Ahad 27 Sep 2020 16:02 WIB

Sempat Dibuka, Tiga Sekolah di Pangandaran Kembali Ditutup

Disdikpora Kabupaten Pangandaran telah membuka SD dan SMP sejak 21 September

Rep: Bayu Adji P/ Red: Hiru Muhammad
 Penanganan Covid-19 di Pangandaran Diapresiasi
Foto: Pangandaran
Penanganan Covid-19 di Pangandaran Diapresiasi

REPUBLIKA.CO.ID, PANGANDARAN--Sebanyak tiga sekolah di Desa Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, kembali ditutup oleh Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) setelah sempat diizinkan kembali menggelar kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka. Alasannya, di desa itu terdapat informasi adanya warga yang terkonfirmasi positif Covid-19. 

Sekretaris Disdikpora Kabupaten Pangandaran, Agus Nurdin mengatakan, tiga sekolah yang kembali ditutup itu adalah dua sekolah dasar (SD) dan satu sekolah menengah pertama (SMP). Tiga sekolah itu ditutup sejak Rabu (23/9)."Sebab, ada informasi terdapat warga positif di desa itu," kata dia Ahad (27/9).

Agus memastikan, warga yang positif Covid-19 itu bukanlah guru atau siswa, melainkan masyarakat biasa. Ia menyebutkan, orang yang terpapar Covid-19 itu adalah warga Bandung, tetapi memiliki rumah di Desa Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran."Ketika diketahui positif, saya putuskan tutup sekolah di daerah itu. Sampai saat ini masih ditutup, kita tunggu tim melakukan penelusuran," ujar dia.

Menurut Agus, tim pengamat sudah melakukan penelusuran dan melakukan uji usap (swab test) kepada kontak erat pasien itu. Namun, hasilnya masih belum diketahui. Jika semua negatif, pihaknya akan kembali membuka lagi sekolah. Disdikpora Kabupaten Pangandaran sebenarnya telah membuka seluruh sekolah tingkat SD dan SMP sejak Senin (21/9). Terdapat 280 SD dan 51 SMP yang diizinkan kembali menggelar KBM tatap muka secara terbatas. 

Sejauh ini, Agus mengatakan, proses berjalannya KBM tatap muka berjalan kondusif. Menurut dia, evaluasi akan dilakukan setiap dua pekan. Artinya, baru pekan depan evaluasi secara menyeluruh akan dilakukan. 

Kendati demikian, Disdikpora tetap melalukan pemantauan ke sekolah-sekolah saat melakukan KBM. Dari hasil pemantauan itu, baru pekan depan akan dilakukan evaluasi untuk memutuskan kelanjutannya."Saat ini sudah hampir semua sekolah tingkat SD dan SMP diperbolehkan tatap muka. Namun, hari Rabu kemarin ada dua SD dan satu SMP di Desa Sukaresik saya tutup kembali," kata dia.

Agus menjelaskan, proses KBM di sekolah masih dilakukan secara terbatas. Hanya 50 persen siswa yang diperbolehkan datang ke sekolah. Dalam praktiknya, siswa dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama belajar di sekolah, sementara sisanya belajar di rumah. Kelompok itu akan bergantian belajar di sekolah dan di rumah.

Menurut dia, protokol kesehatan selama siswa melakukan KBM tatap muka di sekolah dipastikan berjalan dengan baik. Seluruh siswa dan guru juga dibagikan masker dan pelindung muka (face shield) oleh Disdikpora. "Mudah-mudahan aman dan tidak ada kasus dari sekolah," kata dia.

Sementara untuk tingkat SMA dan SMK, Agus mengatakan, hingga saat ini belum mengetahui apakah KBM tatap muka sudah berjalan atau belum. Namun, menurut dia, Kantor Cabang Dinas Pendidikan (KCD) Jawa Barat telah melakukan simulasi KBM tatap muka di SMA.

Berdasarkan data terakhir Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran, terdapat 63 kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di wilayah itu. Sebanyak 62 orang telah dinyatakan sembuh dan satu orang masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Dari keseluruhan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Pangandaran, tak ada ada kasus meninggal. Berdasarkan data Pusat Informasi dan Koordinasi Covid-19 Jawa Barat hingga Sabtu (26/9), Kabupaten Pangandaran masih termasuk zona kuning atau risiko rendah penyebaran Covid-19. 

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement