 30.000 orang tewas dan ratusan ribu lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka dalam pertempuran kala itu.

Meskipun gencatan senjata yang ditengahi secara internasional disepakati pada 1994, negosiasi perdamaian terhenti. Alhasil bentrokan sering terjadi di sekitar Nagorno-Karabakh dan di sepanjang perbatasan Azerbaijan-Armenia.

Pada April 2016, puluhan orang dari kedua belah pihak tewas dalam pertempuran paling serius di Nagorno-Karabakh selama bertahun-tahun. Bentrokan terbaru pada Ahad juga menyebabkan korban jiwa dari kedua belah pihak, termasuk warga sipil.

Bentrok itu terjadi menyusul gejolak di sepanjang perbatasan Azerbaijan-Armenia pada Juli, yang menewaskan sedikitnya 17 tentara dari kedua sisi. Konflik berkepanjangan telah mengkhawatirkan masyarakat internasional sebagian karena ancamannya terhadap stabilitas di kawasan yang berfungsi sebagai koridor jalur pipa yang membawa minyak dan gas ke pasar dunia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA