Tuesday, 20 Rabiul Awwal 1443 / 26 October 2021

Tuesday, 20 Rabiul Awwal 1443 / 26 October 2021

Teknologi 4.0 di Pertanian Bisa Mitigasi Perubahan Iklim

Jumat 25 Sep 2020 17:19 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Dwi Murdaningsih

Petani merawat sayur yang ditanam di tempat usaha pertanian hidroponik.

Petani merawat sayur yang ditanam di tempat usaha pertanian hidroponik.

Foto: Wahdi Septiawan/ANTARA FOTO
Internet of tings sudah banyak dipakai di sektor pertanian.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sektor pertanian kini semakin maju dengan memanfaatkan teknologi 4.0. Teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan sektor pertanian sekaligus mitigasi perubahan iklim.

Pilihan inovasi teknologi rendah karbon adalah inovasi teknologi ramah lingkungan yang rendah emisi dan mendukung stabilitas dan peningkatan produksi dan produktivitas.

Guru Besar IPB Bidang Teknik Biosistem Aris Purwanto menjelaskan, saat ini IT based agriculture telah digunakan untuk crop monitoring hingga pertanian presisi. Para peneliti saat ini telah banyak menggunakan Internet of Things dalam teknologi pertanian.

"Di IPB para peneliti yang berminat mengembangkan teknologi 4.0 untuk inovasi pertanian dan pengurangan emisi gas masuk ke BRAIN (Blockchain, Robotic, Artificial Intelligence Network)," ujar Aris Purwanto dalam diskusi Webinar Low Carbon Development Indonesia (LCDI) 'Inovasi Teknologi Berbasis Rendah Karbon di Bidang pertanian', Kamis (24/9).

Pengembangan teknologi 4.0 terbukti telah banyak meningkatkan sektor pertanian. Aris mencontohkan dari penelitiannya adalah Fine Bubble Techonology yang dapat meningkatkan viabilitas benih dan mempercepat breaking dormansi.

"Bibit yang baru dipanen dan harus menunggu beberapa bulan ini bisa kita bangunkan dengan teknologi ini. Ini bisa membantu untuk mengurangi emisi karbon," ucap Aris.

Beberapa teknologi 4.0 lainnya adalah pemodelan iklim dari sistem informasi indeks inventarisasi kerentanan (SIDIK), sistem pengendali otomatis irigasi lahan produksi hingga inovasi terbaru di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menghitung emisi gas rumah kaca di lahan pertanian.

Terkait dengan pengurangan emisi gas rumah kaca, alat ini bisa dipasang di berbagai lokasi sehingga emisi gas bisa dimonitor secara real time. Dengan demikian, apabila emisi gas dinilai melebihi batas yang ditetapkan, maka akan bisa segera diintervensi.

Peneliti Balai Penelitian Tanah Balitbang Kementan Al Dariah menambahkan bahwa penerapan teknologi 4.0 telah banyak digunakan dalam hal pengembangan kalender tanam. Kalender tanam yang ada saat ini dikembangkan dengan menggunakan big data dan diolah oleh artificial intelligence dan dapat diakses dengan menggunakan android.

"Jadi bisa langsung diakses petani langsung di lapangan. Penggunaan kalender tanam tradisional dengan adanya penyimpangan musim akan sulit diimplementasikan. Ini sangat memudahkan," ujar Al Dariah.

Selain itu, ada lagi teknologi soil sensing yang berhubungan dengan aspek adaptasi, serta inovasi teknologi presisi, misalnya pengembangan pompa bertenaga surya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA