Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Selandia Baru Non-Muslim, Tapi Mengapa Paling Islami?   

Ahad 27 Sep 2020 14:31 WIB

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan / Red: Nashih Nashrullah

Selandia Baru masuk negara dengan indeks Islami yang paling tinggi.  Petugas kepolisian berjaga di depan Masjid Wellington.

Selandia Baru masuk negara dengan indeks Islami yang paling tinggi. Petugas kepolisian berjaga di depan Masjid Wellington.

Foto: Antara/Ramadian Bachtiar
Selandia Baru masuk negara dengan indeks Islami yang paling tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menengok ke belakang saat penembakan massal di dua Masjid Christchurch pada Maret lalu, Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern menyatakan sikapnya. 

Pasalnya, penembakan yang menewaskan 60 jamaah itu, telah mengubah pandangan pulau di Pasifik tersebut menjadi pusat perhatian dunia Islam.

"Kita adalah satu,’’ ujar dia kala itu, dikutip ozy Ahad (27/9). 

Baca Juga

Menanggapi itu, warga Selandia Baru juga langsung bereaksi dengan berkumupul tanpa mengindahkan warna kulit atau keyakinan beragama. Tujuannya hanya satu, berduka pada Muslim yang populasinya hanya satu persen di negara tersebut.  

Atas dasar itu, organisasi nirlaba yang berbasis di AS, Islamic Foundation, menyusun Indeks Islami. Berdasarkan informasi, indeks itu membandingkan berbagai pemerintahan di dunia yang mengatur seberapa baik mereka mematuhi prinsip-prinsip Islami yang ditetapkan Alquran. Termasuk di antaranya adalah proses keuangan tanpa bunga, kesetaraan pendidikan, hak milik. Namun, mereka tidak memasukan kewajiban Muslim seperti sholat, puasa, dan haji. 

Hossein Askari, seorang ekonom perdagangan yang menggagas indeks tersebut memang berfokus pada keuangan Islam. Meskipun, belakangan santer kontroversi ungkapannya yang menyebut jika Islam dibajak ulama dan penguasa untuk kepentingan masing-masing, utamanya setelah meninggalnya Nabi Muhammad SAW.    

Jauh setelahnya, dalam survei terbaru mereka, negara dengan peringkat tertinggi dengan kategori mayoritas Muslim adalah Uni Emirat Arab di No 45. Sedangkan yang terendah adalah Yaman, di mana Islam menjadi agama negara.

Sebaliknya, Selandia Baru yang tidak memiliki agama resmi, dan lima juta penduduknya yang bermayoritas Kristen, diklaim mendapat skor tertinggi dalam beberapa indeks, termasuk UU antirasuah dan ketentuan untuk mengentaskan kemiskinan dan lainnya.

Dalam indeks itu, yang diukur adalah empat bidang utama, ekonomi, hukum dan pemerintahan, hak asasi manusia dan politik, serta hubungan internasional. Tiga yang pertama masing-masing diberi bobot 30 persen. Sedangkan hubungan internasional, atau bagaimana setiap negara berinteraksi dengan dunia, diberi bobot 10 persen.

“Saya melihat sekeliling pada ajaran Islam utama. Alquran mengatakan seharusnya tidak ada kemiskinan, jadi kami melihat semua indeks kemiskinan, ”kata Askari. 

Dirinya menyebut, negara-negara Muslim kurang baik dan bahkan cenderung buruk dalam merealisasinya. Malaysia, sambungnya, memang melakukan standar yang baik secara keseluruhan, meski korupsi dan hak asasi manusia masih bisa ditemukan.

Terpisah, Direktur Program Studi Timur Tengah di University of Houston dan direktur pendiri Asosiasi Studi Alquran Internasional, Emran El-Badawi,  tak menampiknya. Walaupun, secara keseluruhan dia menegaskan bahwa indeks itu sebenarnya bisa jadi pelajaran bahwa semua pihak tidak bisa memisahkan Timur dan Barat, ataupun Muslim dan non-Muslim. 

“Ketika kita berpikir tentang imajinasi Barat, kita memikirkan Thomas Jefferson, yang menciptakan ungkapan 'hidup, kebebasan, dan mengejar kebahagiaan.' Tapi ada banyak literatur tentang prinsip-prinsip yang sama yang muncul dari dialog dengan Islam klasik. Ini adalah dialog yang konstan, penyerbukan silang. " ungkap dia.

Lebih lanjut, negara-negara lainnya, seperti Tunisia turun dari No 75 dalam indeks 2017 menjadi 86 tahun lalu. Hal serupa juga terjadi di Lebanon, dan Irak.

Menyoal Arab Saudi yang dipandang Barat sebagai pemimpin dunia Islam, Hamid dan indeks itu mengungkapkan, Arab Saudi merosot tiga urutan menjadi No 85. Hal itu dikarenakan HAM dan politik, meski didukung kekuatan ekonomi.

“Arab Saudi hampir menjadi negara totaliter. Ini adalah perkiraan terdekat dengan satu di Timur Tengah dan Afrika Utara, bersama dengan Mesir dan Suriah, dengan pemantauan penuh atas setiap pemikiran,” kata Hamid.

Bagaimana dengan Indonesia? 

Hamid menjelaskan, negara mayoritas Muslim terbesar di dunia ini naik 10 peringkat pada 2018 menjadi 64. Walaupun, masih ada beberapa kekhawatiran dalam beberapa tahun terakhir. “Termasuk kasus penistaan yang melibatkan mantan gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Selain dari kerusuhan pascapemilu yang disebut-sebut dipimpin kelompok Islam garis keras,’’ ungkap dia.

Sementara Malaysia, negara tetangga Indonesia yang juga mayoritas Islam, turun empat peringkat ke 47 di tahun yang sama. Urutan itu, menjadi urutan ketiga di antara negara-negara Muslim. 

Sumber: https://www.ozy.com/news-and-politics/the-most-islamic-country-is-new-zealand/94801/

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA