Monday, 2 Rabiul Awwal 1442 / 19 October 2020

Monday, 2 Rabiul Awwal 1442 / 19 October 2020

Raja Malaysia Belum Bisa Temui Anwar Ibrahim

Jumat 25 Sep 2020 14:20 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah

Pemimpin oposisi Malaysia Anwar Ibrahim.

Pemimpin oposisi Malaysia Anwar Ibrahim.

Foto: EPA-EFE / AHMAD YUSNI
Raja Malaysia masih menjalani perawatan di rumah sakit.

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah harus menjalani perawatan di rumah sakit selama sepekan mendatang. Dengan demikian, dia tidak akan menerima tamu atau melakukan pertemuan dengan siapa pun, termasuk Presiden Partai Keadilan Rakyat Anwar Ibrahim.

“Yang Mulia telah dinasihati oleh dokternya untuk tetap di (rumah sakit) selama tujuh hari untuk observasi. Jadi sampai saat itu, dia tidak akan ada pertemuan,” kata pengawas keuangan istana Ahmad Fadil Shamsuddin kepada Reuters pada Jumat (25/9).

Anwar Ibrahim tengah menanti jadwal pertemuan dengan Sultan Abdullah. Dia mengklaim  telah memperoleh dukungan kuat mayoritas parlemen untuk membentuk pemerintahan baru. “Kami memiliki mayoritas yang kuat dan tangguh. Saya tidak berbicara tentang empat, lima, enam (kursi), saya berbicara tentang lebih dari itu," kata Anwar dalam sebuah konferensi pers pada Rabu (23/9).

Anwar memang tidak memberikan angka spesifik, tapi dia menyebut dukungan terhadapnya mendekati dua pertiga dari 222 anggota parlemen. Dengan dukungan sebanyak itu, Anwar mengatakan posisi Muhyiddin Yassin sebagai perdana menteri Malaysia saat ini telah jatuh.

"Dengan dukungan yang jelas dan tak terbantahkan serta mayoritas di belakang saya, pemerintahan yang dipimpin oleh Tan Sri Muhyiddin Yassin telah jatuh," ujarnya, dikutip the Star Online.

Raja sebenarnya hanya memainkan peran seremonial di Malaysia. Namun ia bisa menunjuk perdana menteri yang menurutnya kemungkinan akan memimpin mayoritas di parlemen. Ia pun dapat membubarkan parlemen dan memicu pemilihan atas saran perdana menteri.

Anwar membantah jika keputusannya mengumumkan dukungan mayoritas parlemen merupakan langkah untuk membentuk pemerintahan pintu belakang. Saat ditanya apakah mantan perdana menteri Malaysia Mahathir Mohamad akan bergabung mendukungnya, Anwar belum berani memastikan berkata. "Dia (Mahathir) mungkin memutuskan nanti," ucapnya.

Sementara itu Muhyiddin mempertanyakan klaim Anwar Ibrahim tentang dukungan mayoritas parlemen. “Dia membuat pernyataan dan ketika ditanya tentang jumlah pendukung dan siapa yang telah memberikan pernyataan dukungan menurut undang-undang, dia hanya mengatakan menunggu jawaban,” kata Muhyiddin.

Muhyiddin sebenarnya berada di partai yang sama dengan Mahathir Mohamad, yakni Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM). Namun dia telah bergandengan tangan dengan United Malays National Organisation (UMNO) dan Malaysian Islamic Party untuk memperoleh dukungan sebagai perdana menteri pada Februari lalu.

Pada pemilu Malaysia dua tahun lalu, UMNO tergabung dalam koalisi Barisan Nasional. Mereka mengusung pejawat Najib Razak sebagai perdana menteri. Keputusan Muhyiddin bermitra dengan UMNO telah dikritik Mahathir.  Ia pun merasa dikhianati dan kini telah mendirikan partai baru.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA