Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Covid Membuat Perekonomian Benua Afrika Makin Sulit

Jumat 25 Sep 2020 14:34 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Warga mengantre untuk dites Covid-19 di Johannesburg, Afrika Selatan, Kamis (7/5).

Warga mengantre untuk dites Covid-19 di Johannesburg, Afrika Selatan, Kamis (7/5).

Foto: AP Photo/Themba Hadebe
Pandemi Covid-19 membuat perekonomian negara-negara di Afrika semakin sulit.

REPUBLIKA.CO.ID, Benua Afrika sangatlah besar dengan kepadatan penduduk yang tinggi. Kendati terdapat 54 Negara di Benua tersebut, sayangnya masyarakat yang hidup di Afrika rata-rata miskin.

Investasi, pertumbuhan pendidikan, kesehatan, dan sumber daya manusia adalah beberapa faktor yang membuat negara-negara di Afrika miskin. Efek dari pandemi Covid-19 membuat Afrika semakin miskin karena sejumlah faktor, salah satunya hilangnya banyak lapangan kerja. Walaupun begitu, benua Afrika memiliki potensi yang sangat besar. Dengan 1,2 miliar penduduk, benua Afrika memiliki potensi besar untuk dapat berkembang dengan cepat.

Benua Afrika merupakan benua terbesar kedua di dunia. Ukurannya meliputi 20,3 persen dari seluruh total daratan bumi atau setara dengan 30.224.050 km persegi. Di Afrika terdapat banyak objek wisata mendunia, seperti sungai Nil, gurun Sahara, dan gunung Kilimanjaro. Sayangnya Afrika dikenal sebagai benua miskin. Dengan jumlah penduduk mencapai 1,2 miliar jiwa, sekitar satu setengah dari penduduknya itu hidup di bawah garis kemiskinan dan 15 persennya tidak memiliki pekerjaan. Pada 2016, Gross Domestic Product atau GDP per kapitanya menurun sebesar 11 persen, meski pada 2019 sudah membaik.

Sebelumnya, lembaga keuangan multilateral memperkirakan Afrika akan terjerat resesi dengan penurunan laju PDB sebesar 1,7 hingga 3,4 persen pada tahun ini, proyeksi itu merosot 5,6 hingga 7,3 poin persentase dari perkiraan sebelum pandemi. Dalam laporan African Economic Outlook dijelaskan, sekitar 425 juta penduduk Afrika sebelumnya sudah hidup di bawah garis kemiskinan internasional, dengan pendapatan sekitar 1,9 dolar AS per hari pada 2020. Pada masa covid-19, krisis kesehatan dan penutupan wilayah (lockdown) semakin memukul perekonomian, lapangan kerja dan pendapatan warga hingga AfDB memprediksi wabah corona bakal menghilangkan sekitar 24,6 juta hingga 30 juta lapangan pekerjaan di Afrika.

Kendati demikian, sesungguhnya Benua Afrika mempunyai banyak sumber daya yang dapat digunakan untuk membuat banyak hal. Tidak hanya itu, mereka juga mempunyai 1,2 miliar penduduk yang bisa menjadi pasar yang sangat potensial bagi berbagai produk. Dengan potensi-potensi ini, Afrika seharusnya bisa memulai untuk membuat bangunan industri. Sayangnya mereka tidak mempunyai ekonomi yang kuat dan membutuhkan bantuan oleh negara lain.

Indonesia merupakan salah satu negara yang cocok bagi mereka untuk membantu ekonomi dan pembangunan Industri mereka. Indonesia juga membantu mengimport atau menyalurkan barang-barang agar mereka bisa melakukan pembangunan. Tapi bukan Indonesia saja yang ingin menjadi relasi bisnis agar saling membantu untuk perekonomian negara-negara berkembang.

Tidak hanya faktor ekonomi yang meninggi karena perjanjian bisnis antar negara, banyak negara-negara di Afrika yang mulai berkembang setelah pemerintahan berganti rezim. Sejumlah negara yang memiliki pemimpin diktaktor selesai dan berdampak positif pada perekonomian negara. Tak hanya itu, angka korupsi mereka pun turun dan semua perubahan ini terjadi hanya dalam waktu enam bulan, Afrika mulai berjaya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA