Thursday, 12 Rabiul Awwal 1442 / 29 October 2020

Thursday, 12 Rabiul Awwal 1442 / 29 October 2020

Mahmoud Abbas Minta PBB Gelar Konferensi Perdamaian Dunia

Sabtu 26 Sep 2020 11:49 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah

Mahmoud Abbas Minta PBB Gelar Konferensi Perdamaian Dunia. Presiden Palestina Mahmoud Abbas

Mahmoud Abbas Minta PBB Gelar Konferensi Perdamaian Dunia. Presiden Palestina Mahmoud Abbas

Foto: AP Photo/Mohamad Torokman
Abbas mengkritik keputusan dua negara Arab menormalisasi hubungan dengan Israel.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyerukan konferensi internasional awal tahun depan untuk meluncurkan proses perdamaian sejati. Ia juga mengkritik keputusan baru-baru ini dari dua negara Arab yang menormalisasi hubungan dengan Israel.

Dalam pidatonya di depan Majelis Umum PBB pada Jumat (25/9), Abbas tampaknya mengakui kelelahan internasional yang semakin meningkat dengan konflik yang telah berlangsung puluhan tahun. "Saya ingin tahu apa lagi yang bisa saya katakan setelah semua yang saya katakan dalam banyak kesempatan," kata dia dilansir di Arab News, Sabtu (26/9).

Palestina telah menolak proposal Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump untuk mengakhiri konflik yang menguntungkan Israel, dan secara resmi telah memutuskan kontak dengan AS dan Israel. Sebaliknya, mereka menyerukan proses perdamaian multilateral berdasarkan resolusi PBB dan kesepakatan sebelumnya.

Baca Juga

Mereka juga menolak keputusan Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain untuk menormalisasi hubungan dengan Israel. Mereka memandangnya sebagai pengkhianatan terhadap konsensus Arab yang telah lama ada, pengakuan Israel seharusnya hanya datang sebagai imbalan atas konsesi teritorial.

Dalam pidatonya, Abbas mengatakan, perjanjian yang ditandatangani di Gedung Putih awal bulan ini, merupakan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip solusi yang adil dan langgeng di bawah hukum internasional. Adapun Abbas berbicara di depan sebuah plakat besar bertuliskan Negara Palestina. Palestina meningkatkan status mereka menjadi negara pengamat di PBB pada  2012.

"Tidak akan ada perdamaian, tidak ada keamanan, tidak ada stabilitas, tidak ada hidup berdampingan di wilayah kami tanpa mengakhiri pendudukan. Kami tidak akan sujud. Kami tidak akan menyerah. Kami tidak akan berkompromi. Dan kami akan menang," kata dia.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA