Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Pekerja Medis Jadi Prioritas Vaksin Covid-19?

Jumat 25 Sep 2020 00:23 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah

Pekerja medis termasuk kelompok rentan terhadap virus Covid-19 (Foto: ilustrasi pekerja medis)

Pekerja medis termasuk kelompok rentan terhadap virus Covid-19 (Foto: ilustrasi pekerja medis)

Foto: reuters
Pekerja medis termasuk kelompok rentan terhadap virus Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, KALIFORNIA -- National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine merilis rancangan proposal untuk distribusi vaksin di Amerika Serikat. Menurut mereka, pekerja medis dan orang yang rentan seperti orang tua dan yang memiliki penyakit bawaan termasuk pada kelompok prioritas mendapatkan vaksin.

Kelompok tersebut membentuk rancangan proposal atas permintaan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), yang memperkirakan ada sekitar 17 juta hingga 20 juta petugas kesehatan di AS.

"Petugas kesehatan berada di garis depan. Jadi menempatkannya sebagai prioritas vaksin adalah tepat, guna mencegah kematian dan penyakit lebih parah," demikian pernyataan mereka.

Namun demikian, usulan agar petugas kesehatan menjadi prioritas vaksin mendapat tanggapan beragam dari para dokter. Hal itu terlihat dalam sebuah pertemuan Komite Penasihat Vaksin Nasional Amerika Serikat (AS) pada Rabu waktu setempat.

Ketua Departemen Etika Medis dan Kebijakan Kesehatan di University of Pennsylvania, Dr Ezekiel Emanuel menilai bahwa pertugas kesehatan tidak terlalu prioritas karena selama bekerja mereka dilindungi oleh alat pelindung diri (APD). Memiliki akses ke APD yang memadai, akan mengurangi risiko tertular virus.

"Setidaknya di rumah sakit kami, penularan dari pasien ke dokter dengan APD adalah nol," kata Emanuel.

Dia mencatat bahwa menempatkan semua petugas kesehatan di kelompok prioritas mungkin tidak dibenarkan karena saat ini masih pandemi. Namun, pertimbangan lebih lanjut diperlukan untuk menentukan dengan tepat pekerja mana di dalam rumah sakit yang paling berisiko terhadap infeksi.

“Pekerjaan berisiko tinggi apa yang harus mendapat prioritas pertama. Jadi menurut saya, kita harus melakukan pemetaan yang serius untuk hal ini," ungkap Emanuel seperti dikutip dari CNBC, Kamis (24/9).

Anggota panel lainnya mencatat bahwa petugas kesehatan mungkin masih berisiko tinggi karena tidak semua orang memiliki akses ke APD. Itu mungkin termasuk petugas kesehatan rumah, asisten perawat, keamanan rumah sakit atau staf yang mengantarkan makanan kepada pasien yang sakit.

APD mengacu pada alat pelindung diri, seperti masker, sarung tangan, dan baju pelindung yang digunakan untuk mencegah penyebaran penyakit menular.

“Sejak awal pandemi, banyak pekerja garis depan telah bekerja di lingkungan tempat mereka terpapar virus, seringkali tanpa APD yang memadai," kata petugas layanan intelijen epidemi dengan Divisi Penyakit Viral CDC, Dr Sara Oliver.

“Meskipun kita telah mengerahkan agar semua petugas mendapat APD, tapi saya tidak tahu bahwa itu sepenuhnya menghilangkan pentingnya perlindungan petugas kesehatan lebih awal denhan vaksin," tambah dia.

Emanuel mencatat, jika petugas kesehatan tertentu lebih berisiko daripada yang lain, maka rencana distribusi harus secara khusus memprioritaskan kelompok berisiko tersebut. Menempatkan petugas kesehatan secara umum di kelompok prioritas tetaplah tidak dibenarkan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA