Wednesday, 4 Rabiul Awwal 1442 / 21 October 2020

Wednesday, 4 Rabiul Awwal 1442 / 21 October 2020

5 Cara Setan Goda Manusia Kala Ibadah kepada Allah SWT

Jumat 25 Sep 2020 09:38 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah

Terdapat 5 cara setan menggoda umat manusia saat berbuat baik. Ilustrasi beribadah

Terdapat 5 cara setan menggoda umat manusia saat berbuat baik. Ilustrasi beribadah

Foto: Yogi Ardhi/Republika
Terdapat 5 cara setan menggoda umat manusia saat berbuat baik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Setan tidak akan pernah berhenti untuk menyesatkan manusia. Dari segala arah mereka menggoda dan terus berusaha untuk menjerumuskan manusia. Setan sendiri memiliki rekayasa dan tipu daya terhadap manusia yang taat.  

Seperti dijelaskan dalam kitab Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali, setan akan menggoda umat manusia saat melaksanakan ketaataan dengan beragam cara, antara lain sebagai berikut: 

Pertama, yaitu setan akan menghalangi seorang hamba untuk berbuat ketataan. Jika Allah SWT melindunginya dari bujukan ini, setan menyuruhnya untuk menunda-nunda amal.

Baca Juga

Kedua, jika Allah SWT menyelamatkannya dari hal itu (tipu daya yang pertama), maka setan akan mendorongnya untuk tergesa-gesa.

Ketiga, ketika Allah menyelamatkannya dengan dari rekayasa itu, setan pun memerintahkan untuk menyempurnakan amal dengan tujuan riya.

Keempat, apalabila Allah menyelamatkannya dari rekayasa itu, maka setan memasukkan sikap ujub ke dalam hatinya.

Kelima, ketika setan melihat hal itu padanya, ia pun meyuruh hamba untuk bersungguh-sungguh dalam kesendirian, seraya berkata, “Sesungguhnya Allah akan menampakkannya padamu.” Dengan perkataan ini, setan menghendaki terbentuknya sikap riya.

Lebih lanjut, Imam Ghazali menjelaskan, jika seorang hamba mencukupkan diri dengan ilmu Allah SWT maka ia akan selamat dari setan. Jika hamba tidak mematuhi setan dalam semua itu, dan setan tidak mampu lagi menggodanya, ia pun berkata,

“Engkau tak memerlukan amal ini. Karena, jika engkau diciptakan sebagai orang yang bahagia maka meninggalkan amal tak akan membahayakanmu. Dan jika engkau ditakdirkan sebagai orang yang sengsara  maka amal ini tak akan berguna untukmu.”

Dengan demikian, jika Allah melindungi hamba-Nya dari rekayasa ini, ia akan berkata, “Aku adalah hamba, dan seorang hamba wajib mengikuti perintah Tuannya. Sedangkan Sang Tuan bisa berbuat apa saja dan memutuskan sekehendak-Nya,”  Maka, atas pertolongan Allas SWT ia selamat dari setan. Wallahu a'lam bi as-shawab.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA